Jelajah Kampung, Menghabis Sore di Danau Nibung



PAGI itu, matahari terlihat malu-malu. Tanah masih basah, akibat guyuran hujan sejak subuh. Mungkin pengaruh dingin, warga masih duduk termangu di beranda rumah. Sebagian anak-anak muda, sibuk menunduk. Nampak sekali, mereka lebih bahagia dengan android-nya. Maklum, generasi millenial.

Aku, hanya berdiri terpaku di depan rumah berlantai ubin. Maklum, baru sampai di kampung halaman setelah hujan reda usai subuh. Sudut-sudut bola mataku sedikit liar, melihat suasana Desa Sungai Rengas, Kecamatan V Koto Mukomuko, Provinsi Bengkulu yang sudah lumayan lama kutinggalkan. Sudah beberapa tahun, aku mengadu nasib di ranah Minang.

Waktu bergulir. Tepat pukul 10.30, mentari mulai tampil sumringah. Semakin meninggi. Sinarnya mulai menghisap peluh di pucuk daun. Suasana kampung kian terasa lengang. “Orang-orang sudah ke ladang semua Nak. Bentar lagi, Amak juga mau ke ladang. Kamu ikut?,” tanya Amakku.

Aku menggeleng. “Aku ingin menikmati suasana kampung. Nanti sore, aku mau jalan-jalan ke tempat wisata danau Mak,” lanjutku. Amak mengizinkan, sebab aku memang sudah lama tidak pulang kampung. Di rantau, aku kerja sebagai buruh tulis. Menulis berita untuk khalayak, meskipun daya baca di tanah air masih diurutan ke-60 dari 61 negara.

Tidak terasa, mentari menanjak naik. Panasnya mulai menggigit di ubun-ubun. Kemudian kembali redup seiring posisinya yang condong ke arah barat. Pukul 14.00 WIB gas motor dilajukan ke arah Danau Nibung. Rasanya sudah tak sabar menikmati indahnya danau primadona Kapuang Sakti Ratau Batuah itu. Tapi aku juga tidak ingin terlalu terburu-buru.




Aku menikmati setiap perjalanan. Suasana kampung yang di keliling perkebunan sawit. Maklum, beberapa tahun belakangan masyarakat di sana memang lebih banyak menggarap kebun sawit. Pohon-pohon karet yang menjulang sebelumnya hampir habis ditebang. Tak heran, suasana kampung memang mulai sedikit gerah.

Sebelum sampai ke Danau Nibung, roda motor matic yang aku kendarai melewati beberapa desa. Terutama desa-desa transmigrasi yang digagas zaman Presiden Soeharto sejak 1967 silam. Penduduk di wilayah Danau Nibung ini banyak asalnya dari Jawa dan Sunda.

Oh ya, penghuni daerah perbatasan Sumatera bagian utara ini, sebagian besar transmigrasi dari Jawa, Sunda, dan Minang. Selebihnya dari Melayu, Rejang, Serawai, Lembak, Bali, dan Bugis. Penduduknya memang heterogen, dan mayoritas sudah berbaur atau menikah dari berbagai suku. Tapi itu tak penting, sebab bukankah perbedaan yang melahirkan persatuan?

Mentari mulai menyelinap di dedaunan perkebunan sawit. Sinarnya tak sehangat dua jam sebelumnya. Roda motor menggelinding pelan menuju tujuan. Jalan lurus, sedikit berkelok dan sedikit ada permukaan tanjakan. Tapi sangat mulus. Tak sampai waktu 20 menit, sudah sampai di Desa Ujung Pandang Kecamatan Mukomuko Utara, lokasi Danau Nibung itu terpancang.

Disambut Kicauan Burung
Kicauan beragam burung menyambut kedatanganku di gerbang Danau Nibung. Kawasan pariwisata primadona di daerah Mukomuko itu memang asri. Selain jalannya mulus dan mudah diakses, di kawasan Danau Nibung ini masih hijau dan rindang. Hidup terasa nyaman dan damai. Lega rasanya.

Aku berdecak kagum. Mataku nyaris tak berkedip menyaksikan keindahan danau kebanggaan masyarakat Mukomuko itu. Panorama alam di kawasan danau, dikelilingi hutan tropis. Di kawasan ini, dikala beruntung kita bisa menlihat beberapa satwa liar, sambil menyaksikan burung mengintai ikan di permukaan danau.

Empat tahun yang lalu, kawasan danau ini masih hutan dan semak belukar. Akses menuju danau pun masih sulit. Nampaknya dua tahun belakangan, pemerintah setempat mendengarkan instruksi pemerintah pusat, agar setiap daerah bisa membangkitkan gairah sektor pariwisata.

Tak khayal, saat ini Danau Nibung terus mengalami peningkatan bahkan menjadi destinasi unggulan. Bukan hanya dikunjungi wisatawan penduduk lokal, tapi juga sudah menjadi daya tarik bagi daerah lain. Mulai wisatawan dari Kota Bengkulu, Sumatera Barat, Kerinci, Jambi, hingga ada wisatawan dari negara Asing.



“Dulu memang hutan lebat di sini, hanya dijadikan tempat mancing saja, binatang buas masih banyak waktu itu. Kalau sekarang, pemukiman penduduk sudah dekat di danau ini,” cerita Umar (55), penyewa biduk (kapal bercadik) di tepian danau.

Pria berambut ikal dan mulai beruban itu meneruskan ceritanya. Danau ini “hidup” untuk pariwisata, mulanya dari penduduk setempat. Namun pertamakalinya, danau ini masih jalan setapak. Tapi kini, pengunjung danau setiap harinya makin ramai. Kalau hari libur ratusan orang berwisata di kawasan ini.

“Sekarang makin banyak pengunjungnya. Alhamdulillah, bisa menambah penghasilan saya. Kalau liburan panjang, seperti libur sekolah, apalagi tahun baru dan hari raya, ribuan bahkan jutaan orang datang ke sini,” ungkapnya dengan sumringah.

Pak Umar, dulu kerjanya pelaut di Mukomuko. Namun semenjak Danau Nibung mulai ramai pengunjung, dia lebih fokus melayani wisatawan mengelilingi permukaan danau dengan biduk bercadik, atau sejenis biduk kecil miliknya. Hanya menarik biaya Rp10.000 per orang, dia bisa membawa rupiah pulang ratusan ribu per harinya.

Aku pun, tertarik mengelilingi danau itu dengan menaiki biduk yang dikemudi Pak Umar. Tak lupa beberapa memotret beragam momen. Minimal untuk dipromosikan melalui history whatsapp, atau history instagram. Banyak yang berkomentar tempatnya indah, dan tertarik dengan eksotisnya Danau Nibung ini.


Beragam Spot Foto Kekinian
Selain akses jalan, beberapa spot di kawasan danau mulai dipoles. Beberapa meter dari bibir danau juga dibangun tembok dan pagar besi. Uniknya lagi, di kawasan danau ini juga ada berbagai spot-spot foto yang menarik. Tentu ini untuk menarik perhatian wisatawan, terutama generasi millenial.

Waktu makin bergulir. Pukul 16.00 WIB, mentari mulai beranjak turun. Suasana danau mulai memanggil gigil. Kulit terasa dingin apalagi dihembus angin yang sepoi-sepoi. Namun pengunjung semakin banyak yang datang. Terutama generasi muda, generasi millenial masa depan bangsa. Tapi banyak juga pengunjung berkeluarga.

Bersantai disitu, sangatlah nyaman. Danau Nibung ini memang mantap tempat nongkrong dikala sore. Pengunjung, termasuk aku tidak mau ketinggalan momen. Beberapa spot foto tak lupa aku bidik, atau selfie-selfie dengan ponsel ala anak muda kekinian. Kemudian, diposting di instagram.

Ada beberapa latar foto kekinian di kawasan ini, ada foto berbentuk love, bunga-bunga, atau hanya baground permukaan danau saja. Tapi kalau pelancong ingin yang lebih trend dan unik, pengelola wisata juga menyediakan pakaian ala Korea, hanya dengan biaya Rp15.000 saja per orang.



Bukan itu saja, jika ingin mengelilingi Danau Nibung juga bisa. Di pinggir danau, sudah siap beberapa boat atau kapal kecil untuk mengitari danau. Hanya dengan biaya Rp10.000 per orangnya, pengunjung dibawa berkeliling sepuasnya. Sambil foto-foto menikmati setiap sudut danau.

Bagi traveller yang punya drone, bisa memotret atau membuat video dokumentasi yang apik tentang Danau Nibung. Misalnya dengan membidik kamera dari atas. Semua permukaan danau akan tampak membentang, sudut-sudut teluk sangat indah. Bisa terlihat seperti bintang.

Tahun 2011, aku pernah menulis asal-usul Danau Nibung ini sebagai tugas folklor. Judulnya Kisah Danau Nibung. Cerita yang ditulis berdasarkan beberapa wawancara dengan masyarakat waktu itu. Tapi sekali lagi, tulisan itu hanya cerita. Banyak versi cerita asal-usul Danau Nibung ini. Tak perlu terlalu diyakini, itu hanya dongeng, sebab tidak ada yang tahu pasti kejadiannya.





Mudah Diakses
Danau Nibung ini memang sedang naik daun. Luasnya 38,3 hektar, hanya berjarak 4 kilometer dari pusat Kota Mukomuko. Bagi yang berminat menikmati Danau Nibung ini, aksesnya sangat gampang. Jalannya sudah mulus. Jika pelancong dari luar Bengkulu, bisa menempuh dua jalur, yakni jalur darat dan jalur udara.

Misalnya, kalau menggunakan jalur darat bisa menggunakan maskapai Batik Air, Citilink, Garuda Indonesia, Lion Air, NAM Air, Sriwijaya Air, Susi Air, Wings Air, dan Xpress Air. Kalau ingin harga tiket lebih murah, bisa dengan aplikasi Traveloka, Pegi-pegi, Agoda, Tiket.com, dan sejenisnya, menuju Bandara Fatmawati Soekarno, Kota Bengkulu. Bisa juga mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Sumbar.

Bila ingin menuju Kota Mukomuko langsung, bisa menempuh jalur udara menggunakan pesawat Susi Air, dan langsung mendarat di Bandara Mukomuko. Tapi jika ingin jalur darat dari Kota Bengkulu, bisa naik travel dengan memakan waktu minimal 7 jam, begitu pula jika dari arah Kota Padang.

Kedua jalur ini, baik dari Kota Bengkulu maupun dari Kota Padang, jalannya sudah mulus. Ketika sampai di Mukomuko dengan semboyan Kapuang Sakti Ratau Batuah, jarak Danau Nibung sangat dekat. Hanya berjarak 4 kilometer. Masuk serta parkir ke wilayah danau ini gratis. Kecuali ketika ada hiburan, libur panjang, atau liburan hari besar tertentu. 



Setiba di Mukomuko, jangan takut dengan tempat istirahat. Ada beberapa hotel yang bisa disewa, seperti Bumi Batuah Hotel, Damai Hotel, Nurlaili Hotel, Pendawa Penginapan, Sari Rasa Hotel, Teratai Hotel, Thursina Hotel, Trio Putri Hotel, dan beberapa hotel lainnya.

Begitu pula jika perut keroncongan, Rumah Makan Begadang, Sea Foods M&K, Rumah Makan Simanalagi, Rumah Makan Minang Raya, dan beragam tempat makan lainnya. Misalnya mie bakso, mieso, pecel lele dan pecel ayam, serta menu lainnya. Tapi jika beruntung, bisa juga mencicipi masakan khas randang lokan, tempoyak (asam durian), bahkan lempuk durian.


Diusulkan Destinasi Unggulan
Maka untuk membangkitkan gairah sektor pariwisata Danau Nibung ini, pemerintah setempat akan mempoles kawasan danau yang lebih bersahabat, modern, kekinian bagi kaum millenial tanpa menghilangkan keaslian alamnya. Tentu untuk mewujudkan ini, butuh anggaran yang cukup besar.

“Setidaknya, kita butuh anggaran puluhan miliar rupiah untuk membangun seluruh sarana dan prasarana, dalam pengembangan objek wisata Danau Nibung ini,” sebut Apriansyah, Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Mukomuko.

Kata Apriansyah, meskipun Mukomuko terbilang kabupaten berusianya muda, baru memasuki 16 tahun, tapi sudah mulai menggarap destinasi sektor wisata. Tak tanggung-tanggung, Danau Nibung juga diusulkan menjadi destinasi unggulan program Wonderful Bengkulu 2020.

Biar apik, ada beberapa catatan Danau Nibung ini untuk dipoles. Tentu dengan prasarana yang mendukung pula. Misalnya, tempat mandi, whudu’, atau tempat salat seperti mushalla yang memadai. Kemudian, kapan perlu harus ada hotel atau penginapan, restoran, atau rumah makan di pinggiran danau.

Tak berselang lama, mentari mulai jatuh keperaduan. Perpaduan warna eksotis di langit mulai mengelam. Sunset menghilang, pertanda malam akan tiba. Sekira pukul 17.30 WIB, aku meninggalkan Danau Nibung meninggalkan sejuta kekaguman. Sebelum esok, aku kembali ke daerah perantauan, Kota Padang.#

0 Comments