Bahasa Minangkabau Digilas Globalisasi

Semua orang sadar, hilangnya bahasa bukti lenyapnya jati diri bangsa. Namun, tidak semua orang mampu bangkit dari kesadarannya.

Sejatinya, bahasa dianggap sebagai produk budaya yang mencerminkan identitas bangsa, salah satunya bahasa daerah. Negeri yang kaya ini, memiliki berbagai jenis, ragam, atau variasi bahasa daerah sesuai kelompok penuturnya. Sayangnya, bahasa daerah kini mulai terasa asing diperdengarkan. Era globalisasi dan modernisasi telah “menendangnya” dari kehidupan. Life style menjadi ajang untuk menunjukkan identitas diri. Bahasa daerah jadi korban yang diacuhkan, termasuk bahasa Minangkabau. Betapa tidak, bangsa Indonesia memiliki sekitar 700 lebih bahasa daerah, tetapi yang tercatat oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sekitar 450 saja. Sisanya, sebagian sudah punah dan sekarang beberapa bahasa juga sedang terancam punah.
Share:

Honorer Juga Manusia

Para pendidik, khususnya guru honorer sering dilema. Mengajar bayarannya rendah, bila tak mengajar siswanya terlunta-lunta. Iba.

Siapapun, hidup dilema akan penuh beban. Hidup bagai dihadapkan pada buah si malakama, “ditelan pahit dan dibuang sayang.” Begitu pula masalah pelik tentang dunia pendidikan yang terjadi di negeri ini. Khususnya guru, lebih khusus lagi guru honorer.  Mulai dari masalah kewajiban, hak, salary, sampai tunjangan yang menyakitkan kepala. Namun ujung-ujungnya tertelan juga.
Problema tentang tenaga pendidik ini sudah lama terdengar. Namun sampai detik ini belum ada titik terangnya. Masih banyak guru yang mengeluh, dengan biaya hidup yang masih melambung tinggi, namun pendapatan dari hasil mengajar “tanpa bekas.” Penghasilan hanya “sekedar basa-basi” saja dari pihak sekolah, sedangkan dari pemerintah tidak pernah ada. Lengkap sudah penderitaan para penyandang gelar “tanpa tanda jasa” ini, “gali lobang tutup lobang” seperti yang sering dilantunkan oleh raja dangdut, Roma Irama.
Share:

TERKINI

POPULER

Ragam

TERKINI