Penting, Tapi Bukan Jaminan

Dulu hingga kini, paradigma seseorang melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi, masih seputar mencari gelar, agar cepat lulus dan mencari kerja. Selain itu, Indeks Prestasi Komulatif (IPK) masih menjadi tolak ukur kecerdasan akademiknya.
Sehingga tidak dipungkiri IPK tinggi menjadi sasaran utama bagi sebagian mahasiswa agar memudahkan akses dalam berbagai hal, misalnya melamar beasiswa, program pertukaran pelajar, lamaran kerja, bahkan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
IPK memang penting, karena persyaratan awal untuk bersaing di dunia kerja. Tetapi itu semua tidak menjamin sukses atau tidaknya seseorang. Untuk meraih sukses, banyak aspek penilaian yang yang harus dimiliki, misalnya kemampuan, keahlian, dan kecakapan. Bahkan tiga aspek itu lebih penting dibanding rentetan nilai dengan interval nol hingga empat tersebut,. Sayangnya, aspek-aspek tersebut sering diabaikan. Lihat saja sarjana pengangguran sekarang, IPK memang tinggi, namun kemampuan untuk mempertanggungjawabkannya nol, tentu kata sukses masih jauh dari angan-angan.
Oleh sebab itu, berpikir kreatif dengan mendayagunakan logika, etika dan estetika untuk memaksimalkan potensi diri itu lebih baik, daripada memiliki IPK tinggi tapi tidak punya skill sama sekali. Namun alangkah baiknya, jika mampu memilih keduanya. Jadi seseorang sangat perlu adanya faktor penunjang tertentu yang bisa dilihat dari Curriculum Vitae yang dimiliki. Intinya jangan pernah abaikan aspek lain, karena emosi positif kunci utama menjangkau sukses, yang menguatkan kecerdasan nalar dan logika sehingga dapat berkembang lebih baik.


            WAHYU SAPUTRA
MAHASISWA PEND. BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI PADANG
Share:

Julukan Mahasiswa

Jika ada orang mengatakan mahasiswa terdiri dari orang-orang yang berintelektual dan multitalenta, tidak salah juga tidak selalu benar. Kita tahu, dalam perguruan tinggi bukan saja diisi oleh orang-orang yang memiliki kemampuan lebih disegi akademik. Artinya beranekaragam karakter dan kemampuan bawaan mahasiswa. Itu terlihat dari kepribadian serta kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa itu tersendiri.
Kita ketahui, ada mahasiswa yang beraktifitas, berekspresi di organisasi dalam dunia kampus. Mahasiswa selain kuliah juga sibuk dengan rapat ini kerab dengan gelar sebagai mahasiswa kura-kura. Dibalik mengembangkan minat serta bakat yang dimiliki, juga menyambung lidah untuk menyurakan apresiasi mahasiswa lainnya. Tapi ada juga mahasiswa yang cuek dengan keadaan lingkungan kampus. Mahasiswa ini bergelar kupu-kupu, yang hanya terfokus pada akademik, tujuannya kuliah, mencari nilai tinggi dan cepat wisuda semata. Biasanya mahasiswa seperti ini unggul disegi akademik, namun kurang soft skill lainnya.
Nah, tentunya dari karakter yang dimiliki mahasiswa tadi, mempunyai jalur yang berbeda. Baik dari segi proses, perjalanan, serta bentuk kesuksesannya masing. Memang, tidak ada yang bisa menentukan yang yang pantas sukses atau tidak, tapi yang jelas kesuksesan itu perlu dijemput. Mustahil rasanya, jika kesuksesan datang tiba-tiba, secara instan, tanpa ada usaha.
Jelasnya, mahasiswa harus kreatif menentukan jalannya sendiri. Kesuksesan itu ditentukan oleh orang yang menjalani, bukan tergantung apa yang dijalani. Mahasiswa sudah cukup cerdas dunia kerja mana yang ingin dimasukinya. Setiap dunia kerja punya ciri masing-masing, baik dari segi penerimaan, proses kerja, dan sebagainya. Tentu, tidak hanya dilihat prestasi akademik, namun juga perlu soft skill lainnya, begitu juga sebaliknya. Pilihlah sesuai keingin kita, bukan keinginan orang lain. Ingat! Hidup itu pilihan.
Wahyu Saputra
Mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS UNP.
Share:

Bahasa Bangsa di Mata Mahasiswa

“Bahasa menunjukkan bangsa”. Kata itu mungkin tidak asing lagi kita dengar. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah bangsa sekarang benar-benar sudah menunjukkan bahasanya? Seberapa besar cinta masyarakat bangsa kepada bahasanya? Serta seberapa besar rasa cinta kita terhadap bahasa? Kita memang tidak pernah tahu, yang jelas bahasa persatuan kita semakin sempit ruangannya diantara bahasa lain. Buktinya masih banyak yang tidak bisa, tidak mau, bahkan tidak PeDe memakai bahasa nasionalnya sendiri. Sangat menyedihkan
Hal itu sering terjadi dikalangan mahasiswa yang sudah puluhan tahun mengenyam pendidikan. Dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, maupun dilingkungan kampus, sangat jarang mahasiswa menunjukkan bahasa bangsanya. Apalagi menggunakannya secara baik dan benar. Nampaknya mereka lebih senang dan bangga menggunakan bahasa Indonesia Minang (Indomi) yang trend dengan bahasa alay. Padahal kesenangan mereka mencapuradukkan bahasa itu memojokkan keberadaan bahasa bangsanya sendiri.
Jika ditinjau lebih jauh, kita patut bersyukur karena bisa mempunyai bahasa nasional sendiri, yaitu bahasa Indonesia. Tidak semua bangsa mempunyai bahasa nasionalnya sendiri. Misalnya saja negara Malaysia, yang memakai bahasa Inggris sebagai persatuannya. Apalagi bahasa persatuan kita lahir dari bulir-bulir darah pejuang bangsa. Nah, sudah seharusnya sebagai orang yang mencintai bangsa, tentunya juga harus bisa menjaga bahasanya. Apabila kita menjujung tinggi bahasa, tentunya sudah bagian mencintai bangsa.
Wahyu Saputra
Mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS UNP.
Share:

TERKINI

POPULER

Ragam

TERKINI