Mahasiswa, Saling Ejek Demi Kekuasaan


Seminggu yang lalu, aku kembali ke Padang, setelah beberapa bulan mengikuti pelatihan kependidikan di kota wisata Bukittinggi. Rasanya sungguh rindu duduk kembali di bangku kuliah, menatap wajah papan tulis. Bergelut dengan tugas serta membolak-balik buku. Menghabiskan waktu di sekre organisasi mahasiswa (Ormawa), siang dan malam. Mungkin itu hanya fantasiku saja, karena sekarang aku sudah di penghujung pada dunia kampus.
Sesampainya di kota Padang, esok hari aku sibuk untuk menyerahkan Tugas Akhir (TA) pelatihan kependidikan ke dosen pembimbing. Sambil bercerita dengan teman-teman di depan jurusan, aku sempat menanyakan kabar Ormawa. Teman-teman itu menjawab, kacau, caliaklah dinding sekre tu kini.
Share:

Keistimewaan Bulan Rajab


Alhamdulillah, sekarang kita sudah menempuh awal bulan Rajab, tepatnya tanggal 22 Mei 2012. Pada bulan Rajab ini mengingatkan kita untuk banyak melakukan amalan kebaikan dimata-Nya. Rugi rasanya apabila kita tidak mensyukuri dan memanfaatkan datangnya bulan yang banyak mengandung keistimewaan ini. Padahal ini saatnya kita menggunakan kesempatan serta sisa umur kita untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya.
Di dalam Al-Qur’an dan beberapa hadist Rasulullah saw, menjelaskan keistimewaan bulan Rajab, dapat disimpulkan antara lain:
1.      Hendaklah kamu memuliakan bulan Rajab, niscaya Allah akan memuliakan kamu dengan seribu kemuliaan di hari kiamat.
2.      Bulan Rajab bulan Allah, bulan Sya’ban bulanku, dan bulan Ramadhan bulan umatku.
3.      Kemuliaan bulan Rajab dengan Isra’ Mi’rajnya, Sya’ban dengan nisfunya dan Ramadhan dengan Lailatul Qadarnya.
4.      Jika puasa sehari pada bulan Rajab akan mendapatkan surga yang tertinggi (firdaus), jika puasa dua hari akan dilipatgandakan pahalanya.
5.      Jika puasa tiga hari (tanggal 1, 2, dan 3) pada bulan Rajab, akan dijadikan parit yang panjang sebagai penghalangnya ke neraka (panjangnya setahun perjalanan).
6.      Jika puasa tiga hari (tanggal 1, 2, dan 3) pada bulan Rajab, maka Allah akan memberikan pahala seperti 900 tahun berpuasa dan Allah akan menyalamatkan dari bahaya dunia serta siksa di akhirat.
7.      Jika puasa tujuh hari pada bulan Rajab, akan ditutup tujuh pintu neraka untuknya dan jika puasa delapan hari pada bulan Rajab, maka akan dibukakan delapan pintu surga untuknya.
8.      Jika puasa lima belas hari pada bulan Rajab maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan menggantikan semua kejahatannya dengan kebaikan, serta jika siapa yang menambah puasanya, maka Allah akan menambahkan pula pahalanya.
9.      Jika berpuasa pada tanggal 27 bulan Rajab (Isra’ Mi’raj) akan mendapat pahala seperti lima tahun berpuasa.
10.  Keistimewaan bulan Rajab dari segala bulan ialah seperti kelebihan Al-Qur’an ke atas semua Qalam (perkataan).
11.  Puasa sehari pada bulan Rajab seumpama puasa empat puluh tahun dan diberi minuman air dari surga.
12.  Pada bulan Rajab Syahrullah (bulan Allah), diampuni dosa orang-orang yang meminta ampun dan bertaubat kepada-Nya. Puasa pada bulan Rajab, Allah mewajibkan untuk mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu, Allah akan memelihara sisa umurnya, dan terlepas dari dahaga di akhirat.
13.  Jika puasa pada awal bulan Rajab, pertengahan bulan, dan akhir bulannya, maka seperti puasa sebulan pahalanya.
14.  Jika bersedekah pada bulan Rajab, seperti bersedekah seribu dinar, dituliskan pada setiap helai bulu roma jasadnya seribu kebajikan, diangkat seribu derajat, dan dihapuskan seribu kejahatan.

Sabda Rasulullah SAW : 
“Pada malam Mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya  bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini?” Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang  membaca salawat untuk engkau dibulan Rajab ini”.

Dalam Sebuah Riwayat Tsauban Bercerita: 
“Ketika kami berjalan bersama-sama Rasulullah SAW ke sebuah kubur, lalu Rasulullah berhenti dan beliau menangis dengan amat sedih, kemudian beliau berdoa kepada ALLAH SWT. Lalu saya bertanya kepada beliau:”Ya Rasulullah  mengapakah engkau menangis?” Lalu beliau bersabda:”Wahai Tsauban, mereka itu sedang disiksa dalam kubur nya, dan saya berdoa kepada ALLAH, lalu ALLAH meringankan siksa atas mereka”. Sabda beliau lagi: “Wahai Tsauban, kalaulah sekiranya mereka ini mau berpuasa satu hari dan beribadah satu malam saja di bulan Rajab niscaya merekatidak akan disiksa di dalam kubur.”Tsauban bertanya: “Ya Rasulullah,apakah hanya berpuasa satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah dapat mengelakkan dari siksa kubur?” Sabda beliau: “Wahai Tsauban, demi ALLAH Zat yang telah mengutus saya sebagai nabi, tiada seorang muslim lelaki dan perempuan yang berpuasa satu hari dan mengerjakan sholat malam sekali dalam bulan Rajab dengan niat karena Allah, kecuali Allah mencatatkan baginya seperti berpuasa satu tahun dan mengerjakan sholat malam satu tahun.”
Sabda beliau lagi: “Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban Adalah bulan aku dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku”. “Semua manusia akan berada dalam keadaan lapar pada hari kiamat, kecuali para nabi, keluarga nabi dan orang-orang yang berpuasa pada bulan Rajab, Sya’ban dan bulan Ramadhan. Maka sesungguhnya mereka kenyang, serta tidak akan merasa lapar dan haus bagi mereka.”

So, jangan sia-siakan kesempatan ini kawan! Terima kasih, semoga bermanfaat. Amiin.
Allahu Akbar!
Referensi: dari berbagai sumber
Share:

Sehari Bersama Mahasiswa Deakin University

Pagi itu, aku dan dua orang temanku dipercayakan sebagai pemandu dalam heacking. Kami menemani beberapa mahasiswa Universitas Deakin Australia yang belajar Intensif Bahasa Indonesia di kampusku, Universitas Negeri Padang. Perjalan pagi itu diikuti oleh ketua jurusan Bahasa Indonesia dan beberapa dosen lainnya. Berawal dari penginapan kami menggunakan Bus kampus menuju Jembatan Siti Nurbaya. Di atas Bus kami langsung diperkenalkan kepada para Bule tersebut oleh salah satu dosen. Mereka menyapa dengan ramah.
Ketika matahari mulai menyingsing, kami mulai melangkah menyusuri jalan setapak di Bukit Gunung Padang. Bukit itu terletak yang tidak jauh dari Jembatan Siti Nurbaya. Memang perjalanan yang tidak begitu jauh, namun cukup melelahkan. Mula-mulanya aku merasa ragu untuk berbicara dengan mahasiswa dari negeri Kangguru itu. Namun setelah mereka bertanya dengan bahasa Indonesia yang patah-patah, aku jadi berani untuk mengeluarkan suara.
Aneh, aku terbawa-bawa menggunakan bahasa campur aduk, pakai bahasa Indonesia dicampur kosa kata bahasa Inggris yang aku ketahui. Kesempatan itu kami manfaatkan untuk berbagi, saling belajar tentang kampus, daerah, kebiasaan, atau budaya masing-masing. Sejak percakapan itulah aku mengetahui nama mereka. Mereka antara lain, Jessica Capkin, Eloise Clarke, Stephanie Cowdery, Alexandra Everard, Michael Filius, Breanna Funston, Clovers Hart, Aimee Lauren Mclachan, dan Erin Mclean.
Tidak terasa, akhirnya dengan waktu kurang lebih satu jam, kami sudah menginjak pasir Pantai Air Manis tersebut. Setelah menelusuri pemandangan dan hamparan lautan Pantai Air Manis itu, kami menghabiskan waktu menemani para mahasiswa Deakin Shopping dipinggiran pantai. Kemudian membawa mereka untuk melihat batu Malin Kundang, beberapa dari mereka mengabadikannya dengan kamera. Berbagai macam gaya mereka lakukan sambil tertawa-tawa, ada yang telungkup seperti batu Malin Kundang, ada juga yang memasang topi pada kepala batu itu. Hah...seru dan heboh waktu itu.
Ketika matahari terlihat mulai tinggi, kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Teluk Bayur. Mulai dari pelabuhan tersebut menggunakan Bus untuk menuju Pantai Carloss yang tidak jauh dari Pantai Caroline bungus. Di sana sudah dihidangkan nasi beserta lauk-pauknya. Kami mulai makan bersama-sama. Terus setelah itu, semuanya terkapar karena kekenyangan. Ada yang tidur-tiduran, ada yang berenang sambil menikmati indahnya pemandangan di Pantai Carloss.
Pukul tiga sore, kami mulai beranjak menuju kampus UNP kembali. Diperjalanan pulang banyak yang ketiduran karena lelah dan suasana dalam Bus tersebut. Sebagian lagi asyik mengobrol dengan kami untuk menceritakan pengalamannya selama di Indonesia, khusunya di Padang. Sambil memperlancarkan bahasa Indonesia mereka, kami pun belajar kosa kata bahasa Inggris. Tepat jam 16.30 sore, kami sudah sampai di kampus dan kembali ke tempat tinggal masing-masing.
Berselang sehari setelah itu, aku dan temanku mendapat undangan dari ketua jurusan untuk menghadiri acara perpisahan Mahasiswa Deakin tersebut. Hanya terima kasih dan selamat jalan yang kuucapkan malam itu. Semoga nanti aku juga bisa berkunjung ke negeri Kangguru tersebut.

Wahyu Saputra
Mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS UNP.
Share:

Cita-Cita Cinta Tak Beruntung

Judul               : Kalau Tak Untung
Pengarang      : Selasih
Penerbit          : Balai Pustaka
Tebal               : 156 Halaman
Cetakan          : 25 Tahun 2004

Sebuah novel berjudul Kalau Tak Untung buah karya seorang perempuan yang bernama Selasih ini sangat menyentuh hati pembaca. Di dalam novel yang berlatarkan Minangkabau ini sangat banyak mengandung nilai moral dan religi.
Selasih merangkai kata dengan luar biasa, walaupun masih banyak menggunakan bahasa melayu namun ceritanya sangat banyak mengungkapkan budaya kehidupan di Minangkabau.
            Awal kisah ini diperankan oleh seorang gadis yang bernama Rasmani, yang tinggal bersama orang tua, kakak, dan adiknya di sebuah desa terpencil yang bernama Bonjol. Keluarganya  hidup serba dalam kekurangan sehingga dia sangat dijauhi oleh masyarakat tempat tinggalnya. Dia seorang gadis yang baik, tertutup, pemalu dan pendiam, sehingga dia selalu diantar oleh orang tuanya ke sekolah. Lain halnya dengan seorang anak laki-laki bernama lengkap Masrullah, anak orang kaya dikampungnya. Dia seorang anak laki-laki yang selalu hidup dalam berkecukupan. Masrul panggilan akrabnya, bukan orang yang sombong, tetapi seorang anak yang sangat baik dan pintar.
            Pada suatu ketika, Masrul pergi ke sekolah bersama Rasmani. Mulai saat itu, mereka selalu ke sekolah berdua dan Rasmani tidak pernah lagi diantar oleh orang tuanya ke sekolah. Semakin hari mereka semakin akrab, Rasmani pun tidak lagi seorang gadis yang pendiam dan pemalu. Masrul benar-benar bisa menjaga Rasmani, mereka berdua bagaikan seorang kakak dan adik. Seluruh kebutuhan sekolah Rasmani dipenuhi oleh Masrul, sehingga kebutuhan sekolah Rasmani serba berkecukupan. Rasmani tumbuh menjadi gadis yang pintar dan pandai dalam bergaul serta mempunyai tingkah laku santun.
            Singkat cerita, ketika mereka beranjak remaja, Masrul merantau ke pesisir tepatnya daerah Painan, karena mendapat mandat untuk bekerja sebagai juru tulis. Sebelum berangkat ke Painan, Masrul sudah ditunangkan dengan seorang gadis yang bernama Aminah. Di sinilah puncak cerita yang semakin besar terjadi dalam novel ini. Semenjak itu, Masrul dan Rasmani sama-sama merasakan kehilangan pada hati mereka, yang hanya bisa berkirim surat untuk melepas rindu atau untuk mengetahui kabar masing-masing.
Di rantau daerah Painan, Masrul dibujuk oleh seorang yang kaya raya untuk menikah dengan anaknya yang bernama Muslina, seorang gadis yang cantik jelita. Masrul tergoda dengan tipuan tersebut, dia bersedia menikah dengan orang kaya tersebut dengan harapan bisa hidup bahagia, walaupun tidak direstui oleh orang tua dan sanak familinya. Namun sebaliknya, setelah menikah Masrul mulai hidup dalam kesengsaraan, bagai kerbau yang ditusuk hidungnya, dan selalu mendapat caci maki dari mertua dan istrinya.
Masrul kemudian naik pangkat dan pindah kerja di Padang, namun badannya semakin kurus, selalu mabuk-mabukkan, dan mulai tidak mengenal Tuhan. Beberapa tahun kemudian, Masrul menceraikan Muslina, kemudian dia kembali ke Bonjol tanah kelahirannya. Masrul akhirnya disambut dengan baik oleh Rasmani dan keluarganya. Semenjak di kampung, tubuh Masrul yang semula kurus kini semakin tumbuh padat dan berisi kembali. Masrul pun semakin berani untuk menyatakan cintanya kepada Rasmani, sahabatnya sejak kecil sekaligus sebagai labuhan hatinya. Rasmani yang sangat mencintai dan mengagumi Masrul, tidak menolak sedikitpun.
Setelah beberapa hari, Masrul meminta izin untuk merantau untuk mencari kerja ke daerah Medan. Masrul dengan semangat mencari kerja, dengan harapan mendapat pekerjaan yang layak dan bisa cepat menikahi Rasmani. Sayangnya, untung tidak dapat di raihnya. Masrul semakin putus asa karena tidak mendapatkan pekerjaan. Masrul pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan cintanya pada Rasmani dengan mengirimkan sepucuk surat. Rasmani setelah membaca surat tersebut mulai jatuh sakit keras.
Selang beberapa minggu, Masrul mendapat pekerjaan dengan gaji yang lumayan tinggi. Masrul pun mulai mengirim surat kembali kepada Rasmani, dengan maksud ingin menjalin hubungan cintanya kembali. Tapi dengan datangnya surat tersebut, Rasmani yang semulanya sudah membaik semakin bertambah parah. Dalipah, kakak Rasmani pun mengirim surat kepada Masrul agar segera pulang menjenguk Rasmani.
Malang tidak dapat dihindarkan untung tidak dapat diraih, ketika Masrul sampai di kampungnya, dia hanya bisa melihat gundukan tanah merah saja. Rasmani sudah meninggal dengan menitipkan sepucuk surat permintaan maaf untuk Masrul. Masrul semakin tersungkur sambil meneteskan air mata, merasa bersalah dengan hati yang gundah serta penyesalannya tanpa akhir. Jadi di dalam novel ini, jika direnungkan sungguh tragedi atau kisah cinta yang memilukan. Walaupun raga selalu penuh rintangan untuk bersatu, tetapi cinta di hati tetap dibawa hingga ajal menanti.

Resensiator:
Wahyu Saputra
Mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS UNP.


Share:

UN: Demi Mutu Atau Malu?


Ketika melihat para SMA atau sederajatnya yang sedang melaksanakan Ujian Nasional (UN) dan persiapan SMP untuk menghadapi UN pada minggu berikutnya, mengingatkan aku pada empat tahun silam. Berperang, berlomba dalam mengerjakan soal-soal ujian demi masa depan. Perjuangan dalam empat hari untuk mempertahankan waktu yang ditempuh selama kurang lebih tiga tahun. Tidak heran jika bermacam cara ditempuh, bukan saja oleh para siswa namun para guru juga ikut berperan, demi mencapai kata “lulus”.
            Anehnya, para siswa kebanyakan kalang kabut mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian hanya seminggu sebelum ujian atau semalam sebelum ujian dimulai. Padahal waktu yang tersedia untuk benar-benar mempersiapkan diri sebelum ujian sangatlah panjang. Tetapi yang namanya siswa dalam usia remaja, tentu sangatlah banyak godaan yang tidak bisa mereka elakkan. Tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan siswa yang bersangkutan.
Apalagi lingkungan masa sekarang sudah memasuki dunia serba modern, serba memanjakan. Semuanya ibarat pisau bermata dua, ketika siswa tersebut bisa memanfaatkan dan mengendalikannya, sungguhlah membawa ke hal yang lebih baik. Namun ketika siswa tersebut dikendalikan oleh dunia modern tadi, tentu sangat membawa dampak yang bisa merusak masa depan siswa itu sendiri. Sehingga waktu yang berlalu selama tiga tahun tersebut hanya terbuang sia-sia saja. Memang tidak heran rasanya ketika ada pemberitaan berbagai kecurangan siswa ketika ujian. Ada siswa tertangkap gara-gara menyontek, membawa HP, dan sebagainya, bahkan ada yang harus berurusan dengan pihak berwajib.
Tapi yang jelas, kebanyakan persiapan yang matang dipersiapkan hanya sebulan sebelum ujian. Baik dari kalangan guru maupun dari siswa yang bersangkutan. Berbagai strategi disusun agar memperoleh predikat “lulus” 100% tadi. Jika diinok-inok-an boleh dikatakan para guru yang mati-matian, berlomba untuk meluluskan anaknya. Apalagi guru yang bertanggung jawab pada mata pelajaran yang bakal diuji ketika UN. Bayangkan saja, banyak siswa yang nilainya dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), tetap mendapat nilai tinggi karena didongkrak oleh guru yang bersangkutan agar bisa lulus.  
Selain itu, seminggu sebelum ujian berbagai do’a dikumandangkan. Para ustadz, kiyai, bahkan ulama ternama mendadak sibuk. Mesjid ramai dikunjungi, sekolah mulai menampakkan nilai religiusnya. Guru dengan guru, orang tua dengan guru, siswa dengan guru dan orang tua, siswa dengan siswa mulai saling merangkul, saling memaafkan satu sama lain. Dahulunya banyak yang tidak kenal bahkan ada yang bermusuhan, kini menyatu agar bisa menjadi pemenang. Semua masa lalu selama tiga tahun hilang begitu saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun dibalik semua itu, banyak siasat dilakukan guru yang bisa dikatakan salah. Agar siswanya bisa mengikuti ujian dan bisa mendapat jawaban dari soal ujian guru masih melakukan kecurangan. Intinya melalukan kontak terselubung antara guru dan siswa dengan memanfaatkan peluang ketika ujian berlangsung, alias “main belakang”. Itu semua mereka lakukan hanya takut malu ketika sekolah yang bersangkutan banyak siswanya yang tidak lulus. Agar sekolah yang bersangkutan tidak tercemar nama baiknya. Jadi sangat jelas ini demi nama baik guru dan nama baik sekolah, bukan untuk mutu pendidikan. Walaupun sebenarnya tidak semua sekolah berprinsip seperti itu.
Seharusnya, mulai dari sekaranglah kita merubah fenomena yang sering terjadi tersebut. Guru sudah seharusnya menunjukkan benar-benar sebagai seorang pendidik, dan siswa juga harus membuktikan sebagai intelektual yang terdidik. Bukan demi kelulusan saja, tapi ada hal yang lebih penting, demi mutu pendidikan dan demi masa depan bangsa ini. Jangan jadikan kata “jujur” yang terpajang di spanduk sebagai slogan belaka, namun benar-benar diresapi dan merasakan kejujuran pada setiap langkah yang kita ayunkan.
                                                      Wahyu Saputra
Mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS UNP.
Share:

TERKINI

POPULER

Ragam

TERKINI