Tak Mesti Jauh, Liburan Bersama Asus Hidup Makin Utuh

Share:

Generasi Positif untuk Indonesia Kreatif




PADANG, WWW.WAHYUKU.COMSelaku generasi muda, kita patut berbangga telah ditakdirkan sebagai orang Indonesia. Betapa tidak, kita hanya bertugas menjaga, mengelola, dan meningkatkan warisan peninggalan pendulu. Bukan sekedar menikmati saja.

Tugas mulia kita, sesungguh bukan hanya selfie, menggunggah ke media sosial, dan kemudian saling menyambut atau melempar komentar. Padahal hal yang semacam itu tiada guna, bahkan media sosial kadang hanya menjadi corong saling hina di dunia maya, hingga tidak saling sapa di dunia nyata.

Sebab itu pula, sangat perlu bijak bermedia sosial. Namun yang paling penting, sebagai generasi muda haruslah selalu berpikir positif dengan segala hal. Pasalnya, apabila berpikir negatif akan menghasilkan sesuatu negatif pula. Ibarat kata pepatah, kita akan menuai sesuai apa yang ditanam.



Gen Posting
Sesuai pemaparan Direktur Pengelolaan dan Penyediaan Media Menkominfo, Dra. Siti Meingisih, M.Sc., bahwa selaku generasi muda hendaknya menjadi Generasi Positif Thinking (Genposting) dengan menyebarkan atau membangun informasi dan konten positif serta kreatif, bukan konten negatif.

Menurut Siti, generasi muda ialah tulang punggung kemajuan bangsa. Pasalnya, generasi muda sebagai cikal-bakal yang membangun Indonesia ke depannya. Dikatakannya, generasi muda ialah kaum yang dipercaya mampu menjadi sumber motivasi, dan inspirasi banyak orang di sekitar lingkungannya hingga seluruh dunia.

Sesuai penjelasannya, bisa ditarik simpulan bahwa kuala muda hendaknya harus berupaya menciptakan inovasi-inovasi baru. Generasi muda dengan sebutan generasi milenial ini harus mampu memunculkan karya, dan prestasi gemilang, bukan malah ikut-ikutan membuat huru-hara di media sosial maupun di dunia nyata.

“Patut dicontoh sebagai motivasi, Ferri Unardi asal Padang yang mampu menciptakan Traveloka, Muhammad Al Fatih Timur asal Bukittinggi mendirikan kitabisa.com, dan puluhan anak muda dari Minangkabau serta dari daerah lainnya, yang bukan saja menjembatani kemudahan jutaan orang, karena mereka anak muda yang kreatif,” papar Siti pada acara FlashBlogging di Hotel Mercure Padang, Sumatera Barat, Jumat (30/11/2018). 

Ia juga mengakui, bahwa orang-orang dari ranah Minangkabau atau Sumatera Barat (Sumbar) memiliki kreativitas yang tinggi. Terbukti, kunjungan destinasi wisata di Sumbar meningkat, dan semakin dikenal luas di dunia. Begitu pula beragam kuliner asal Minangkabau bahkan menjadi magnet wisatawan datang ke Sumbar. Terutama untuk mencicipi randang dan Sate Padang langsung di daerah asalnya.

Ia juga mengungkapkan , bahwa pengguna internet di Indonesia kini mencapai 132,7 persen, dengan 80 juta diantaranya aktif di media sosial, dan mayoritas generasi muda. Namun sayang, sebagian besar masih banyak menyebar konten negatif, ujaran kebencian, dan radikalisme.

Padahal sejatinya sebagai generasi muda, menurut Siti seharusnya mampu menjadi generasi pembawa perubahan ke arah yang positif, yakni bermedia sosial dengan bijak, dan bertanggungjawab. Sebab, ketika menulis dan menyebar konten negatif justru akan membawa dampak cara berpikir masyarakat ke arah yang buruk.


“Jadilah kaum milenial yang produktif, dengan memanfaatkan media sosial bukan sekedar ajang berekspresi semata, tetapi juga memberi manfaat. Misalnya wadah berbisnis, menjual produk UMKM, dan lainnya untuk berdaya saing, dan menjadi taun di rumah sensiri,” pesannya di hadapan ratusan blogger di Sumbar.

Membangun Konektivitas
Tenaga Ahli Kementerian Informatika, Handoko Darta selama empat tahun perjalanan Indonesia Kreatif, kini Indonesia sudah mulai diperhitungkan dunia. Padahal katanya, selama 73 tahun nama Indonesia redup, dan hanya stagnan sebagai negara berkembang, bukan negara maju.

"Bayangkan, selama 73 tahun Indonesia telah kehilangan dua momentum sebagai sebagai negara maju, minyak bumi maupun hutan yang dulu kini hilang, tanpa hasil kecuali bagi orang-orang tertentu saja," jelasnya.

Padahal menurutnya, apabila dilihat dari Sumber Daya Alam (SDA), Indonesia sebenarnya seharusnya sudah menjadi "raja" di dunia, tapi semuanya sirna. Kini, dimasa Kabinet Kerja pasangan Jokowi-JK, Indonesia mulai bangkit dengan berbagi sekto. Baik ekonomi, infrastruktur, pariwisata, olahraga, pendidikan, dan sebagainya.

"Tidak ada negara maju tanpa infrastruktur yang bagus, makanya pemerintah sekarang sedang galak-galaknya membangun infrastruktur sebagai konektivitas semua daerah," sebutnya.


Selain itu, sampai ke daerah pelosok dan terisolir kini mulai tumbuh. Jalan-jalan mulai dibangun, listrik rasio elektrifikasi sudah mencapai 97,50 pada tahun 2018. Indeks daya saing (WEF) yang hanya 42 persen pada 2017 kini sudah meningkat. Bahkan, untuk menunjang pembangunan sektor pariwisata pemerintah juga sedang fokus menggarap pada 10 destinasi wisata.

"Selain pariwisata, di daerah pelosok 73 tahun tidak ada jalan dan listrik, kini sudah bisa diakses dan sudah mulai ada penerangan," pungkasnya.

Terkait kegiatan FlashBlogginh yang digelar Kominfo RI ini, dihadiri ratusan blogger dari berbagai daerah di Sumbar. Selain pemberian materi, juga diisi dengan hiburan, nyanyi, dan mendongeng. Tujuan kegiatan ini menciptakan generasi muda yang kreatif, inovatif, dan berpikir posting. *

#FlashBloggingPadang
Share:

Mahasiswa Didorong Ciptakan Inovasi Baru




PADANG, WWW.WAHYUKU.COM- Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) terus mendorong mahasiswa menciptakan berbagai inovasi baru. Tujuannya untuk meningkatkan daya saing bangsa dengan negara-negara lain.

Salah satu dorongan tersebut, yakni melalui Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) untuk mahasiswa, agar memiliki kreativitas dalam menciptakan inovasi-inovasi baru sesuai kebutuhan masa depan, sekaligus meningkatkan daya saing bangsa.

Menurut Direktur Kemahasiswaan Ditjen Pembelajaran Kemenristekdikti Didin Wahidin, inovasi yang baik lahir melalui sistem pembinaan yang baik pula. Tanpa pembinaan yang baik, inovasi dan kreativitas tidak akan muncul.

Pernyataan itu disampaikannya ketika membuka KMHE 2018 di Universitas Negeri Padang (UNP), Rabu (28/11/2018). Dengan harapan, KMHE ini hendaknya menjadikan seluruh masyarakat Indonesia sadar, bahwa inovasi tidak akan berkembang tanpa sistem pendidikan yang baik.

Dalam pemaparannya, saat ini Indonesia dalam bidang inovasi masih tertinggal dari negara lain. Terbukti, sampai saat ini Indonesia berada di peringkat ke-85 dari 137 negara. Tentu hal ini butuh perhatian semua pihak, baik pemerintah, institusi pendidikan, dan semua elemen masyarakat.

Meskipun begitu, ia menilai inovasi yang dilakukan oleh mahasiswa Indonesia tidak kalah dengan yang diciptakan mahasiswa Asing. Pasalnya, tim KMHE dari Indonesia bahkan sudah pernah menjadi juara dunia, bahkan tingkat Asia Tenggara dikuasai oleh mahasiswa Indonesia.



Ia menaruh harapan, KMHE ini bisa memacu motivasi mahasiswa dalam menciptakan mobil energi baru. Sesuai itu pula, pihak industri baik pemerintah atau swasta harus memanfaatkan karya mahasiswa ini agar lebih berkembang.

Pada kesemptan yang sama, Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Nasrul Abit sangat mengapresiasi KMHE 2018 ini. Ia juga ikut mendorong generasi muda, terutama mahasiswa agar terus menggali potensi diri untuk menciptakan inovasi-inovasi baru, sebagai salah satu alternatif menghadapi berkurangnya energi saat ini.

Menurutnya, inovasi baru sangat dibutuhkan, sebab di masa mendatang energi fosil semakin berkurang dan mengharuskan mencari sumber energi baru. Apalagi akhir-akhir ini banyak masyarakat yang antrian panjang hanya untuk mendapatkan bahan bakar.

Sementara Rektor UNP, Prof. Ganefri, Ph.D sebelumnya juga sudah menyampaikan agar KMHE ini bisa memacu semangat mahasiswa dalam berkreativitas, dengan melahirkan inovasi-inovasi baru. Terlebih lagi dikatakannya UNP memiliki fakultas teknik dengan jurusan otomotif dan teknik mesin.

Ia juga merasa bangga karena UNP bisa dipilih sebagai tuan rumah ajang bergengsi tingkat nasional ini. Pasalnya, sejak tahun 2004 KMHE ini dimulai, pihak UNP belum pernah berpartisipasi menjadi peserta, tapi tahun 2018 langsung terpilih sebagai tuan rumah.

Maka untuk memberikan stimulan bagi mahasiswa dan kampus lainnya, perhelatan KMHE ini bukan sekedar ajang lomba, tapi juga sebagai momen sharing pengetahuan dan knowledge antar kampus, dengan berbagi dan mengkaji berbagai inovasi, terutama terkait mobil hemat energi.*

Share:

Tanggap Bencana, Edukasi Warganya Deteksi Resikonya

Semua elemen masyarakat, instansi, dan lembaga berjibaku membersih Sungai Batang Arau Padang. (Foto: Wahyu)
PADANG, WWW.WAHYUKU.COM- Sumatera Barat (Sumbar), memang menyimpan destinasi wisata yang menakjubkan. Pasalnya Sumbar salah satu daerah yang banyak memiliki pulau-pulau kecil yang dikeliling lautan. Sebab itu pula Sumbar termasuk dalam daftar daerah yang rawan bencana, terutama di kawasan pesisir pantai.

Kota Padang salah satunya memiliki kerentanan terhadap bencana, diantaranya gempa bumi, tsunami, banjir, longsor serta bencana alam lainnya. Sesuai itu pula, sangat mutlak diperlukan pemahaman tentang deteksi dini kesiapsiagaan bencana bagi masyarakat.

Deteksi dini ini bisa dilakukan dengan berbagai pelatihan, diskusi, seminar, dan edukasi terkait pencegahan, menghadapi bencana, dan pascabencana. Misalnya dengan mengadakan berbagai pelatihan siaga bencana dalam konsep tangguh bencana. Mulai ditingkat kelurahan hingga tingkat provinsi dan pusat.

Kegiatan ini tentu untuk memperkecil resiko bencana dan siap menghadapi bencana nantinya. Setiap perwakilan tim kesiapsiagaan bencana berada di kelurahan, harus mampu menjadi perpanjangan tangan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di pusat kabupaten/kota.

Khususnya di Kota Padang, beberapa bulan yang lalu sudah berdiri Taman Edukasi Bencana (TEB) di kawasan Danau Cimpago Pantai Padang. TEB ini sebagai bentuk dan upaya yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mencerdaskan warga Kota Padang agar tanggap terhadap bencana.

Sesuai pemaparan Kepala BNPB Pusat, Wiliem Rampangilei waktu itu, TEB ini dinilai penting untuk memberi edukasi kepada masyarakat. Selain Indonesia merupakan negara yang sangat rawan bencana, kecenderungannya akan semakin meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana seiring perubahan iklim, serta cuaca adanya potensi bencana baru yang signifikan.

Pengetahuan dan kapasitas masyarakat budaya sadar bencana masih perlu ditingkatkan. Peningkatan itu harus komprehensif, salah satunya melalui edukasi masyarakat dengan menghadirkan TEB ini,” tutur Wiliem saat itu.


Dalam penuturannya, TEB ini salah satu upaya edukasi sebagai cara yang paling tepat dan paling efektif untuk meningkatkan kapasitas, pengetahuan, serta budaya sadar bencana bagi masyarakat, agar selalu siap dalam menghadapi bencana yang akan terjadi.

Selain itu, upaya ini tentu tidak bisa dihadapi sendiri. Perlu kerjasama dan sinergisitas semua pihak dalam rangka penanggulangan bencana ini, dan deteksi dini bencana, terutama dalam menimalisir resiko bencana yang akan terjadi, baik musibah gempa, longsor, dan tsunami.

Penjelasan Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit  di Hotel Pangeran Padang, Rabu (5/9/2018) pekan lalu, ada berbagai prediksi-prediksi bencana yang akan melanda Sumbar ke depannya, terutama musibah tsunami. Jika memang terjadi, tentu ini akan berdampak besar bagi Kota Padang, Pesisir Selatan, bahkan Mukomuko Bengkulu.

“Semua elemen masyarakat baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, BMKG, Basarnas, dan masyarakat harus bersinergi, serta terus menjaga koordinasi, agar masyarakat siap untuk selamat jika bencana datang,” kata Nasrul waktu itu.

Edukasi tanggap bencana ini tentu tidak hanya sebatas TEB belaka. Perlu dididik dan dilatih para fasilitator siaga bencana di berbagai daerah. Fasilitator ini nantinya akan berbagai kepada masyarakat terkait budaya sadar bencana, agar siap dalam menghadapi bencana baik itu banjir, longsor, gempa bumi, bahkan tsunami, agar

Fasilitator ini juga disiapkan dengan berbagai pembekalan, agar bisa membantu pemerintah dalam proses evakuasi warga apabila terjadi bencana, dan terlibat langsung dalam proses tanggap darurat apabila terjadi bencana dalam jumlah besar, apalagi pascabencana.

“Masyarakat harus dicerdaskan dalam pendidikan dan pelatihan tanggap bencana sebagai perpanjangan pemerintah. Minimal mereka tidak panik dan trauma ketika bencana datang, yakni kenali bahayanya kurangi resikonya,” kata Walikota Padang, Mahyeldi saat ditemui di salah satu acara beberapa pekan yang lalu.

BNPB Sumbar ikut andil dalam membersihkan Sungat Batang Arau Padang. (Foto: Wahyu)

Khusus di Kota Padang, dalam menghadapi berbagai prediksi bencana yang akan terjadi, sangat penting bagi pemerintah mensosialisasikan budaya hidup sehat, dan peduli lingkungan. Upaya ini, sebelum bencana terjadi masyarakat harus mengenali bahayanya dan mengurangi resiko bencana tersebut.

Salah satu yang sedang dilakukan pemerintah Kota Padang, ialah mulai membersihkan dan memperbaiki semua saluran air, irigasi, selokan, bahkan sungai yang ada di Kota Padang. Selain itu, tepat Sabtu 15 September 2018 ini juga akan dilakukan Aksi Bersih di hampir semua daerah di Sumbar, untuk mewujudkan Sumbar bebas sampah.

“Kegiatan ini diiniasi oleh World Cleanup Day (WCD) yang melibatkan 380 atau 5 persen populasi dunia. Khusus di Indonesia, sekitar 13 juta di 34 provinsi, sedangkan di Sumbar sekitar 250.000 orang akan ikut andil, sebagai budaya sadar bencana,” kata Muthia, seorang pagiat WCD Sumbar. *
Share:

Catat! ini Agenda Wisata Budaya Sumbar Sepanjang Agustus 2018



PARA petualang, kamu ada rencana apa di Agustus 2018 bulan depan? Jika belum punya planning, ada beberapa rekomendasi untuk mengunjungi Sumatera Barat nih. Pasalnya, Agustus 2018 ini ranah Minang menawarkan perhelatan menarik yang wajib dikunjungi.

Kabar baik ini sangat cocok bagi kamu yang suka bertualang sekaligus menikmati budaya dan pesona pariwisata di ranah Minang. Informasi dari Dinas Pariwisata Sumbar, ada lima even beragam yang ditawarkan sepanjang Agustus 2018 ini.

Even ini sebagai upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke Sumbar, dengan perhelatan berbasis budaya dan petualangan. Adapun lima even yang menawarkan eksotisme pesisir pantai dan pesona wisata petualangan yang menguras adrenalin ini, ialah sebagai berikut.

FESTIVAL DRAGON BOAT
Festival International Dargon Boat (FIDB) atau Perahu Naga ini sudah dimulai sejak tahun 2002 di Kota Padang. Jadi tahun 2018 ini merupakan yang ke-16 kalinya. Perhelatan ini setiap tahunnya digelar bulan Agustus di Banjir Kanal atau Banda Bakali kawasan GOR Agus Salim Padang.


Festival ini biasanya diikuti oleh puluhan negara. Khusus tahun ini akan diikuti oleh 10 negara, seperti China, Thailand, Singapura dan beberapa negara lainnya. Nah, bagi petualang yang berminat menyaksikan serunya FIDB ini, bisa mengunjungi Kota Padang pada 2-6 Agustus 2018 mendatang, sambil menikmati sajian seni dan budaya khas Padang.

Selain menyaksikan FIDB, di kota bingkuang kamu juga bisa menikmati lokasi wisata halal lainnya. Diantaranya kawasan Pantai Padang, Gunung Padang, Jembatan Siti Nurbaya, Pantai Air Manis, serta Masjid Raya Sumbar, sambil mencicipi berbagai kuliner khas Padang dan Minang secara umum.

SAWAHLUNTO SONGKET CARNIVAL
Kota yang terkenal sebagai Kota Wisata Tambang Berbudaya ini tidak kalah menarik dibanding kota lainnya di Sumatera Barat. Pasalnya, sejak tahun 2015 lalu kota ini mulai menggodok pariwisata dengan Sawahlunto International Songket Carnival (SISCA).


Tahun 2018 ini merupakan perhelatan yang ke-4 kalinya, yang akan digelar pada 24-26 Agustus mendatang. Even ini dilatarbelakangi dengan semangat melestarikan Songket Silungkang, melalui festival unik yang akan menampilkan pagelaran busana berbahan dasar songket.

Tidak tanggung-tanggung, tahun 2015 lalu perhelatan SISCA ini meraih rekor MURI sebagai peserta menggunakan songket terbanyak. Kemudian pada tahun 2017, festival ini termasuk sebagai 10 nominator Festival Pariwisata Terpopuler di ajang Anugerah Pesona Indonesia.

Sebagai Informasi, Songket Silungkang merupakan kain songket hasil tenunan atau kerajinan tangan masyarakat salah satu nagari di Kabupaten Sawahlunto, yakni Nagari Silungkang. Songket Silungkang sangat terkenal sejak dulunya, yang sudah turun-temurun dari nenek moyang Nagari Silungkang.

SILOKEK ADVENTURE
Silokek Adventure ini merupakan salah satu even relatif baru di Sumatera Barat. Tapi jangan khawatir, even ini sangat menarik apalagi bagi yang suka berpetualang penuh tantangan. Pasalnya, kegiatan ini menggabungkan sejumlah kegiatan menguji adrenalin, seperti balap sepeda motor, rafting, panjat tebing, arung jeram, dan kano.


Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati eloknya Nagari Silokek. Sebab, nagari yang berada di Kabupaten Sijunjung Sumbar ini menawarkan beragam lokasi wisata yang potensial. Nagari Silokek sangat indah, yang dihiasi sungai, tebing berbatu, serta lembah sepanjang Nagari Muaro, Silokek, dan Durian Gadang.
Sepanjang kawasan ini pengunjung bisa menghirup udara segar sambil menikmati keelokan alamnya. Seperti pantai pasir putih, panorama ngarai batu berjajar, wisata gua (ngalau), taman anggrek, air terjun, wisata lokomotif uap peninggalan Jepang, atau bisa menikmati segarnya air di tempat pemandian air panas.
MOUNT TALANG CLIMBING
Talang sangat dikenal dengan salah satu gunung berapi yang aktif, yakni Gunung Talang. Bagi kamu hobi berpetualang ada baiknya mengikuti even Mount Talang Climbing, yaitui wisata yang menawarkan pendakian Gunung Talang di Kecamatan Gunung Talang Kabupaten Solok Sumatera Barat.


Even ini bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-73 tahun, yaitu 17 Agustus 2018 mendatang. Gunung Talang, merupakan gunung cantik yang menjulang di tengah-tengah empat kecamatan, yakni Kecamatan Danau Kembar, Lembah Gumanti, Lembanag Jaya, dan Gunung Talang.

Gunung Talang merupakan salah satu spot pendakian yang sangat ramai pada 17 Agustus, yang akan memberikan momen yang sulit dilupakan bagi tracker pemula maupun profesional. Gunung Talang bisa ditempuh dengan jalan kaki maupun motor trail. Pada 17 Agustus nanti bendera Merah Putih akan berkibar di ketinggian 2.572 Mdpl ini.

Hutan di pegunungan ini masih cukup alami, yang banyak diisi kehidupan hewan dan tumbuhan liar. Biasanya, menjelang purnama suasana hutan akan ramai oleh suara kicauan burung, suara monyet, dan hewan melata lainnya yang sedang asik kawin. Jangan khawatir, rasa takut akan hilang dengan keindahan bunga edelweis di sepanjang jalur pendakian.

Selain itu, di kaki Gunung Talang kamu bisa menikmati Danau Talang. Sepulang mengikuti even Mount Talang Climbing, kamu bisa menikmati memen lainnya di Danau di Atas dan Danau di Bawah, serta menghirup udara segar di kebun teh, sambil mencicipi kuliner khas Solok, dan membawa pulang buah markisa.

 MANDEH MARITIME FESTIVAL
Mandeh saat ini merupakan salah satu tempat wisata di Pesisir Selatan Sumatera Barat yang sedang naik daun. Dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Raja Ampat ranah Minang ini, pemerintah setempat akan mengadakan Mandeh Maritime Festival pada tanggal 19-21 Agustus 2018.



Dalam festival ini kamu bisa menikmati sejumlah kegiatan, seperti kuliner tradisional, pegelaran seni, rabab pasisie, sekligus mengikuti kompetisi foto bawah laut. Selain itu, kamu juga bisa menikmati keindahan wisata perairan dengan mengikuti Mandeh Joy Sailing atau diving, dan kontes perahu nelayan tradisional.

Kawasan Taman Nasional Laut Mandeh ini berada di Kecamatan Koto XI Tarusan Pesisir Selatan, berjarak 56 km dari Kota Padang. Banyak yang bisa kamu lakukan untuk menikmati keindahan Mandeh ini, seperti snorkeling, diff jumping, swimming, memancing, scuba diving, camping, sky air, banana boat, dan menikmati keindahan hutan mangrove.

Selain itu, di kawasan Mandeh ini kamu juga bisa mengunjungi Pulau Taraju, Pulau Sutan, Pulau Sironjong Gadang, Pulau Sironjong Ketek, Pulau Marak, Pulau Kapo-kapo, Pulau Cubadak, dan Sungai Nyalo/Gemuruh yang dikenal air terjunnya.

Semoga bermanfaat.

Share:

Hutan, Tentang Belukarmu Aku Rindu



HUTAN, ialah selimut alam. Akar pepohonannya penyangga kehidupan. Dahan dan daunnya peneduh dikala terik, sekaligus atap dalam menikmati rintik hujan. Setiap belukarnya ialah gudang benih tumbuhnya pohon-pohon muda. Mereka berebut sinar matahari demi menguatkan tanah-tanah di kemudian hari.

Dulu, di kampungku hutan-hutan begitu lebat, dan belukarnya demikian kuat. Sejak kecil, aku bisa dikatakan sering hidup dan menjelajahi hutan. Bersama orangtua hidup di ladang yang dikelilingi hutan-hutan rindang. Beragam jenis pohon pun bisa kukenal. Hanya saja waktu itu tidak ada handpone, kamera, atau internet, sehingga tidak bisa diabadikan. Tapi cerita itu masih membekas dan tertanam dalam memori kenangan. 

Pergi dan pulang sekolah melewati hutan sekitar dua sampai tiga kilometer berjalan kaki. Hanya sinar matahari di celah-celah dedaunan sebagai penerang. Setiap pulang sekolah, pergi memancing ikan di anak-anak sungai. Sekali-kali berburu unggas. Ikannya dan unggasnya banyak, serta sangat mudah didapatkan.

Tinggal di ladang yang dikelilingi hutan, sungguh damai dan nyaman, tanpa hiruk-pikuk serta kegaduhan manusia lainnya. Hanya satu yang ditakutkan ketika hidup di dalam hutan waktu itu, adanya harimau. Orangtuaku pernah melihat harimaunya. Kalau babi, kera, monyet, siamang, ular, sudah menjadi pemandangan biasa kalau di hutan.

Waktu itu, setelah Subuh, ketika pergi sekolah aku sering melihat jejak harimau yang masih basah. Mengerikan, takut diterkam dari semak belukar. Selain harimau, tidak ada yang perlu ditakutkan di hutan. Semuanya bersahabat, bahkan sebenarnya harimau pun bisa bersahabat jika keberadaannya tidak digaduh.  

Pada masa itu, semua pohon penghasil buah tidak hentinya berbuah. Apalagi ketika musim buah besar-besaran, semuanya melimpah. Seperti durian, rambutan, lansat, duku, manggis, ambacang, jambu, dan buahan lainnya sangat lebat. Boleh diambil oleh siapa saja. Sebab tidak ada harganya, dan juga tidak boleh diperjualbelikan oleh hukum atau adat kampung.

Setiap sungai dan anak sungai, airnya jernih, ikannya banyak, dan boleh ditangkap oleh siapapun asal tidak punah. Beragam macam sayur-mayur ada, tanpa harus dibeli. Bahkan tidak ditanam pun, sayurnya akan tumbuh sendiri. Ajaib memang, sungguh terbukti lagu “Kolam Susu” Koes Plus waktu itu, tongkat, kayu, dan batu bisa jadi tanaman.

Semua itu cerita di kampungku, Mukomuko Provinsi Bengkulu sekitar 20-an tahun yang lalu. Sungguh jauh berbeda dengan sekarang. Semua hutan hilang dengan sekejap saja. Semak belukar dipangkas dengan beringas. Kemudian ditanami sawit-sawit, dan yang diuntungkan pemilik PT kebun sawit serta pabrik-pabrik.

Pohon-pohon yang menghasilkan buah-buahan kian punah. Semua buah, sayur, ikan, air, tanah, dan nafas mulai diperjual-belikan. Semuanya ditentukan dengan harga. Suasana kampungku tidak senyaman dulu, udaranya sudah panas akibat banyaknya kebun sawit yang mengandung minyak.

Anak-anak sungai sudah menghilang, ditimbun menjadi wadah untuk menanam sawit. Sawah-sawah semakin menyempit, dan kehidupan semakin rumit. Debu-debu mulai terbang menyerang. Semua itu akibat keserakahan membasmi hutan demi harga sesaat.

Jika boleh meminta, aku ingin kehidupan seperti dulu. Hidup berkeliaran di tengah hutan, berburu unggas dan ikan. Memanjat serta berlari-lari menelusuri belukar hutan yang rindang, tapi dengan internet dalam genggaman. Agar aku bisa selalu berkirim kabar pada dunia dan orang terkasih, tentang damainya hutan di kampungku. 

Hutan, sungguh aku rindu segala ketakutan dalam semak belukarmu.*



Share:

TERKINI

POPULER

Ragam

TERKINI