Blibli.com Wujud Cinta Produk Asli Indonesia


“Semua cinta itu harus diungkapkan, karena gak ada cinta yang gak diungkapkan, kecuali oleh orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri.(Khalil Gibran)

Kalimat romantis itu bisa ditujukan kepada siapa saja, termasuk cinta pada tanah air. Meskipun sebenarnya, cinta itu tidak mutlak harus diungkapkan. Bukankah cinta itu lebih perlu pembuktian? Seperti sebuah tembang Cinta Butuh Bukti yang dipopulerkan Maudi Ayunda. Apabila kita cinta terhadap dengan bangsa Indonesia, buktikan dengan mencintai produk-produk asli Indonesia.
Share:

UNP Raih Akreditasi A dari BAN-PT


PADANG- Harapan Universitas Negeri Padang (UNP) menuju “World Class University” (WCU) semakin terbuka, pasalnya UNP baru saja meraih akreditasi A dari Badan Akareditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Pernyataan itu disampaikan Rektor UNP, Prof. Ganefri, Ph.D. di ruang Rektorat UNP, Kamis (29/12).
Share:

APBN Langkah Pembangunan Infrastruktur sebagai Percepatan Kemajuan Ekonomi Masyarakat

www.kemenkeu.go.id
Pembangunan daerah yang merata menjadi salah satu ciri negara maju. Indonesia yang dikenal dengan sebagai negara kepulauan mempunyai tantangan besar terutama dalam pembangunan infrastruktur. Dengan pembangunan insfrastruktur yang merata sekaligus memadai, menjadi salah satu faktor pendorong kemajuan suatu negara, terutama dalam bidang ekonomi. Sebab dengan infrastruktur yang memadai, masyarakat akan mampu untuk bergerak cepat dalam menjalankan roda ekonomi.
Share:

Perumahan Murah Citra Maja Raya sebagai Kawasan Kota Terpadu


Menentukan tempat tinggal sangat rumit, juga sekaligus sangat mudah. Biasanya rumit bagi yang tidak memiliki dana cukup. Bagi yang memiliki dana yang cukup bisa memilih tempat tinggal dimana saja, bahkan di apartemen yang elit. Tapi, meskipun orang kaya bisa membeli apartemen elit dan mahal, belum tentu menemukan tempat yang cocok sesuai selera. Sebab, perumahan meskipun bagus, elit, dan mewah, atau harga terjangkau, belum tentu strategis. Misalnya, jaraknya jauh dari tempat kerja, rumah sakit, sekolah, pusat perbelanjaan, dan lainnya.
Share:

Non Tunai Cara Cerdas Transaksi Masa Kini


Tidak dipungkiri, bahwa Indonesia merupakan negara yang semakin “dewasa” dengan perkembangan diberbagai bidang, baik pembangunan, ekonomi, maupun pemerintahan. Selain itu, Indonesia juga dikenal sebagai negara yang penduduknya mayoritas bergelut dibidang pertanian. Meskipun berbagai perkembangan teknologi sudah memasuki wilayah Indonesia, dan penduduknya sudah melek teknologi, namun sebagian besar masyarakatnya masih belum terbiasa move on dari kebiasaan lama.

Share:

Menumbuhkan Budaya Gotong Royong dalam Hidup Bermasyarakat

Dulu di tahun 90-an, masyarakat Indonesia semakin bersatu-padu dalam semangat kebersamaan. Sebuah kalimat “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh” telah mengikat mereka dengan cinta kebersamaan, cinta bangsa, dan cinta tanah air. Sebuah kalimat pendek, namun memiliki makna yang sangat “tajam” dalam cita-rasa kebersamaan. Sayangnya, kalimat tersebut nyaris tidak lagi menggema, dan bahkan mulai hilang dari peredaran kehidupan bermasyarakat saat ini. Padahal, gotong royong (Goro) ini sebagai perwujudan nyata semangat persatuan, yang selalu digemakan oleh para pejuang dalam membangun bangsa ini sejak dulunya.
Share:

#UsiaCantik itu Ketika Mengerti Kodrat sebagai Perempuan


Cantik itu lumrah, dan anugerah. Tapi kecantikan jangan membuat kita lengah sebagai kaum yang terlahir dengan posisi sebagai perempuan.” 

Amak, sapaan untuk ibuku. Ia hanya seorang ibu dari Sungai Rengas, perkampungan kecil di Mukomuko, Provinsi Bengkulu yang dikenal dengan sebutan Bumi Raflessia itu. Mungkin ada yang bilang ibuku sebagai perempuan kampungan. Tuduhan itu tidaklah salah untuk zaman saat ini. Sebab, saat ini orang lebih banyak melirik gelar pendidikan formal, dibanding attitude yang cakap dalam pendidikan itu sendiri. Memang, ibuku bukanlah perempuan yang berpendidikan formal. Ibuku tidak tamat Sekolah Dasar (SD), ia duduk di bangku pendidikan hanya sebatas kelas dua. Terkendala dengan biaya, dan demi mengasuh adik-adiknya. 
Share:

Asal Ada Niat, Semua Bisa Umroh Bersama Abutours.com


Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan, dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrusu kecuali surga.” (HR. An-Nasai:2631, Tirmidzi:810, Ahmad:1/387).
Mendengar keutamaan umroh saja, rasanya tidak ada umat Islam yang tidak ingin pergi umroh. Saya yakin dan percaya, bisa dipastikan setiap umat Islam pasti punya keinginan untuk bisa umroh. Masih banyak ayat atau hadist-hadist lain yang tidak kalah dahsyat dan indahnya membahas keutamaan umroh, apalagi haji. Semua keinginan umat Islam untuk pergi umroh saat ini bukan lagi isapan jempol belaka, asalkan ada niat dan tekad. Sebab, ibadah umroh bukan hanya persoalan mampu dari segi finansial. Niat dan tekad itu bagaikan air dari hulu, meskipun banyak aral marintang yakin dan percayalah pasti akan sampai ke muara juga.

Share:

Berani Hijrah itu Cantik


Bila saja boleh memilih, sebagai pria normal, saya lebih memilih manis daripada cantik. Cantik hanya bisa dilihat (fisik), tapi manis berada pada rasa (hati). Artinya begini, kata “cantik” muncul karena adanya kata “jelek”. Kita sering mendengar “cantik banget sih cewek itu”, atau “jelek amat sih cewek tadi”. Sebaliknya kalau kata “manis” muncul dari dalam diri seseorang, bukan hanya penglihatan.
Share:

Ketika Guru Hilang Wibawa dan Siswa Hilang Etika


Guru simbol pendidikan yang pantas jadi cerminan, sementara siswa merupakan aset kemajuan masa depan. Jika keduanya tidak bisa diharapkan, negara sedang menunggu kehancurannya.”

Kira-kira seperti itulah saya melihat pentingnya seorang guru, dan begitu pula berharganya siswa yang selama ini selalu kita “gadang-gadangkan” sebagai generasi penerus bangsa. Sebenarnya pertaruhan kemajuan bangsa ini sejak dulu sudah kita titipkan separuhnya ke dunia pendidikan. Tentu karena semua sudah tahu, dan bahkan penuh harap bangsa ini akan maju melalui tangan-tangan pendidik, dan pada orang-orang terdidik.
Share:

#SayaNgeblogKarena Biar Nggak Goblok


“Apa yang yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi.”

Peribahasa di atas berasal dari bahasa Latin kuno yaitu Verba Volent Screpta Manen. Sebenarnya tujuannya bukan hanya sekedar untuk menulis, namun yang ditulis pun harus bisa tersebar, atau dibagikan ke orang lain (pembaca), agar membawa manfaat. Sebab, orang yang sukses adalah orang yang membawa manfaat bagi orang lain.

Memang, banyak cara untuk berbagi. Setiap orang pun bisa berbagai dengan caranya masing-masing. Sebab, berbagi bukan hanya dalam bentuk materi, atau barang. Salah satu cara berbagi bisa melalui tulisan, seperti tentang ilmu pengetahuan, tips, atau berbagai informasi lainnya. Apalagi saat ini perkembangan teknologi sudah merambang ke seluruh dunia.
Share:

Aksiologi: Ilmu dan Moral, Tanggungjawab Sosial Ilmuwan


Pendahuluan
Manusia dikenal sebagai makhluk akal dan pikiran, yang menjadikan manusia lebih istimewa dibandingkan makhluk lainnya. Kemampuan berpikir atau daya nalar manusia yang menyebabkannya mampu mengembangkan pengetahuan berfilsafatnya. Manusia mampu mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, yang indah dan yang jelek. Kemampuan menentukan pilihan ini menjadikan manusia selalu berupaya melakukan perubahan dari masa ke masa.
Share:

Sinarmas MSIG Life Cara Cerdas Mengatur Keuangan di Usia Muda



“Ingatlah waktu mudamu, sebelum datang tuamu, dan ingatlah waktu kayamu, sebelum datang miskinmu.” (HR. Al-Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim)

Nasihat di atas bukanlah kalimat bualan ketika jatuh cinta. Justru nasihat itu sangat penting untuk diresapi dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, nasihat itu mengingatkan kita pentingnya merencanakan, menyiapkan, dan mengatur segala sesuatu untuk masa depan. Nasihat itu sangat relevan untuk dijalani dalam hidup, agar bisa memanfaatkan waktu, umur, dan rezeki sebaik mungkin. Baik persiapan di dunia, maupun persiapan di akhirat. Terlebih lagi masih dalam usia muda, yang masih banyak waktu menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat matang.

Namun ketika menyinggung masalah dunia, nasihat tersebut juga sangat erat kaitannya  dengan finansial. Nasihat tersebut mengajarkan kita agar memanfaatkan waktu untuk mencari rezeki (bekerja), sekaligus juga mengajarkan agar bisa mengelola (mengatur) rezeki (keuangan). Seolah-olah mengajak kita “Yuk Atur Uangmu, agar dimasa tua bisa memanfaatkan hasilnya, tanpa harus terus menguras tenaga, dan pikiran. Meskipun masa tua bukan berarti harus berhenti bekerja, tapi setidaknya bukan lagi memeras fisik seperti ketika di usia muda.

Usia muda merupakan usia yang rentan dihinggapi dengan emosi, sekaligus ambisi. Di samping itu, usia muda juga sangat rawan diserang virus nafsu, sehingga sangat mudah terbuai dan akhirnya mengabaikan masa depan yang lebih mapan. Makanya banyak bukti yang telah kita saksikan di hadapan kita selama ini. Banyak orangtua yang masih bekerja agar bisa menafkahi keluarganya, sebab terlena di usia muda, dan akhirnya tidak ada jaminan di hari tua. 


Padahal di usia senja, seharusnya istirahat dengan nyaman, tenang, dan damai di rumah sambil memandangi tetesan embun di jendela. Sesekali mencium bunga, atau melihat kupu-kupu yang berkejaran di taman di depan, atau di belakang rumah. Sebab tidak bisa mengatur keuangan di masa muda, akhirnya harus tetap berkuras demi sandang-pangan, baik kebutuhan keluarga, biaya pendidikan anak, biaya kesehatan, dan biaya lainnya. Semuanya semakin memaksa untuk selalu bekerja, membuat hidup semakin menderita.

Ya, karena semakin hari masalah ekonomi semakin felik. Semua harga bisa melambung dan melesat dengan cepat, dan biaya apapun semakin mahal. Ekonomi setiap waktu terus mengalami perputaran sesuai poros dunia industri. dan kebutuhan masyarakat pada zamannya masing-masing. Di sisi lain, ekonomi keluarga belumlah bisa menjadi “raja”,  tapi kebutuhan ekonomi (keuangan) semakin mendera, sedangkan usia tidak lagi muda, dan tenaga pun sudah tiada.

Nah, di sinilah letak pentingnya meresapi nasihat di atas tadi, untuk memanfaatkan usia muda demi persiapan di hari tua. Memang, tidak ada jaminan seseorang akan sampai umurnya di usia tua, atau mungkin akan meninggal di usia muda. Namun paling tidak, tentu kita juga harus “wanti-wanti” (jaga-jaga), agar tidak keceplosan di masa muda yang polos, yang mengakibatkan masalah ekonomi di usia tambah keropos. Ya, wanti- wanti untuk persiapan masa depan. 

Boleh jadi waktu muda masih kaya-raya, hidup yang serba ada, bergelimang harta, dan tenaga dan ingatan pun masih kuat. Tapi ketika umur semakin mnua belum tentu semua harta di waktu muda masih tersisa, dan tenaga pun suadh pasti tidak lagi prima. Oleh sebab itu, saat waktu usia mudalah untuk mempersiapkan segalanya. Agar ketika usia mulai menua, keuangan tetap ada meskipun tenaga hanya tinggal sisa. Paling tidak bisa menikmati kebahagiaan di penghujung usia, tanpa beban kerja. 

Semua orang tidak akan bisa menebak secara pasti kehidupan dimasa depan. Apakah dilanda musibah, sakit, atau bahkan meninggal. Maka disaat masih muda, setiap orang agar bisa mengatur keuangan dengan lebih tepat, dan aman. Sebab, salah satu tujuan dan fungsi asuransi ialah untuk menjamin perlindungan dari resiko (kerugian, kehilangan, kerusakan, kematian, dn sebagainya) yang dialami oleh tertanggung (nasabah). Jadi, mumpung usia masih muda, tenaga masih kuat, dan jiwa masih semangat, “Yuk Atur Uangmu” dengan berasuransi. 


Memang, ada beragam alternatif yang bisa dipilih untuk mengatur keuangan. Namun salah satu pengelolaan keuangan yang baik, sekaligus dianjurkan selain investasi dan menabung ialah berasuransi. Dengan berasuransi, berarti kita juga sudah menabung, dan juga berinvestasi untuk masa depan. Sebab, banyak yang bisa diasuransi, seperti jiwa, kesehatan, pendidikan, kendaraan, rumah, dan sebagainya. Uang yang kita setorkan pun tidak hilang begitu saja, karena bisa dikalim sewaktu-waktu dengan manfaat yang lebih besar.

Apabila berasuransi berari kita sudah menyiapkan persiapan, atau jaminan untuk masa depan (usia tua). Mengatur keuangan dengan berasuransi merupakan salah satu jalan pengendalian resiko ke pihak penanggung (perusahaan asuransi), yaitu sesuai kebijakan perusahaan terkait, atas perjanjian kedua belah pihak. Misalnya dilanda musibah, sakit, kehilangan, kerusakan, bahkan meninggal, bisa ditanggulangi oleh asuransi dengan cara klaim. Sehingga kebutuhan biaya mendadak akibat terjadinya beberapa resiko tersebut bisa beres seketika.

Selain itu, dengan berasuransi secara tidak langsung berarti kita sudah memiliki manajer keuangan sendiri. Sebab, kita sudah memiliki fasilitas perencanaan keuangan, agar bisa terhindar dari resiko kerugian. Mumpung umur masih muda sebaiknya mempersiapkan, merencanakan, dan mengelola keuangan dengan asuransi. Tunggu apalagi, “Yuk, Atur Uangmu” dengan cara asuransi. Sebab dengan cara berasuransi di usia muda akan lebih menguntungkan, dan bisa meringankan beban keuangan.


Sekali-kali perlu ingat kata Mario Teguh, “berasuransi berarti uang membeli uang besar, jika tidak paksa diri bayar uang kecil, maka akan dipaksa bayar uang besar.” Bila sedari muda kita tidak menyicil uang dengan biaya kecil, sewaktu-waktu di usia tua kita akan terpaksa biaya yang lebih besar. Sebab, di usia tua rentan dihinggapi penyakit, musibah, dan resiko lainnya. Jika tidak memiliki asuransi maka pasti akan mengeluarkan biaya yang lebih besar. Nah, begitulah pentingnya berasuransi, karena berasuransi sekaligus juga menabung, dan investasi masa depan. Ingatlah, asuransi bukan tentang besarnya jumlah uang yang dikeluarkan, tapi tentang besarnya arti kehidupan di masa depan. 

Apabila sudah berniat untuk berasuransi, dan sebelum memutuskan pilihan, sebaiknya selidiki terlebih dahulu perusahaan asuransi, dan jenis asuransinya. Mulai dari legalitas, sepak terjang, hingga manajemen perusahaan hendaknya harus diketahui. Jadi jangan sampai ibarat membli kucing dalam karung, unjung-ujungnya jangankan meraih untung, atau jaminan masa depan, tapi malah keuangan menjadi buntung. Sebaiknya, mulailah cerdas memilih asuransi. 

Selain melihat dari segi perusahaan, sebaiknya kita juga harus cerdas memilih asuransi yang sesuai kebutuhan. Memang, semua asuransi itu akan dibutuhkan, tapi pilihlah yang lebih utama dibutuhkan untuk masa depan, dengan manfaat yang lebih besar. Tentunya dengan memperhitungkan segi keuangan yang dimiliki, agar tidak terasa menjadi beban nantinya. Salah satu perusahaan asuransi yang tepat menjadi pilihan ialah, Sinarmas MSIG Life, yaitu sebagai asuransi jiwa yang terpercaya di Indonesia.

Ada beberapa pertimbangan Sinarmas MSIG Life sebagai pilihan yang tepat untuk memulai  berasuransi di usia muda.  Ayo, simak baik-baik di bawah ini!

Sinarmas MSIG Life usianya sudah matang sebagai perusahaan ternama, yaitu sudah berdiri sejak 14 April 1985, dengan mengalami perkembangan dan perubahan. Tentu Sinarmas MSIG Life ini ditangani oleh orang yang berpengalaman. Asuransi Jiwa di bawah naungan PT. Sinar Mas Multiartha Tbk ini didukung kondisi keuangan yang sangat baik. Selain itu inovasi produk, dan layanan nasabahnya serta kepemilikan jaringan bisnisnya sangat luas. Bahkan, hingga 30 Juni 2014 Sinarmas MSIG Life ini sudah melayani lebih dari 790.000 nasabah individu dan kelompok, di 69 kota. Saat ini sudah tersebar di 113 kantor pemasaran, dan 10.500 marketing di seluruh Indonesia. 

Berbagai upaya pun dilakukan Sinarmas SMIG Life, termasuk untuk meningkatkan corporate brand awareness, dengan cara memperkenalkan Brand SmiLe (Sinarmas MSIG Life) kepada khalayak sejak 2013 lalu. Semua itu dalam bentuk pelayanan bagi masyarakat luas, agar masyarakat Indonesia tahu guna dan pentingnya berasuransi. Pada Maret 2015 Sinarmas MSIG Life mendapat pengakuan dari majalah Infobank, dan juga dinobatkan sebagai Terbaik ke 3 untuk Digital Brand of The Year 2015 pada kategori Asuransi Jiwa.


Sementara pada bulan Agustus 2015, majalah Investor juga menobatkan Unit Bisnis Syariah Sinarmas MSIG Life sebagai Asuransi Jiwa Syariah Terbaik kategori aset di atas Rp200 miliar, pada Best Syariah 2015. Selain itu, pada Februari 2016 Sinarmas SMIG Life juga mendapatkan beberapa penghargaan dari Infobank, Exellink Fixed Income Fund atas kerja unit link jenis pendapatan tetap, pada 2011-2015, 2013-2015, dan tahun 2015.

Lebih menariknya lagi, Sinarmas MSIG Life juga menyediakan pelayan terbaik, bukan hanya kebutuhan finansial secara pribadi, tapi juga ada pelayanan untuk perusahaan. Di Sinarmas MSIG Life ada produk SmiLe Medicare, untuk membantu perusahaan dalam mengalokasikan jaminan biaya kesehatan karyawan. Pelayanannya bisa dalam bentuk biaya tetap, atau dengan sistem Administration Service Only (ASO). Pelayanan ini pun selain untuk efisiensi serta penghematan anggaran, juga bermanfaat untuk kesejahteraan karyawan, beserta keluarganya. 

Pada akhir tahun 2015, Sinarmas MSG Life juga tercatat sebagai 10 besar perusahaan dengan aset terbesar di industri asuransi jiwa, yaitu Rp15,65 triliun. Sinarmas SMIG Life total pendapatan preminya senilai  Rp6,59 triliun. Angka Risk Based Capital (RBC) pun tetap tinggi, yaitu 466,46% (konvensional), dan 53,87% (syariah). Saat ini, untuk memperkuat 108 kantor pemasaran yang tersebar di seluruh Indonesia, dan lebih maksimal melayani 1,2 juta nasabah, baik individu dan kelompok. Sinarmas MSIG Life pun sudah hadir kantor manajemen yang baru, yaitu Sinarmas MSIG Tower di area perkantoran Jl. Jendral Sudirman Jakarta. 

Sinarmas SMIG Life bukan hanya terpercaya dengan berbagai penghargaan. Dengan terpilih sebagai 10 perusahaan asuransi yang memiliki aset terbanyak, Sinarmas SMIG Life juga menyediakan berbagai fasilititas dalam memaksimalkan pelayanannya kepada nasabah. Adapun fasilitas yang dimiliki Asuransi Sinarmas SMIG Life, seperti memiliki jaringan (provider) yang luas untuk rawat jalan, rawat inap, dan rawat bersalin. Selain itu Sinarmas MSIG Life juga menggunakan E-Card, baik provider manual, maupun e-card sistem, serta terseda E-Portal website www.sinarmasmsiglife.co.id sebagai sumber informasi yang bisa diakses kapanpun.

Menariknya lagi, jaminan di Sinarmas MSIG Life berlaku 24 jam setiap hari di sluruh dunia. Tabel jaminan didesain dengan fleksibel sesuai kebutuhan, serta kartu Smile Medicare juga berlaku untuk diskon di berbagai merchant berlogo Sinarmas. Tapi yang lebih penting lagi, pelayanan klaim di Sinarmas MSIG Life transparan dan sangat cepat, paling lama hanya 10 hari kerja. Waw! Nah, apalagi yang tidak membuat tertarik dan jatuh cinta berasuransi dengan Sinarmas MSIG Life ini. “Ayo Atur Uangmu”, buruan mumpung masih muda, dan belum menua. Agar masa tua nanti ceria. Upss...jangan lupa berasuransi! Semoga bermanfaat. 

________________________________________________________________________________
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Witing

Share:

Pembelajaran Nilai-nilai Multikulturalisme dalam Teks Sastra


Indonesia adalah salah satu negara yang multikultural terbesar di dunia, kebenaran dari pernyataan ini bisa dilihat dari sosiokultur maupun geografis yang sangat luas dan beragam. Sastra multikulturalisme berkaitan dengan perubahan masyarakat global dan lokal menjadi pluralistik. Sastra multikultural berpotensi menjadi media komunikasi internasional dan pendidikan karakter bangsa, siswa, para guru, pemerintah, masyarakat dan tokoh masyarakat mengembangkannya. Selain itu, sastra multikultural mampu melampaui batasan agama, etnis, bahasa, budaya, dan bangsa.
Secara praktis, aktivitas pembelajaran di sekolah atau pun perguruan tinggi bisa menjadi salah satu medium untuk menyosialisasikan nilai-nilai multikultural melalui karya sastra. Artinya, sastra multikultural berpotensi menjadi suatu media yang mempersatukan, dan menggabungkan substansi lokal, nasional, maupun internasional secara damai yang di dalamnya masyarakat, agar bisa hidup dalam harmoni. Hal itu tercantum dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika, sebagai ciri khas bangsa Indonesia, yang dapat menjaga keutuhan bangsa di tengah-tengah perbedaan (pluralisme).  
Share:

Asuransi Travellin Solusi Aman dan Nyaman untuk Travelling


Zaman kian berubah dan selalu mengalami perubahan dari masa ke masa. Setiap masa ada momentum yang ingin diciptakan bagi setiap orang. Setiap waktu ada periode yang menjadi puncak, dan sangat booming menghinggapi lingkungan hidup sebagian orang. Dan saat ini,  jalan-jalan atau melakukan perjalanan ke tempat wisata sedang booming, dan sangat kekinian, terutama bagi kalangan anak muda, apalagi musim liburan.

Melakukan perjalanan, atau yang lebih dikenal dengan sebutan travelling sedang marak menyerang berbagai kalangan, bukan dalam kehidupan kaum muda, remaja, namun juga orang dewasa. Maraknya travelling ini karena beberapa faktor, namun saat ini yang lebih utama ialah karena faktor smartphone, seperti android, atau gadget. Adanya berbagai aplikasi canggih yang ditawarkan smartphone membuat setiap orang semakin candu pada dunia travelling, minimal untuk selfie, foto bersama, dan lainnya.

Share:

Kajian Pragmatik: Implikatur dalam Acara Stand Up Comedy Cak Lontong di Metro TV

Cak Lontong- Salam Lemper

Pendahuluan
Manusia merupakan makhluk sosial yang berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Bentuk dan cara penyampaian informasi yang digunakan bisa bermacam-macam dan menyesuaikan konteks yang sedang dihadapi. Austin (1962) di dalam bukunya How to Do THINGS with WORDS mengemukakan pandangannya bahwa dalam mengutarakan tuturan, seseorang dapat melakukan sesuatu selain mengatakan sesuatu. Penutur dalam menyampaikan tuturannya bisa dilakukan dengan dialog atau monolog. Dialog biasa dilakukan oleh penutur yang berbicara dengan mitra tuturnya, sedangkan monolog adalah cara penutur menyampaikan informasi kepada orang lain namun tidak ada respon langsung dari mitra tutur.
Share:

Stigmatisasi Pemberitaan Terorisme di Media Online


Abstrak
Penelitian ini yang mencoba mengetahui pemberitaan tentang peristiwa terorisme terhadap media massa online, yaitu Tempo.com, Kompas.com, serta Antara.com, dan untuk mengetahui stigmatisasi media massa tersebut dalam pemberitaan terorisme. Penelitian ini salah satu penelitian wacana kritis dengan menggunakan model Theo Van Leeouwen, yaitu dengan melihat proses ekslusi dan inklusi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Tujuan penelitian ini yaitu untuk melihat posisi media massa tersebut dalam pemberitaannya, baik proses ekslusi maupun inklusi, sehingga melahirkan stigmatisasi dalam pandangan khalayak sebagai pembaca. Berdasarkan analisis yang dilakukan, terlihat posisi media massa tersebut “gamang” bahwa media massa tersebut sering tidak seimbang dalam menampilkan sesuatu, sehingga ada kelompok yang termarginalkan. Selain itu, media massa tersebut selalu memakai simbol agama Islam dalam pemberitaanya, sehingga akan menimbulkan makna stigmatisasi dalam pandangan masyarakat terhadap berita yang ditampilkannya.

Kata kunci: stigmatisasi, ekslusi, inklusi, terorisme, media online

PENDAHULUAN
Peristiwa pengeboman kerap kali terjadi di Indonesia. Aksi pengeboman yang menjatuhkan korban ratusan orang telah menyisakan cerita yang panjang di negeri ini, terutama kejadian di Bali, Kedubes Australia, Kedubes Filipina, JW Marriot dan Ritz Carlton, sebagai bukti sejarah pengeboman tragis di Indonesia. Sosok pelaku selalu menghiasi laman utama media, baik media cetak maupun media elektronik. Sekarang, pemberitaan itu semakin merambas, bahkan selalu menjadi berita yang hangat untuk diperbincangkan.
Media massa memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern. Media tampil sebagai jembatan atau sumber informasi yang membentuk pandangan publik yang menyajikan berbagai macam berita. Berita yang disajikan adalah suatu peristiwa atau kejadian yang telah diamati oleh seorang wartawan kemudian direpresetasikan kedalam teks berita. Eriyanto (2009) menyampaikan bahwa salah satu agen terpenting dalam mendefinisikan kelompok adalah media. Melalui pemberitaan yang terus-menerus disebarkan, media secara tidak langsung membentuk pemahaman dan juga kesadaran di kepala khalayak mengenai suatu peristiwa.
Aksi terorisme adalah bahan yang selalu menarik untuk diberitakan oleh media massa. Sejumlah media massa, baik di luar negeri maupun di Indonesia tidak pernah melewatkan peristiwa aksi terorisme dalam pemberitaan mereka. Aksi dan sepak terjang terorisme, belakangan dilakukan oleh kelompok kecil di Gowa Sulawesi Tengah, dan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang menarik perhatian media massa. Aksi teror sekelompok orang yang melakukan penyebaran ketakutan pada masyarakat mengandung unsur penting dalam sebuah berita yaitu nilai berita ‘konflik’. Selain itu jatuhnya korban, besarnya kerusakan yang ditimbulkan aksi terorisme merupakan unsur penting yang diburu oleh media massa.
Isu terorisme ini menarik untuk dianalisis, salah satunya karena kondisi pers Indonesia di era reformasi berada dalam era kebebasan, media tidak lagi dibebani dengan ketakutan akan pembreidelan dan pencabutan SIUPP sebagaimana era sebelumnya. Meskipun demikian, ada ‘kegamangan’ bagi media, saat menyiarkan dan memberitakan trend kekerasan bernafaskan sentimen agama khususnya soal terorisme. Media yang memberitakan aksi terorisme tidak semudah memberitakan persoalan politik dan kegiatan sosial yang terjadi sehari-hari di tengah masyarakat.
Bisa dikatakan, dalami tengah suasana aksi terorisme sesungguhnya media berada di tengah realitas sosial yang sarat dengan kepentingan, konflik, dan fakta yang kompleks dan beragam. Realitas adalah hasil dari ciptaan manusia kreatif melalui kekuatan konstruksi sosial terhadap dunia sekelilingnya. Dunia sosial itu dimaksud sebagaimana yang disebut oleh George Simmel, bahwa realitas dunia sosial itu berdiri sendiri di luar individu, yang menurut kesannya bahwa realitas itu “ada” dalam diri sendiri dan hukum yang menguasainya. (Bungin, 2008:12).
Realitas atau kenyataan sosial (social reality) adalah realitas sosial suatu masyarakat yang sedang melaksanakan berbagai penyesuaian modernitas. Media massa kadang memposisikan diri pada tiga hal antara lain, keberpihakan media massa kepada kapitalisme. Media massa digunakan oleh kekuatan kapital untuk menjadikan media massa sebagai mesin uang dan pelipatgandaan modal lewat penyajian beritanya. Posisi kedua adalah adanya keberpihakan semu kepada masyarakat. Media massa seolah berpihak pada rakyat dalam bentuk simpati, empati dan berbagai partisipasi kepada masyarakat, tapi ujung-ujungnya “menjual berita” dan menaikkan rating untuk kepentingan kapitalis atau pihak pemilik modal.
Keberpihakan kepada kepentingan umum adalah posisi media yang terakhir. Bentuk keberpihakan ini merupakan arti sesungguhnya yaitu visi setiap media massa, meski akhir-akhir ini visi tersebut tidak pernah menunjukkan jati dirinya, namun slogan-slogan tentang visi ini tetap terdengar. (Bungin, 2008:196-197) Aksi terorisme menjadi salah satu menu penting dari media massa dan dijadikan headline pemberitaan. Persoalannya terletak bagaimana media menggambarkan dan menyampaikan beritanya secara objektif.
Pemberitaan-pemberitaan tersebut menimbulkan stigmatisasi pemaknaan, sehingga menumbuhkan opini publik yang keliru. Hal itu sesuai dalam pengertian di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1994: 720) bahwa stigmatisasi adalah ciri yang menempel pada seseorang karena pengaruhnya. Maka maksud penulis dalam penelitian ini adalah media massa online, Tempo.com, Kompas.com, dan Antara.com, yang dalam pemberitaanya sering me-labe-li setiap pelaku terduga terorisme sebagai benar-benar sebagai teroris yang sebenarnya, selain itu media massa tersebut juga selalu menampilkan simbol-simbol agama tertentu dalam setiap pemberitaannya, sehingga turut andil dalam mambangun opini publik keliru atau sesuatu yang belum tentu pasti kebenarannya.
Persoalan terorisme di Indonesia ditinjau dari analisis wacana yang melihat teks berita sebagai alat media massa untuk merepresentasikan sikap, kebijakan dan ideologi. Fenomena pemberitaan bisa dibedah dengan dengan pisau analisis wacana kritis (AWK), untuk bisa memaknanya secara utuh. Pada penelitian ini peneliti menganalisa teksnya dari segi ekslusi dan inklusi, untuk akan melihat stigmatisasi. Penelitian ini menggunakan model analisis wacana ini Theo Van Leeuwen, yaitu untuk mendeteksi dan meneliti bagaimana suatu keompok atau seseorang dimarjinalkan posisinya dalam suatu wacana, sehingga terjadinya stigmatisasi dalam pandangan khalayak.
Theo Van Leeuwen dalam karyanya yang berjudul “The representation of social actors” dalam Carmen Rosa Caldas-Coulthard dan Malcom, Text and Practice: Readings in Critical Discourse Analysis (1996:32-69) melihat bahwa bagaimana suatu kelompok dominan lebih memegang kendali dalam menafsirkan suatu peristiwa dan pemaknaannya. Sementara kelompok lain yang posisinya rendah lebih cenderung untuk terus-menerus sebagai objek pemaknaan, dan digambarkan secara buruk.
Analisis Van Leeuwen secara umum menampilkan bagaimana pihak-pihak dan aktor (bisa seseorang atau kelompok) ditampilkan dalam pemberitaan. Ada dua pusat perhatian yaitu; pertama, proses pengeluaran (exclusion). Apakah dalam suatu teks berita ada kelompok atau aktor yang dikeluarkan dalam pemberitaan, dan strategi wacana apa yang digunakan. Proses pengeluaran ini secara tidak langsung bisa mengubah pemahaman khalayak akan suatu isu dan melegitimasi posisi pemahaman tertentu. Kedua, proses pemasukan (inclusion), yang berkaitan bagaimana masing pihak atau kelompok tertentu ditampilkan dalam pemberitaan. Diharapkan penelitian dengan model ini akan bisa memperlihatkan stigmatisasi pemberitaan terorisme dalam media online.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini berjenis kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang lebih banyak mementingkan segi proses daripada hasil (Moleong, 2002:7). Metode deskriptif merupakan sebuah metode penelitian yang dilakukan dengan jalan mengumpulkan data, menyusun, mengklasifikasikan, dan menginterpretasikan data. Pendapat senada, diungkapkan Semi (1993:24), penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif berarti memiliki data yang terurai dalam bentuk kata-kata, bukan angka-angka. Pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif ini berpandangan bahwa semua hal yang berupa system tanda tidak ada yang boleh disepelekan. Semua penting dan memiliki pengaruh serta kaitan dengan yang lain.
Penelitian ini menggunakan model Theo Van Leeuwen, yaitu sebuah model analisis wacana, untuk mendeteksi atau mengetahui bagaimana suatu kelompok hadir sebagai kelompok yang dimarginalkan. Analisis Van Leeuwen menampilkan bagaimana aktor dan pihak-pihak (perorangan atau kelompok) ditampilkan dalam pemberitaan. Ada dua titik fokus perhatian dalam analisis wacana ini. Pertama, sebagai proses pengeluaran (exclusion) yaitu apakah dalam ada kelompok atau aktor yang dikeluarkan dalam pemberitaan. Proses pengeluaran ini secara tidak langsung bisa mengubah pemahaman khalayak akan suatu isu dan melegitimasi posisi pemahaman tertentu.
Kedua, proses pemasukan (inclusion). Proses bagaimana suatu kelompok atau aktor ditampilkan dalam pemberitaan. Menurut Theo baik ekslusi maupun inklusi, terdapat strategi wacana tertentu, dengan menggunakan kata, kalimat, informasi atau susunan bentuk kalimat tertentu, cara bercerita tertentu, masing-masing kelompok direpresentasikan ke dalam sebuah teks.
Objek penelitian adalah berita tentang terorisme dalam media massa online nasional Tempo.co, Kompas.com, dan Antara.com. Pemilihan ketiga media massa online tersebut karena media tersebut bertaraf nasional, dan sudah berdiri sejak lama dalam dunia pemberitaan. Berita yang diambil adalah berita yang dimuat pada tahun 2015, berjumlah 6 (enam) berita, yang masing-masing 2 (dua) berita per media. Pembahasan ini diharapkan bisa memperlihatkan bagaimana sikap dari media massa dalam pemberitaannya, baik proses ekslusi dan inklusi, sehingga melahirkan stigmatisasi dalam pandangan khalayak sebagai pembaca.

PEMBAHASAN
Pada bagian pembahasan ini akan dianalisis berita-berita tentang terorisme, yang dimuat dalam tiga buah media massa, yaitu Tempo.com, Kompas.com, dan Antara.com. Berita-berita tersebut dimuat dalam kisaran tahun 2015, yang terdiri dari 6 (enam) buah berita. Adapun analisis berita-berita tersebut adalah seperti di bawah ini.
Berita 1
Judul
Terduga Teroris di Makassar Dibekuk Seusai Salat Isya
Nara sumber
seorang satpam kompleks perumahan, Husdar, Kepala Polda Sulawesi Selatan dan Barat, Inspektur Jenderal Anton Setiadji,
Frame/Pokok Berita
Tempo.com merepresentasikan bahwa mahasiswa yang rajin shalat banyak yang menjadi teroris, selain itu Tempo.com juga memakai kata “tertembak” seolah-olah tidak sengaja ditembak Densus 88.
Representasi
Tempo.com tidak menjelaskan alasan ditangkapnya sejumlah mahasiswa sebagai teroris, padahal baru dugaan.
Ekslusi dan Inklusi
Tempo.com adanya inklusi terhadap teroris, banyak membicarakan seolah-olah sejumlah mahasiswa yang siap shalat ditangkap benar-benar pihak yang bersalah, meskipun tidak dijelaskan penyebabnya sehingga dianggap sebagai teroris.
Stigmatisasi
Adanya pemberitaan ini, akan memberi pandangan yang buruk dan berstigmatisasi terhadap sejumlah mahasiswa, apalagi mahasiswa yang dekat dengan urusan agama, terutama agama Islam.

Berita 2
Judul
Kontras: Polisi Gegabah dalam Penanganan Terorisme
Nara sumber
Nasrum, Wakil Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Sulawesi, dan hasil reportasi wartawan Tempo.com.
Frame/Pokok Berita
Meskipun judulnya seolah-olah kesalahan polisi, tetapi tetap saja Tempo.com merepresentasikan bahwa pihak lain yang yang salah, misalnya perkataan pihak Kontras, yang menuduh polisi yang salah, dan mahasiswa bernama ke-islaman itu didiga teroris.
Representasi
Tempo.com kembali tidak menjelaskan alasan ditangkapnya sejumlah mahasiswa sebagai teroris, padahal baru dugaan.
Ekslusi dan Inklusi
Tempo.com adanya inklusi terhadap teroris, banyak membicarakan pada sisi terorisnya, dan nama-nama mahasiswa yang bernada Islam itu sebagai teroris, dan pihak polisi di ekslusikan seakan-akan tidak bersalah.
Stigmatisasi
Adanya pemberitaan ini, akan memberi pandangan yang buruk dan berstigmatisasi terhadap sejumlah mahasiswa, apalagi mahasiswa yang dekat dengan urusan agama, memakai nama bernada Islam, dianggap teroris.

Berita 3
Judul
Rupert Murdoch Salahkan Kaum Muslim atas Teror di Prancis
Nara sumber
dari pengguna twitter dan hasil reportasi wartawan di media sosial Kompas.com.
Frame/Pokok Berita
Judulnya seakan-akan menyela pernyataan Rupert Murdoch, tetapi debalik itu Kompas.com secara tidak langsung menyatakan bahwa orang muslim itu teroris, karena di berita dikatakan bahwa pernyataan Rupert Murdoch difavoritkan oleh 2000 orang.
Representasi
Kompas.com memberitakan sesuatu tanpa adanya wawancara langsung, tetapi hanya diambil dari komentar twitter, dan komentar yang diambil pun tidak seimbang.
Ekslusi dan Inklusi
Kompas.com mengekslusikan muslim sebagai pihak yang tersudutkan, termaginalkan, dan menginklusikan bahwa pernyataan Rupert Murdoch ditonjolkan dengan seakan-seakan benar.
Stigmatisasi
Adanya pemberitaan ini, stigmatisasi khalayak kepada kaum muslim atau Islam semakin menjadi-jadi, sehingga kaum muslim dinyatakan benar-benar teroris.

Berita 4
Judul
Diduga Teroris, Densus 88 Tangkap 5 Mahasiswa Asal Bima di Makassar
Nara sumber
Irjen.  Pol Anton Setiadji, Kapolda Sulselbar, dan hasil reportasi wartawan Kompas.com.
Frame/Pokok Berita
Kompas.com merepresentasikan bahwa mahasiswa tersebut adalah teroris, dan menyatakan anggota Mujahidin Indonesia Timur adalah kelompok teroris.
Representasi
Kompas.com tidak memberikan tempat yang seimbang, mahasiswa itu hanya dugaan teroris, belum teroris.
Ekslusi dan Inklusi
Kompas.com menginklusikan mahasiswa/pemuda di Bima, san anggota MIT sebagai teroris, yang ditonjolkan hanya satu pihak, yaitu bahwa Densus 88 benar, dan pihka Kompas.com terlalu mudah percaya dengan perkataan polisi tanpa adanya penelurusan lebih lanjut.
Stigmatisasi
Adanya pemberitaan ini, akan memberi pandangan khayalay yang buruk dan berstigmatisasi bahwa umat Islam itu teroris, MIT itu teroris, dan teroris memang pantas mati ditembak oleh Densus 88.

Berita 5
Judul
Polisi Sita Senjata Api dari Teroris Tewas
Nara sumber
AKBP Hari Suprapto, Kepala Bidang Humas Polda Selawesi Tengah, dan hasil reportasi wartawan Antara.com.
Frame/Pokok Berita
Antara.com merepresentasikan bahwa Mujahidin Indonesia Timur (MIT) adalah benar-benar teroris, dan teroris adalah anggota MIT.
Representasi
Antara.com tidak menjelaskan bahwa orang tersebut benar-benar teroris atau tidak, dan Antara.com mengatakan dua orang terduga teroris tersebut mati “tertembak” seakan-akan tidak disengaja ditembak, jelas-jelas disini adanya marginalisasi.
Ekslusi dan Inklusi
Antara.com mengekslusikan bahwa Densus 88 tidak bersalah atas penembakan/pembunuhan terduga teroris, padahal baru “terduga”, selain itu menginklusikan bahwa kata-kata teroris, seolah-seolah benar-benar yang disalahkan, tanpa adanya investigasi lebih lanjut, dan Antara.com terlalu percaya dengan perkataan polisi.
Stigmatisasi
Adanya pemberitaan ini, akan memberi pandangan yang buruk dan berstigmatisasi terhadap kaum muslim, karena memakai Mujahidin Indonesia Timur, meskipun itu bisa dikatakan Islam garis keras, namun pandangan khalayak tetap pada Islamnya.

Berita 6
Judul
Polisi Tangkap Satu Terduga Teroris di Makassar
Nara sumber
Brigjen Agus Rianto, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, hasil reportasi wartawan Antara.com.
Frame/Pokok Berita
Antara.com merepresentasikan bahwa tindakan Densus 88 itu benar, karena menangkap teroris meskipun baru tersangka.
Representasi
Antara.com tidak menyediakan tempat untuk pihak terduga teroris sebagai pihak yang ditampilkan, disini terlihat adanya marginalisasi.
Ekslusi dan Inklusi
Antara.com tidak melakukan verifikasi dengan mencari tahu langsung dengan pihak terduga dan sumber-sumber lain, di sini Antara.com hanya bersumber pada satu pihak.
Stigmatisasi
Adanya pemberitaan ini, akan memberi pandangan yang buruk dan berstigmatisasi segala sesuatu yang bernafas Islam itu teroris, apalagi orang Indonesia pergi ke Suriah, yang belum pasti bergabung dengan ISIS, tetapi tetap dilabel teroris dengan nama Islam.

Berdasarkan dari kajian teks yang ada, dapat ditemukan bahwa kebanyakan berita terorisme yang disajikan oleh media massa, Tempo.com, Kompas.com, dan Antara.com mengabaikan nilai-nilai jurnalistik yang seharusnya mengedepankan keberimbangan pemberitaan. Terbukti saat informasi soal kejadian atau peristiwa terorisme, Tempo.com, Kompas.com, maupun Antara.com lebih banyak percaya kepada klaim dan pernyataan dari lembaga atau badan yang berwenang seperti pihak Kepolisian dan Densus 88. Secara etis, seharusnya media massa memiliki konsep penting tentang keseimbangan narasumber.
Berdasarkan analisis dari keenam berita-berita di atas, bisa ditelusuri bahwa setiap media online tersebut memuat berita kurang memenuhi persyaratan sebagai berita yang padu. Artinya, masih banyak sumber-sumber yang tidak ditampilkan dalam pemberitaan tersebut, atau sengaja dihilangkan. Berita-berita yang disajikan hanya didukung satu pihak, sehingga ada pihak yang termaginalkan, yaitu para teroris.  Bahasa-bahasa yang digunakan banyak yang menjurus ke isu-isu agama, terutama agama Islam. Apapun segala sesuatu yang berbau Islam ditampilkan dalam pemberitaan, misalnya nama-nama Islami, tempat ibadah, kelompok atau organisasi Islam tertentu ditampilkan secara gamblang, bahkan universitas yang bernafaskan Islam.
Berita-berita yang ditampilkan tidak berimbang, sehingga sudah melenceng dari kode etik jurnalistik. Mayoritas pemberitaan yang ditampilkan oleh ketiga media massa online, baik Tempo.com, Kompas.com, maupun Antara.com hanya memihak pada satu sudut, tanpa melihat sudut yang lain. Media-media tersebut hanya mengejar ratting media yang dikelolanya, sehingga dalam pemberitaan ada yang terabaikan. Media massa tersebut lebih percaya kepada pihak tertentu, baik kepolisian atau polri, maupun Densus 88, tanpa berani untuk melakukan verifikasi dengan investigasi langsung ke pihak yang termaginalkan.
Selain itu, pihak-pihak terkait seperti polri, kepolisian, dan Densus 88 tidak mendapatakan sanksi apa-apa, yang sudah membunuh para terduga teroris juga. Padahal para korban yang ditembak tersebut hanya “berstatus” terduga, belum pasti sebagai teroris. Jika ditelusuri lebih lanjut, pihak Densus 88 atau kepolisian juga bersalah karena telah membunuh orang lain yang belum tahu kejelasannya. Selanjutnya, bahasa-bahasa yang dipakai oleh ketiga media massa tersebut banyak yang mengalihkan makna. Misalnya saja, pada kata terori “tertembak”, yang seolah-olah tidak sengaja ditembak oleh pihak Densus 88 atau pihak kepolisian. Seharusnya menggunakan kata “ditembak”, biar benar-benar sesuai fakta. Hal ini tentu karena para teroris itu meninggal jelas ditembak dengan sengaja, bukan ditembak dengan coba-coba.
Pada setiap pemberitaan, ketiga media tersebut selalu ada memakai simbol-simbol agama Islam, yang seakan-akan agama Islam lah yang menyimpan teroris. Padahal jika ditelusuri lebih jauh, Islam itu agama yang indah penuh keindahan, damai penuh dengan kedamaian. Hingga pada akhirnya, pemberitaan seperti itulah yang memberi pandangan buruk terhadap agama Islam dan kegiatan-kegiatan Islami. Pandangan itu akan membawa stigmatisasi bahwa orang beragama Islam itu teroris, suka membunuh, seka kekerasan, dan lain-lain. Sebaliknya, banyak agama-agama lain yang justru lebih brutal melakukan pembunuhan, seperti yang terjadi di Rohingya. Kekejaman para kaum budhis dalam membantai kaum muslim secara massal, rumahnya dibakar, masjid dihancurkan, seperti itu juga yang terjadi di India, dan di negara-negara lainnya, justru kaum muslim yang jadi korban.
Namun tetap saja stigmatisasi seperti itu khalayak sudah terlanjur melekat di benaknya, sehingga apapun tindakan umat Islam yang baik selalu saja ada yeng memelintirkannya dalam media massa, seolah-olah yang dilakukan umat Islam itu tidak benar. Sebalikbnya, apapun dan oleh siapapun tindakan serta sekecil apapun kekerasan yang dilakukan umat Islam, bakal ditindaklanjuti dan akan diberi label sebagai terorisme oleh media. Media massa tidak pernah memakai seperti kata  mujahid, tetapi kata teroris, seolah-olah Islam agama yang meneror.
Stigmatisasi khalayak, para kaum muslim dengan ciri-ciri tertentu harus diburu, dan diduga teroris. Hal itu bisa dilihat dari pemberitaan tiga media massa tersebut, yang mayoritas bahasanya “terduga teroris”, bukan teroris. Ketiga media lebih percaya kepada isu-isu yang belum tentu benar, tetapi sudah diberitakan. Pemberitaan seperti ini akan melahirkan masalah baru, dan salah pemaknaan bagi khalayak sebagai pembaca. Padahal seharusnya, media massa harus memberitakan kebenaran sebagai penengah dalam membawa kedamaian.

SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan dari kajian teks yang ada, dapat ditemukan bahwa kebanyakan berita terorisme yang disajikan oleh media massa, Tempo.com, Kompas.com, dan Antara.com mengabaikan nilai-nilai jurnalistik yang seharusnya mengedepankan keberimbangan pemberitaan. Terbukti saat informasi soal kejadian atau peristiwa terorisme, Tempo.com, Kompas.com, maupun Antara.com lebih banyak percaya kepada klaim dan pernyataan dari lembaga atau badan yang berwenang seperti pihak Kepolisian dan Densus 88. Secara etis, seharusnya media massa memiliki konsep penting tentang keseimbangan narasumber. Selain itu, bahasa-bahasa yang digunakan adanya pengalihan makna, seperti kata “tertembak”, seakan-akan tidak sengaja ditembak, padahal sesungguhnya sudah dipastikan Densus 88 sengaja menambak, meskipun hanya brstatus terduga teroris, belum teroris.
Pada setiap pemberitaan, ketiga media tersebut selalu ada memakai simbol-simbol agama Islam, yang seakan-akan agama Islam lah yang menyimpan teroris. Islam kembali termaginalkan dengan bahasa wacana ekslusi dan inklusi. Sehingga paradigma Islam sebagai agama yang indah dan damai terhapus dan kemudian diganti dengan stigmatisasi yang buruk dari khalayak atau pembaca. Maka, ada kecenderungan bahwa Tempo.com, Kompas.com, maupun Antara.com hanya bersandarkan pada sumber satu arah yaitu sumber kepolisian, dan seakan apa saja fakta atau pendapat dari kepolisian merupakan satu-satunya kebenaran yang tidak perlu dicermati lagi apakah ini sebuah kebohongan atau rekayasa belaka sebagai pengalihan isu, atau menyudutkan Islam.
Disarankan, semoga pada setipa pemberitaan yang akan ditampilkan media massa seperti Tempo.com, Kompas.com, maupun Antara.com, bisa lebih cerdas, cermat, dan hati-hati dalam menampilkan sesuatu dalam pemberitaan. Apalagi mengenai terorisme, yang sensitif dan suatu masalah yang banyak bersinggungan dengan masyakarat luas. Harapan ini agar pemberitaan yang dilakukan tidak ada yang merugikan siapapun dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai jurnalistik.

DAFTAR RUJUKAN
Eriyanto. 2009. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.
Bungin, Burhan. 2008.Sosiologi Komunikasi (Teori, Paradigma, dan Discourse Teknologi Komunikasi di Masyarakat). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Leeuwen,Theo Van. 1996. The Representation of social actors, dalam Carmen Rosa Caldas-Coulthard, Text and Practice. Routledge, London.
Moleong, Lexy. J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja
          Rosdakarya.
Pusat Pembinaan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Semi, M. Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Sumber lain:
Tempo.com, 27 Mei 2015
Tempo.com 4 Juni 2015
Kompas.com 12 Januari 2015
Kompas.com 26 Mei 2015
Antara.com 24 April 2015
Antara.com 24 Mei 2015


Tulisan ini sebagai Tugas Akhir Matakuliah Perbandingan Wacana di Magister FBS UNP, diampu oleh Dr. Ngusman Abdul Manaf, M.Hum.
Share:

TERKINI

POPULER

Ragam

TERKINI

ARSIP

TOTAL PENGUNJUNG