TUHAN, PADA-MU LABUHAN RINDUKU


Bissmillah...
sayup-sayup kudengar melodi ayat-Mu yang mengalun indah
lewat bisikan angin malam panjang jelang subuh
dari sudut kota seremban Bukittinggi nan megah

di kamar 3x4 itu nyamuk-nyamuk ikut menyaksikan
tetes demi tetes air mengalir di antara pori-pori dedaunan
hingga hanyut berserakan bersama malam kelam
kurindu dia kurindu cinta kuingin tinggalkan dunia tanpa noda 

Asshalatukhairuminannauum...
merdu lantunan panggilan-Mu itu menyentakkan lelapku
kusingkap tirai kusam pada dinding triplek kamar kos
perlahan kubasuh muka beranjak tuk penuhi seruan itu

kini kubuka jendela hati, kusaksikan indahnya malam yang lelah
di atas sajadah kusertakan tangan pasrah menengadah
Tuhan, kembalikan aku ke fitrah biar kesucian itu tetap membasah”
pada-Mu labuhan rinduku takkan membelah

Karya. Wahyu Saputra


Share:

TONGGAK JALANAN


di landai dinginnya malam kota seremban
kuingat detik lalu kejadian kita di kota bingkuang
tak habis satu masa luka tawa kau tuang
kau bagikan derita biar bebas lepas landas
bersama kata kita curahkan

kini tak ubahnya
kau jadikan aku sebagai tempat pelarian
bagai tonggak di tepian jalan ramai kawan
singgah ketika perlu biar tak kuyup kedinginan
berteduh ketika terik biar tak terbakar sinar mentari

jika pagi hingga sore damai kau hanya berkelebat melempar senyum
"hari nan cerah terima kasih, sebagai alasan tak singgah di gubuknya", itu katamu
jika malam tiba kau lemparkan tawa riang bersama alam bebas sesukamu
"terima kasih telah berbagi, suatu saat aku mampir menyapa", ucapmu

ooo..., aku rindu sapaan janjimu
cukup! jangan ulangi lagi
pergilah jauh arungi samudera itu
kejar dan jangan pernah kembali

=teman, sahabat, seseorang, ingatlah aku=
Karya. Wahyu Saputra
Share:

DAG DIG DUG RASA

hai insan pecinta, jangan coba tanyakan rasa
jika kau tanya ia, jawabnya datang tanpa doa sang pemuja
kadang bercakap kala tak menatap bersua
ia bergetar ketika diden gar mendengar
kini gelegar panas dingin kelu kaku
dag dig dug...dag dig dug...

itu lukisan kata dan nada berwarna, berjuta pesan dibaliknya
alangkah indah ciptaan-Mu, tak terbacakan oleh hamba biasa
Tuhan, Kau gambarkan ia di mata penikmat rasa
yang datang tumbuh merona disela jiwa-jiwa fana
dag dig dug...dag dig dug...

jika tersentuh membubuh membuih memutih
kau digoda jangan lengah dibuai buatnya
hingga kelak terbelah hilang tersayat kilau dilautan rasa
terbakar cahaya terkapar diberanda cinta

Karya. Wahyu Saputra 
Share:

Kuajarkan Padamu

muridku, jika kau mau
kuberikan apa yang aku punya
sedikit ilmu sebagai suluh masa depan
penunjuk jalan juga penerang

muridku, jika sanggup mendengar
kuperkenalkan kata-kata indah
kujabarkan dunia khayal dan nyata
mulai, tuangkan yang kau mau

muridku, tak kutuntut balasan
penuh ikhlas kutuntun kalian
sampai akhir pengabdian
Share:

MENDIDIK ITU TIDAK GAMPANG


Pada umumnya, maksud kata mendidik tidak asing lagi di benak semua orang, apalagi bagi orang yang pernah mengenyam pendidikan formal. Tentunya yang dikatakan mendidik di sini hanya tertuju kepada guru saja. Padahal tidak, semua orang berhak mendapat gelar pendidik. Tidak dipungkiri, karena pendidik itu sebagai perantara, penunjuk jalan bagi seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Artinya keberhasilan, sukses atau tidaknya seseorang itu juga terletak pada gurunya.
            Bayangkan saja, jika dicontohkan siswa dan guru. Siswa itu ibarat jari-jari yang ada di tangan kita, dengan sekian jumlahnya, mempunyai bentuk, nama, serta fungsi yang tidak sama. Begitu juga siswa yang bakal diayomi, dengan jumlah puluhan, ratusan bahkan sampai ribuan orang, yang mempunyai sifat, karakter, atau tingkahlaku yang berbeda. Semua itu dipercayakan oleh orang tuanya kepada para guru untuk merubah perbedaan tersebut menjadi satu tujuan, yaitu menjadi “orang” yang sesungguhnya.
            Percayalah, semua itu tidak semudah yang dibayangkan. Semua itu butuh proses yang cukup memakan waktu. Siswa itu juga ibarat selembar kertas yang sudah berisikan kata-kata dengan warna yang berbeda. Jadi tidak mudah seorang guru membentuk selembar kertas yang penuh coretan itu menjadi sebuah tulisan yang tersusun rapi. Lain halnya siswa yang dirangkul dari awal, seperti kertas putih tanpa stetes noda, bisa diisi dengan rangkaian kata-kata yang penuh makna atau dilukiskan dengan warna-warna yang indah.
Dalam hal ini, seorang guru dituntut dengan bekerja keras. Tidak hanya profesional, namun juga harus serba bisa. Artinya seorang guru harus banyak tahu, karena tidak selalu yang diajarkan bidang studi kita saja, namun juga masih banyak bidang lain yang perlu diajarkan pada peserta didik tersebut. Selain itu, seorang guru tidak hanya sekedar menunaikan tuntutan kewajibannya saja. Namun benar-benar menjadi seorang pendidik yang bisa mendidik, agar siswanya menjadi orang-orang yang terdidik.
Dalam meraih semua itu, tentunya seorang guru harus tahu apa yang harus dia lakukan. Maka sudah sepantasnya kita harus bangga dan berterima kasih pada guru-guru kita, orang-orang yang berprofesi sebagai pendidik, dan bahkan pada calon-calon pendidik. Ingat, pendidik atau guru di sini bukan hanya tertuju pendidikan formal, semua orang bisa terlibat dalam hal mendidik, termasuk orang tua kita sendiri. Asalkan saja bukan orang yang hanya bisa menggurui, tetapi benar-benar guru yang pantas dianggap sebagai pendidik.
Tentunya dalam mendidik ini tidak segampang membalikkan telapak tangan. Sangat banyak kendala-kendala yang dilalui. Sehingga tidak jarang, banyak guru yang mengeluh dan putus asa. Namun sebaliknya, bagi seorang guru yang enjoy serta optimis “bisa” menjalani profesinya, membuahkan hasil yang tidak tanggung-tanggung. Walaupun sebelumnya merangkak-rangkak, setelah itu dia bisa berdiri bahkan berlari. Lihat saja faktanya, para cendikiawan dan intelektual bisa berdiri melambaikan tangan pada dunia, itu semua karena guru.
Itulah sebagai bukti nyata, keberadaan seorang guru atau pendidik sangatlah penting di mata dunia, terutama dalam pencapaian mutu pendidikan. Memang tidak ada yang gampang di dunia ini, namun juga tidak ada yang tidak bisa kita lakukan, kunci utamanya hanya terletak pada kemauan. Dengan memantapkan niat “harus bisa”, kenapa orang bisa, saya tidak? Semua itu tentu dibarengi dengan penuh ketulusan, ikhlas dan sungguh-sungguh dalam mengerjakan semua hal yang kita jalani.


Wahyu Saputra
            Mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia
Artikel ini pernah dimuat di Koran Harian Singgalang
Share:

TERKINI

POPULER

Ragam

TERKINI