Jangan Sekedar Merebut Kekuasaan


Kehidupan sekarang sudah penuh dengan baunan politik. Ada yang menggelitik, nyentrik, wangi, busuk, bahkan ada yang munafik. Politik sekarang sudah merasuki hampir sudut-sudut kehidupan setiap orang. Mulai dari kalangan atas merambas ke kalangan bawah. Mulai dari pejabat sampai ke masyarakat biasa. Semua itu hampir membuat setiap orang kerasukan dengan buaian, bujukan, rayuan, dan godaan.  
Sekarang, hal serupa juga sudah terjadi dalam kehidupan dunia kampus. Hampir setiap mahasiswa mempunyai visi dan misi politik sendiri. Perperangan politik di dunia kampus semakin bobrok. Banyak sekali mahasiswa berambisi untuk bisa memegang kekuasaan di puncak organisasi mahasiswa (Ormawa), namun sangat jarang berambisi untuk bisa merubah Ormawa tersebut untuk menjadi lebih baik.
Share:

Cobaan Dari Dosen


Dunia kampus itu sangat unik. Beragam kegiatan yang terdapat di sana. Bermacam tingkahlaku pula yang bisa kita temui. Apabila sudah memasuki dunia kampus, berarti kita sudah siap menempuh berbagai tantangan dan cobaan. Cobaan itu bukan saja datang dari Tuhan, tetapi juga datang dari para dosen. Misalnya saja, setiap hari berbagai macam tugas yang diberikan oleh para dosen. Terlambat beberapa menit menyerahkan tugas saja, tidak diterima dan sudah dianggap gagal.
Ketika ada seorang mahasiswa bermasalah, seperti keterlambatan menyerahkan tugas atau tugasnya salah. Mahasiswa tersebut sudah mengaku bersalah dan meminta solusi kepada dosen yang bersangkutan. Anehnya, mahasiswa tersebut dicuekin begitu saja,
Share:

Puisiku di Pertengahan Juni


Senja di Muara

senja ini aku berjalan menelusuri redupnya matahari
menyaksikan sinaran kuning di bibir pertemuan air mata air
di muara bandar buatan ranah minang
di sana dulu kata sepakat kita beradu-mengadu
sayang, jalan tertumbuk tak bertemu

kutatap matahari jatuh tak berkedip
meninggalkan sinaran merah di ufuk barat
kian lama kian sirna hingga hilang tanpa rona
kutetap berdiri tegap melihat langit lagi tak berwarna
Share:

Hidup Harus Punya Target


Hidup ini selalu berputar, waktu terus berjalan. Siapa cepat dia dapat, siapa lambat bisa sekarat. Itu kata-kata yang cukup sederhana. Perlu diketahui, kadang kata-kata itu perlu disimak maknanya secara seksama. Di dunia ini semuanya berlalu begitu cepat, perubahan semakin melesat, bahkan setiap detik pola pikir kita pun bisa mengalami perubahan. Hal itulah yang memacu sebagian orang selalu berusaha bisa berubah menjadi lebih baik.
Semua orang pasti ingin yang “lebih”, tentunya “lebih” ke hal yang positif. Cara yang dilakukan setiap orang untuk mencapai target itu pun berbeda-beda. Waktu yang dipakai dalam proses untuk mencapai target itu pun berbeda pula. Ibarat kata, “duniamu duniaku, caramu bukan caraku.” Kita boleh mempunyai target yang sama, pada tempat yang sama. Namun, perlu diingat bahwa dalam meraihnya kita tidak selalu melakukan dengan cara yang sama.  
Share:

Jurnalistik Masa Kini


Seiring dengan kemajuan teknologi begitu cepat, maka rasa ingin tahu setiap individu tidak lagi dapat dipenuhi dengan jurnalistik biasa. Setiap individu sudah menghendaki informasi yang lebih, dan untuk itu maka tumbuhlah jenis-jenis jurnalistik yang baru dalam masa kontemporer ini.
Jenis-jenis jurnalistik ini dapat kita antumkan sebagai berikut:
Jurnalistik baru (new journalism)
Jurnalikstik pembangunan (development journalism)
Jurnalistik presisi (precision journalism)
Pada jurnalistik masa kini kita tidak hanya mengenal macam-macam jurnalistik, tetapi juga di bidang teknologi komunikasi, jurnalistik diahadapkan kepada masalah-masalah baru. Webb offset dengan sistem cetak dingin (cold printing system), fasimile dan telekomunikasi yang semakin baik (sistem satelit), semuanya mengubah dan menumbuhkan  media massa baru ayang implikasinya sangat besar kepada lapisan masyarakat.
Share:

Fakta dan Opini


1. Pengertian Fakta dan Opini
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia:
Fakta n hal (keadaan, peristiwa) yg merupakan kenyataan; sesuatu yg benar-benar ada atau terjadi; Opini n pendapat; pikiran; pendirian;
Berdasarkan sumber lain:
Fakta adalah keadaan, kejadian, atau peristiwa yang benar dan bias dibuktikan. Termasuk di dalamnya ucapan pendapat atau penilaian orang atas sesuatu. Dalam kode etik jurnalistik, pasal 3 ayat (30) dijelaskan antara lain, “di dalam menyusun suatu berita, wartawan Indonesia harus membedakan antara kejadian (fact) dan pendapat (opini) sehingga tidak mencampuradukkan yang satu dengan yang lain untuk mencegah penyiaran berita-berita yang diputarbalikkan atau dibubuhi secara tidak wajar.”
Share:

Mahasiswa, Saling Ejek Demi Kekuasaan


Seminggu yang lalu, aku kembali ke Padang, setelah beberapa bulan mengikuti pelatihan kependidikan di kota wisata Bukittinggi. Rasanya sungguh rindu duduk kembali di bangku kuliah, menatap wajah papan tulis. Bergelut dengan tugas serta membolak-balik buku. Menghabiskan waktu di sekre organisasi mahasiswa (Ormawa), siang dan malam. Mungkin itu hanya fantasiku saja, karena sekarang aku sudah di penghujung pada dunia kampus.
Sesampainya di kota Padang, esok hari aku sibuk untuk menyerahkan Tugas Akhir (TA) pelatihan kependidikan ke dosen pembimbing. Sambil bercerita dengan teman-teman di depan jurusan, aku sempat menanyakan kabar Ormawa. Teman-teman itu menjawab, kacau, caliaklah dinding sekre tu kini.
Share:

Keistimewaan Bulan Rajab


Alhamdulillah, sekarang kita sudah menempuh awal bulan Rajab, tepatnya tanggal 22 Mei 2012. Pada bulan Rajab ini mengingatkan kita untuk banyak melakukan amalan kebaikan dimata-Nya. Rugi rasanya apabila kita tidak mensyukuri dan memanfaatkan datangnya bulan yang banyak mengandung keistimewaan ini. Padahal ini saatnya kita menggunakan kesempatan serta sisa umur kita untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya.
Di dalam Al-Qur’an dan beberapa hadist Rasulullah saw, menjelaskan keistimewaan bulan Rajab, dapat disimpulkan antara lain:
1.      Hendaklah kamu memuliakan bulan Rajab, niscaya Allah akan memuliakan kamu dengan seribu kemuliaan di hari kiamat.
2.      Bulan Rajab bulan Allah, bulan Sya’ban bulanku, dan bulan Ramadhan bulan umatku.
3.      Kemuliaan bulan Rajab dengan Isra’ Mi’rajnya, Sya’ban dengan nisfunya dan Ramadhan dengan Lailatul Qadarnya.
4.      Jika puasa sehari pada bulan Rajab akan mendapatkan surga yang tertinggi (firdaus), jika puasa dua hari akan dilipatgandakan pahalanya.
5.      Jika puasa tiga hari (tanggal 1, 2, dan 3) pada bulan Rajab, akan dijadikan parit yang panjang sebagai penghalangnya ke neraka (panjangnya setahun perjalanan).
6.      Jika puasa tiga hari (tanggal 1, 2, dan 3) pada bulan Rajab, maka Allah akan memberikan pahala seperti 900 tahun berpuasa dan Allah akan menyalamatkan dari bahaya dunia serta siksa di akhirat.
7.      Jika puasa tujuh hari pada bulan Rajab, akan ditutup tujuh pintu neraka untuknya dan jika puasa delapan hari pada bulan Rajab, maka akan dibukakan delapan pintu surga untuknya.
8.      Jika puasa lima belas hari pada bulan Rajab maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan menggantikan semua kejahatannya dengan kebaikan, serta jika siapa yang menambah puasanya, maka Allah akan menambahkan pula pahalanya.
9.      Jika berpuasa pada tanggal 27 bulan Rajab (Isra’ Mi’raj) akan mendapat pahala seperti lima tahun berpuasa.
10.  Keistimewaan bulan Rajab dari segala bulan ialah seperti kelebihan Al-Qur’an ke atas semua Qalam (perkataan).
11.  Puasa sehari pada bulan Rajab seumpama puasa empat puluh tahun dan diberi minuman air dari surga.
12.  Pada bulan Rajab Syahrullah (bulan Allah), diampuni dosa orang-orang yang meminta ampun dan bertaubat kepada-Nya. Puasa pada bulan Rajab, Allah mewajibkan untuk mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu, Allah akan memelihara sisa umurnya, dan terlepas dari dahaga di akhirat.
13.  Jika puasa pada awal bulan Rajab, pertengahan bulan, dan akhir bulannya, maka seperti puasa sebulan pahalanya.
14.  Jika bersedekah pada bulan Rajab, seperti bersedekah seribu dinar, dituliskan pada setiap helai bulu roma jasadnya seribu kebajikan, diangkat seribu derajat, dan dihapuskan seribu kejahatan.

Sabda Rasulullah SAW : 
“Pada malam Mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya  bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini?” Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang  membaca salawat untuk engkau dibulan Rajab ini”.

Dalam Sebuah Riwayat Tsauban Bercerita: 
“Ketika kami berjalan bersama-sama Rasulullah SAW ke sebuah kubur, lalu Rasulullah berhenti dan beliau menangis dengan amat sedih, kemudian beliau berdoa kepada ALLAH SWT. Lalu saya bertanya kepada beliau:”Ya Rasulullah  mengapakah engkau menangis?” Lalu beliau bersabda:”Wahai Tsauban, mereka itu sedang disiksa dalam kubur nya, dan saya berdoa kepada ALLAH, lalu ALLAH meringankan siksa atas mereka”. Sabda beliau lagi: “Wahai Tsauban, kalaulah sekiranya mereka ini mau berpuasa satu hari dan beribadah satu malam saja di bulan Rajab niscaya merekatidak akan disiksa di dalam kubur.”Tsauban bertanya: “Ya Rasulullah,apakah hanya berpuasa satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah dapat mengelakkan dari siksa kubur?” Sabda beliau: “Wahai Tsauban, demi ALLAH Zat yang telah mengutus saya sebagai nabi, tiada seorang muslim lelaki dan perempuan yang berpuasa satu hari dan mengerjakan sholat malam sekali dalam bulan Rajab dengan niat karena Allah, kecuali Allah mencatatkan baginya seperti berpuasa satu tahun dan mengerjakan sholat malam satu tahun.”
Sabda beliau lagi: “Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban Adalah bulan aku dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku”. “Semua manusia akan berada dalam keadaan lapar pada hari kiamat, kecuali para nabi, keluarga nabi dan orang-orang yang berpuasa pada bulan Rajab, Sya’ban dan bulan Ramadhan. Maka sesungguhnya mereka kenyang, serta tidak akan merasa lapar dan haus bagi mereka.”

So, jangan sia-siakan kesempatan ini kawan! Terima kasih, semoga bermanfaat. Amiin.
Allahu Akbar!
Referensi: dari berbagai sumber
Share:

Sehari Bersama Mahasiswa Deakin University

Pagi itu, aku dan dua orang temanku dipercayakan sebagai pemandu dalam heacking. Kami menemani beberapa mahasiswa Universitas Deakin Australia yang belajar Intensif Bahasa Indonesia di kampusku, Universitas Negeri Padang. Perjalan pagi itu diikuti oleh ketua jurusan Bahasa Indonesia dan beberapa dosen lainnya. Berawal dari penginapan kami menggunakan Bus kampus menuju Jembatan Siti Nurbaya. Di atas Bus kami langsung diperkenalkan kepada para Bule tersebut oleh salah satu dosen. Mereka menyapa dengan ramah.
Ketika matahari mulai menyingsing, kami mulai melangkah menyusuri jalan setapak di Bukit Gunung Padang. Bukit itu terletak yang tidak jauh dari Jembatan Siti Nurbaya. Memang perjalanan yang tidak begitu jauh, namun cukup melelahkan. Mula-mulanya aku merasa ragu untuk berbicara dengan mahasiswa dari negeri Kangguru itu. Namun setelah mereka bertanya dengan bahasa Indonesia yang patah-patah, aku jadi berani untuk mengeluarkan suara.
Aneh, aku terbawa-bawa menggunakan bahasa campur aduk, pakai bahasa Indonesia dicampur kosa kata bahasa Inggris yang aku ketahui. Kesempatan itu kami manfaatkan untuk berbagi, saling belajar tentang kampus, daerah, kebiasaan, atau budaya masing-masing. Sejak percakapan itulah aku mengetahui nama mereka. Mereka antara lain, Jessica Capkin, Eloise Clarke, Stephanie Cowdery, Alexandra Everard, Michael Filius, Breanna Funston, Clovers Hart, Aimee Lauren Mclachan, dan Erin Mclean.
Tidak terasa, akhirnya dengan waktu kurang lebih satu jam, kami sudah menginjak pasir Pantai Air Manis tersebut. Setelah menelusuri pemandangan dan hamparan lautan Pantai Air Manis itu, kami menghabiskan waktu menemani para mahasiswa Deakin Shopping dipinggiran pantai. Kemudian membawa mereka untuk melihat batu Malin Kundang, beberapa dari mereka mengabadikannya dengan kamera. Berbagai macam gaya mereka lakukan sambil tertawa-tawa, ada yang telungkup seperti batu Malin Kundang, ada juga yang memasang topi pada kepala batu itu. Hah...seru dan heboh waktu itu.
Ketika matahari terlihat mulai tinggi, kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Teluk Bayur. Mulai dari pelabuhan tersebut menggunakan Bus untuk menuju Pantai Carloss yang tidak jauh dari Pantai Caroline bungus. Di sana sudah dihidangkan nasi beserta lauk-pauknya. Kami mulai makan bersama-sama. Terus setelah itu, semuanya terkapar karena kekenyangan. Ada yang tidur-tiduran, ada yang berenang sambil menikmati indahnya pemandangan di Pantai Carloss.
Pukul tiga sore, kami mulai beranjak menuju kampus UNP kembali. Diperjalanan pulang banyak yang ketiduran karena lelah dan suasana dalam Bus tersebut. Sebagian lagi asyik mengobrol dengan kami untuk menceritakan pengalamannya selama di Indonesia, khusunya di Padang. Sambil memperlancarkan bahasa Indonesia mereka, kami pun belajar kosa kata bahasa Inggris. Tepat jam 16.30 sore, kami sudah sampai di kampus dan kembali ke tempat tinggal masing-masing.
Berselang sehari setelah itu, aku dan temanku mendapat undangan dari ketua jurusan untuk menghadiri acara perpisahan Mahasiswa Deakin tersebut. Hanya terima kasih dan selamat jalan yang kuucapkan malam itu. Semoga nanti aku juga bisa berkunjung ke negeri Kangguru tersebut.

Wahyu Saputra
Mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS UNP.
Share:

Cita-Cita Cinta Tak Beruntung

Judul               : Kalau Tak Untung
Pengarang      : Selasih
Penerbit          : Balai Pustaka
Tebal               : 156 Halaman
Cetakan          : 25 Tahun 2004

Sebuah novel berjudul Kalau Tak Untung buah karya seorang perempuan yang bernama Selasih ini sangat menyentuh hati pembaca. Di dalam novel yang berlatarkan Minangkabau ini sangat banyak mengandung nilai moral dan religi.
Selasih merangkai kata dengan luar biasa, walaupun masih banyak menggunakan bahasa melayu namun ceritanya sangat banyak mengungkapkan budaya kehidupan di Minangkabau.
            Awal kisah ini diperankan oleh seorang gadis yang bernama Rasmani, yang tinggal bersama orang tua, kakak, dan adiknya di sebuah desa terpencil yang bernama Bonjol. Keluarganya  hidup serba dalam kekurangan sehingga dia sangat dijauhi oleh masyarakat tempat tinggalnya. Dia seorang gadis yang baik, tertutup, pemalu dan pendiam, sehingga dia selalu diantar oleh orang tuanya ke sekolah. Lain halnya dengan seorang anak laki-laki bernama lengkap Masrullah, anak orang kaya dikampungnya. Dia seorang anak laki-laki yang selalu hidup dalam berkecukupan. Masrul panggilan akrabnya, bukan orang yang sombong, tetapi seorang anak yang sangat baik dan pintar.
            Pada suatu ketika, Masrul pergi ke sekolah bersama Rasmani. Mulai saat itu, mereka selalu ke sekolah berdua dan Rasmani tidak pernah lagi diantar oleh orang tuanya ke sekolah. Semakin hari mereka semakin akrab, Rasmani pun tidak lagi seorang gadis yang pendiam dan pemalu. Masrul benar-benar bisa menjaga Rasmani, mereka berdua bagaikan seorang kakak dan adik. Seluruh kebutuhan sekolah Rasmani dipenuhi oleh Masrul, sehingga kebutuhan sekolah Rasmani serba berkecukupan. Rasmani tumbuh menjadi gadis yang pintar dan pandai dalam bergaul serta mempunyai tingkah laku santun.
            Singkat cerita, ketika mereka beranjak remaja, Masrul merantau ke pesisir tepatnya daerah Painan, karena mendapat mandat untuk bekerja sebagai juru tulis. Sebelum berangkat ke Painan, Masrul sudah ditunangkan dengan seorang gadis yang bernama Aminah. Di sinilah puncak cerita yang semakin besar terjadi dalam novel ini. Semenjak itu, Masrul dan Rasmani sama-sama merasakan kehilangan pada hati mereka, yang hanya bisa berkirim surat untuk melepas rindu atau untuk mengetahui kabar masing-masing.
Di rantau daerah Painan, Masrul dibujuk oleh seorang yang kaya raya untuk menikah dengan anaknya yang bernama Muslina, seorang gadis yang cantik jelita. Masrul tergoda dengan tipuan tersebut, dia bersedia menikah dengan orang kaya tersebut dengan harapan bisa hidup bahagia, walaupun tidak direstui oleh orang tua dan sanak familinya. Namun sebaliknya, setelah menikah Masrul mulai hidup dalam kesengsaraan, bagai kerbau yang ditusuk hidungnya, dan selalu mendapat caci maki dari mertua dan istrinya.
Masrul kemudian naik pangkat dan pindah kerja di Padang, namun badannya semakin kurus, selalu mabuk-mabukkan, dan mulai tidak mengenal Tuhan. Beberapa tahun kemudian, Masrul menceraikan Muslina, kemudian dia kembali ke Bonjol tanah kelahirannya. Masrul akhirnya disambut dengan baik oleh Rasmani dan keluarganya. Semenjak di kampung, tubuh Masrul yang semula kurus kini semakin tumbuh padat dan berisi kembali. Masrul pun semakin berani untuk menyatakan cintanya kepada Rasmani, sahabatnya sejak kecil sekaligus sebagai labuhan hatinya. Rasmani yang sangat mencintai dan mengagumi Masrul, tidak menolak sedikitpun.
Setelah beberapa hari, Masrul meminta izin untuk merantau untuk mencari kerja ke daerah Medan. Masrul dengan semangat mencari kerja, dengan harapan mendapat pekerjaan yang layak dan bisa cepat menikahi Rasmani. Sayangnya, untung tidak dapat di raihnya. Masrul semakin putus asa karena tidak mendapatkan pekerjaan. Masrul pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan cintanya pada Rasmani dengan mengirimkan sepucuk surat. Rasmani setelah membaca surat tersebut mulai jatuh sakit keras.
Selang beberapa minggu, Masrul mendapat pekerjaan dengan gaji yang lumayan tinggi. Masrul pun mulai mengirim surat kembali kepada Rasmani, dengan maksud ingin menjalin hubungan cintanya kembali. Tapi dengan datangnya surat tersebut, Rasmani yang semulanya sudah membaik semakin bertambah parah. Dalipah, kakak Rasmani pun mengirim surat kepada Masrul agar segera pulang menjenguk Rasmani.
Malang tidak dapat dihindarkan untung tidak dapat diraih, ketika Masrul sampai di kampungnya, dia hanya bisa melihat gundukan tanah merah saja. Rasmani sudah meninggal dengan menitipkan sepucuk surat permintaan maaf untuk Masrul. Masrul semakin tersungkur sambil meneteskan air mata, merasa bersalah dengan hati yang gundah serta penyesalannya tanpa akhir. Jadi di dalam novel ini, jika direnungkan sungguh tragedi atau kisah cinta yang memilukan. Walaupun raga selalu penuh rintangan untuk bersatu, tetapi cinta di hati tetap dibawa hingga ajal menanti.

Resensiator:
Wahyu Saputra
Mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS UNP.


Share:

UN: Demi Mutu Atau Malu?


Ketika melihat para SMA atau sederajatnya yang sedang melaksanakan Ujian Nasional (UN) dan persiapan SMP untuk menghadapi UN pada minggu berikutnya, mengingatkan aku pada empat tahun silam. Berperang, berlomba dalam mengerjakan soal-soal ujian demi masa depan. Perjuangan dalam empat hari untuk mempertahankan waktu yang ditempuh selama kurang lebih tiga tahun. Tidak heran jika bermacam cara ditempuh, bukan saja oleh para siswa namun para guru juga ikut berperan, demi mencapai kata “lulus”.
            Anehnya, para siswa kebanyakan kalang kabut mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian hanya seminggu sebelum ujian atau semalam sebelum ujian dimulai. Padahal waktu yang tersedia untuk benar-benar mempersiapkan diri sebelum ujian sangatlah panjang. Tetapi yang namanya siswa dalam usia remaja, tentu sangatlah banyak godaan yang tidak bisa mereka elakkan. Tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan siswa yang bersangkutan.
Apalagi lingkungan masa sekarang sudah memasuki dunia serba modern, serba memanjakan. Semuanya ibarat pisau bermata dua, ketika siswa tersebut bisa memanfaatkan dan mengendalikannya, sungguhlah membawa ke hal yang lebih baik. Namun ketika siswa tersebut dikendalikan oleh dunia modern tadi, tentu sangat membawa dampak yang bisa merusak masa depan siswa itu sendiri. Sehingga waktu yang berlalu selama tiga tahun tersebut hanya terbuang sia-sia saja. Memang tidak heran rasanya ketika ada pemberitaan berbagai kecurangan siswa ketika ujian. Ada siswa tertangkap gara-gara menyontek, membawa HP, dan sebagainya, bahkan ada yang harus berurusan dengan pihak berwajib.
Tapi yang jelas, kebanyakan persiapan yang matang dipersiapkan hanya sebulan sebelum ujian. Baik dari kalangan guru maupun dari siswa yang bersangkutan. Berbagai strategi disusun agar memperoleh predikat “lulus” 100% tadi. Jika diinok-inok-an boleh dikatakan para guru yang mati-matian, berlomba untuk meluluskan anaknya. Apalagi guru yang bertanggung jawab pada mata pelajaran yang bakal diuji ketika UN. Bayangkan saja, banyak siswa yang nilainya dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), tetap mendapat nilai tinggi karena didongkrak oleh guru yang bersangkutan agar bisa lulus.  
Selain itu, seminggu sebelum ujian berbagai do’a dikumandangkan. Para ustadz, kiyai, bahkan ulama ternama mendadak sibuk. Mesjid ramai dikunjungi, sekolah mulai menampakkan nilai religiusnya. Guru dengan guru, orang tua dengan guru, siswa dengan guru dan orang tua, siswa dengan siswa mulai saling merangkul, saling memaafkan satu sama lain. Dahulunya banyak yang tidak kenal bahkan ada yang bermusuhan, kini menyatu agar bisa menjadi pemenang. Semua masa lalu selama tiga tahun hilang begitu saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun dibalik semua itu, banyak siasat dilakukan guru yang bisa dikatakan salah. Agar siswanya bisa mengikuti ujian dan bisa mendapat jawaban dari soal ujian guru masih melakukan kecurangan. Intinya melalukan kontak terselubung antara guru dan siswa dengan memanfaatkan peluang ketika ujian berlangsung, alias “main belakang”. Itu semua mereka lakukan hanya takut malu ketika sekolah yang bersangkutan banyak siswanya yang tidak lulus. Agar sekolah yang bersangkutan tidak tercemar nama baiknya. Jadi sangat jelas ini demi nama baik guru dan nama baik sekolah, bukan untuk mutu pendidikan. Walaupun sebenarnya tidak semua sekolah berprinsip seperti itu.
Seharusnya, mulai dari sekaranglah kita merubah fenomena yang sering terjadi tersebut. Guru sudah seharusnya menunjukkan benar-benar sebagai seorang pendidik, dan siswa juga harus membuktikan sebagai intelektual yang terdidik. Bukan demi kelulusan saja, tapi ada hal yang lebih penting, demi mutu pendidikan dan demi masa depan bangsa ini. Jangan jadikan kata “jujur” yang terpajang di spanduk sebagai slogan belaka, namun benar-benar diresapi dan merasakan kejujuran pada setiap langkah yang kita ayunkan.
                                                      Wahyu Saputra
Mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS UNP.
Share:

TUHAN, PADA-MU LABUHAN RINDUKU


Bissmillah...
sayup-sayup kudengar melodi ayat-Mu yang mengalun indah
lewat bisikan angin malam panjang jelang subuh
dari sudut kota seremban Bukittinggi nan megah

di kamar 3x4 itu nyamuk-nyamuk ikut menyaksikan
tetes demi tetes air mengalir di antara pori-pori dedaunan
hingga hanyut berserakan bersama malam kelam
kurindu dia kurindu cinta kuingin tinggalkan dunia tanpa noda 

Asshalatukhairuminannauum...
merdu lantunan panggilan-Mu itu menyentakkan lelapku
kusingkap tirai kusam pada dinding triplek kamar kos
perlahan kubasuh muka beranjak tuk penuhi seruan itu

kini kubuka jendela hati, kusaksikan indahnya malam yang lelah
di atas sajadah kusertakan tangan pasrah menengadah
Tuhan, kembalikan aku ke fitrah biar kesucian itu tetap membasah”
pada-Mu labuhan rinduku takkan membelah

Karya. Wahyu Saputra


Share:

TONGGAK JALANAN


di landai dinginnya malam kota seremban
kuingat detik lalu kejadian kita di kota bingkuang
tak habis satu masa luka tawa kau tuang
kau bagikan derita biar bebas lepas landas
bersama kata kita curahkan

kini tak ubahnya
kau jadikan aku sebagai tempat pelarian
bagai tonggak di tepian jalan ramai kawan
singgah ketika perlu biar tak kuyup kedinginan
berteduh ketika terik biar tak terbakar sinar mentari

jika pagi hingga sore damai kau hanya berkelebat melempar senyum
"hari nan cerah terima kasih, sebagai alasan tak singgah di gubuknya", itu katamu
jika malam tiba kau lemparkan tawa riang bersama alam bebas sesukamu
"terima kasih telah berbagi, suatu saat aku mampir menyapa", ucapmu

ooo..., aku rindu sapaan janjimu
cukup! jangan ulangi lagi
pergilah jauh arungi samudera itu
kejar dan jangan pernah kembali

=teman, sahabat, seseorang, ingatlah aku=
Karya. Wahyu Saputra
Share:

DAG DIG DUG RASA

hai insan pecinta, jangan coba tanyakan rasa
jika kau tanya ia, jawabnya datang tanpa doa sang pemuja
kadang bercakap kala tak menatap bersua
ia bergetar ketika diden gar mendengar
kini gelegar panas dingin kelu kaku
dag dig dug...dag dig dug...

itu lukisan kata dan nada berwarna, berjuta pesan dibaliknya
alangkah indah ciptaan-Mu, tak terbacakan oleh hamba biasa
Tuhan, Kau gambarkan ia di mata penikmat rasa
yang datang tumbuh merona disela jiwa-jiwa fana
dag dig dug...dag dig dug...

jika tersentuh membubuh membuih memutih
kau digoda jangan lengah dibuai buatnya
hingga kelak terbelah hilang tersayat kilau dilautan rasa
terbakar cahaya terkapar diberanda cinta

Karya. Wahyu Saputra 
Share:

Kuajarkan Padamu

muridku, jika kau mau
kuberikan apa yang aku punya
sedikit ilmu sebagai suluh masa depan
penunjuk jalan juga penerang

muridku, jika sanggup mendengar
kuperkenalkan kata-kata indah
kujabarkan dunia khayal dan nyata
mulai, tuangkan yang kau mau

muridku, tak kutuntut balasan
penuh ikhlas kutuntun kalian
sampai akhir pengabdian
Share:

MENDIDIK ITU TIDAK GAMPANG


Pada umumnya, maksud kata mendidik tidak asing lagi di benak semua orang, apalagi bagi orang yang pernah mengenyam pendidikan formal. Tentunya yang dikatakan mendidik di sini hanya tertuju kepada guru saja. Padahal tidak, semua orang berhak mendapat gelar pendidik. Tidak dipungkiri, karena pendidik itu sebagai perantara, penunjuk jalan bagi seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Artinya keberhasilan, sukses atau tidaknya seseorang itu juga terletak pada gurunya.
            Bayangkan saja, jika dicontohkan siswa dan guru. Siswa itu ibarat jari-jari yang ada di tangan kita, dengan sekian jumlahnya, mempunyai bentuk, nama, serta fungsi yang tidak sama. Begitu juga siswa yang bakal diayomi, dengan jumlah puluhan, ratusan bahkan sampai ribuan orang, yang mempunyai sifat, karakter, atau tingkahlaku yang berbeda. Semua itu dipercayakan oleh orang tuanya kepada para guru untuk merubah perbedaan tersebut menjadi satu tujuan, yaitu menjadi “orang” yang sesungguhnya.
            Percayalah, semua itu tidak semudah yang dibayangkan. Semua itu butuh proses yang cukup memakan waktu. Siswa itu juga ibarat selembar kertas yang sudah berisikan kata-kata dengan warna yang berbeda. Jadi tidak mudah seorang guru membentuk selembar kertas yang penuh coretan itu menjadi sebuah tulisan yang tersusun rapi. Lain halnya siswa yang dirangkul dari awal, seperti kertas putih tanpa stetes noda, bisa diisi dengan rangkaian kata-kata yang penuh makna atau dilukiskan dengan warna-warna yang indah.
Dalam hal ini, seorang guru dituntut dengan bekerja keras. Tidak hanya profesional, namun juga harus serba bisa. Artinya seorang guru harus banyak tahu, karena tidak selalu yang diajarkan bidang studi kita saja, namun juga masih banyak bidang lain yang perlu diajarkan pada peserta didik tersebut. Selain itu, seorang guru tidak hanya sekedar menunaikan tuntutan kewajibannya saja. Namun benar-benar menjadi seorang pendidik yang bisa mendidik, agar siswanya menjadi orang-orang yang terdidik.
Dalam meraih semua itu, tentunya seorang guru harus tahu apa yang harus dia lakukan. Maka sudah sepantasnya kita harus bangga dan berterima kasih pada guru-guru kita, orang-orang yang berprofesi sebagai pendidik, dan bahkan pada calon-calon pendidik. Ingat, pendidik atau guru di sini bukan hanya tertuju pendidikan formal, semua orang bisa terlibat dalam hal mendidik, termasuk orang tua kita sendiri. Asalkan saja bukan orang yang hanya bisa menggurui, tetapi benar-benar guru yang pantas dianggap sebagai pendidik.
Tentunya dalam mendidik ini tidak segampang membalikkan telapak tangan. Sangat banyak kendala-kendala yang dilalui. Sehingga tidak jarang, banyak guru yang mengeluh dan putus asa. Namun sebaliknya, bagi seorang guru yang enjoy serta optimis “bisa” menjalani profesinya, membuahkan hasil yang tidak tanggung-tanggung. Walaupun sebelumnya merangkak-rangkak, setelah itu dia bisa berdiri bahkan berlari. Lihat saja faktanya, para cendikiawan dan intelektual bisa berdiri melambaikan tangan pada dunia, itu semua karena guru.
Itulah sebagai bukti nyata, keberadaan seorang guru atau pendidik sangatlah penting di mata dunia, terutama dalam pencapaian mutu pendidikan. Memang tidak ada yang gampang di dunia ini, namun juga tidak ada yang tidak bisa kita lakukan, kunci utamanya hanya terletak pada kemauan. Dengan memantapkan niat “harus bisa”, kenapa orang bisa, saya tidak? Semua itu tentu dibarengi dengan penuh ketulusan, ikhlas dan sungguh-sungguh dalam mengerjakan semua hal yang kita jalani.


Wahyu Saputra
            Mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia
Artikel ini pernah dimuat di Koran Harian Singgalang
Share:

Pemertahanan, Pergeseran, dan Kepunahan Bahasa

A. Pemertahanan Bahasa
Pemertahanan bahasa merupakan bahasa yang tetap dipertahankan dari bahasa yang telah tegeser. Penyebab pemertahanan bahasa yaitu:
1.      Daerahnya terisolasi sehingga sulit untuk memasukinya oleh masyarakat.
2.      Adanya toleransi dari masyarakat mayoritas (terpencil, kesukuan, dan kepercayaan).
3.      Laoyalitas penutur asli sangat tinggi.
4.      Tetap bisa menjaga kesinambungan bahasa (seimbang).
      B. Pergeseran Bahasa
Pergeseran bahasa merupakan bergesernya suatu bahasa minimal pada tiga generasi (100 tahun) yang bersifat kelompok, bukan individual. Penyebab terjadinya pergeseran bahasa yaitu:
1.      Adanya bahasa lain yang lebih dominan secara sosial, (misalnya bahasa Cina di daerah Minangkabau).
2.      Adanya mobilitas penduduk secara besar-besaran (perpindahan penduduk).
3.      Perkembangan suatu bahasa sebagai lingua pranca, (misalnya bahasa Inggris digunakan dalam tes pekerjaan).
4.      Penggunaan bahasa karena kebutuhan otoritas (kekuasaan).   
      C. Kepunahan Bahasa
Kepunahan bahasa merupakan bahasa pada suatu bangsa sudah ditinggalkan oleh penuturnya sehingga tidak memiliki vitalitas lagi. Penyebab kepunahan bahasa yaitu:
1.      Adanya keberagaman bahasa.
2.      Pemerintah tidak mendukung semua bahasa sehingga kemungkinan bahasa tersebut akan punah.
3.      Terjadinya penjajahan.
4.      Bahasa itu ditinggalkan sendiri oleh penuturnya karena timbunya kebosanan.
5.      Terjadinya bencana alam.
6.      Adanya dominasi bahasa secara universal.
Share:

BAHASA DAN MASYARAKAT


1.  Pengertian Bahasa
Suatu alat komunikasi yang digunakan manusia untuk berinteraksi antar sesama. Hal itu disebabkan bahasa memiliki hakikat sebagai berikut:
a.       Memiliki Sistem
Bahasa terdiri dari komponen yang berhubungan secara fungsional. Contoh: fonem, morfem, sintaksis, semantik, dan pragmatik.
b.      Sebagai Lambang
Bahasa yang dihasilkan melambangkan sesuatu, seperti keadaan, benda maupun kejadian.
c.       Sistem yang Arbitrer
Tidak ada hubungan wajib antara lambang bahasa dengan konsep dari lambang tersebut.
d.      Sistem Bunyi
Merupakan ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia uang memiliki makna.
e.       Manusia
Bahasa hanya dimiliki oleh manusia dan tidak dimiliki oleh mahkluk hidup lainnya.
      2. Pengertian Masyarakat
Sekumpulan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama.
      3. Hubungan Bahasa dan Masyarakat
Masyarakat bahasa merupakan sekumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama, latar belakang budaya yang, bahasa yang sama dan tempat tertentu.
Bahasa dan masyarakat memang memiliki hubungan yang erat, tanpa bahasa masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, sehingga tidak dapat berinteraksi antar sesama, egitu juga dengan masyarakat, tanpa masyarakat bahasa tidak ada gunanya karena tidak ada penuturnya.
Share:

Hubungan Sosiolinguistik dan Linguistik

Hubungan Sosiolinguistik dan Linguistik

            Linguistik secara umum, merupakan ilmu yang mengkaji tentang bahasa sebagai objek kajiannya. Berasal dari kata lingua (Latin) artinya bahasa. Istilah dalam linguistik, parole (ujaran), lingue (bahasa tertentu), language (bahasa secara umum), poliglot (banyak bahasa), monoglot (satu bahasa), linguis (pakar bahasa).
A.    Aliran dalam Linguistik
1.      Aliran Tradisional
Aliran yang didasari atas analisis makna dan tidak memperhatikan hierarki dalam bahasa sehingga batas antara satuan gramatik tidak jelas.
Contoh:
Atap itu tinggi
Ali meninggikan atap jemuran
(Sama-sama mengatakan kata sifat)
2.      Aliran Struktural
Aliran yang mengkaji bahasa daeri segi strukturnya. Struktur yang dimaksud yaitu struktur luar, sehingga terciptanya kata terbuka dan tertutup.
Contoh:

Sapi itu memakan rumput.
terbuka                                                       tertutup
3.      Aliran Praha
Menekankan kepada fonem sehingga membedakan antara fonetik dengan fonologis. Fonetik yaitu mempelajari bunyi bahasa, sedangkan fonologi yaitu mempelajari fungsi bahasa. Oleh sebab itu, mengharuskan adanya pasangan minimal.
Contoh:

Sapi             /s/, /a/, /p/, /i/ (fonem)

Sapi             siap, isap (pasangan minimal/fonem)
4.      Aliran Transformasi
Setiap manusia menggunakan bahasa yang tercermin dalam kalimat-kalimat, oleh sebab itu ada struktur lahir dan struktur batin (bersifat heterogen).
Contoh:
Jeki membenci Jiki (struktur lahirnya berbeda)
Jiki dibenci Jeki (struktur batinnya sama)
5.      Aliran Semantik-Generatif
Setiap manusia menggunakan bahasa yang tercermin dalam kalimat-kalimat, oleh sebab itu ada struktur lahir dan struktur batin (bersifat homogen).
Contoh:
Jeki membenci Jiki (tidak perlu menciptakan kalimat baru).

B.     Ruang Lingkup Kajian Linguistik
1.    Berdasarkan Objek Kajiannya
a.       Linguistik Mikro, yaitu mengkaji internal bahasa. Contoh: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dll.
b.      Linguistik Makro, yaitu mengkaji eksternal bahasa. Contoh: sosiolinguistik, psikolinguistik, dll.
2.    Berdasarkan Tujuan Kajiannya
a.       Linguistik Teoretis, yaitu berusaha menemukan atau mencari teori-teori terbaru tentang bahasa.
b.      Lenguistik Terapan, yaitu berusaha menerapkan teori-teori linguistik. Contoh: membuat kamus, buku, dll.
3.    Berdasarkan Perkembangan Kajiannya
a.       Linguistik Sejarah, yaitu mengkaji perkembangan dan perubahan suatu bahasa atau sejumlah bahasa baik dibandingkan ataupun tidak (membandingkan).
b.      Sejarah Linguistik, yaitu mengkaji perkembangan ilmu linguistik baik tokoh amupun ajarannya.

C.    Linguistik Murni dan Linguistik Terapan
1.      Linguistik Murni
Disiplin ilmu yang membahas hakikat internal bahasa. Contoh: fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon.
2.      Linguistik Terapan
Disiplin ilmu yang menelaah hakikat bahasa secara internal dan eksternal. Contoh: sosiolinguistik, psikolinguistik, semantik, pragmatik.

D.    Sosiolinguistik dan Kajian Interdisipliner
1.      Sosioloinguistik
a.       Menurut para ahli:
a)    Nancy Parrot Hickerson
Perpaduan antara linguistik dan sosiolinguistik yang memberi tekanan hubungan antara bahasa dan pemakainya.
b)   Joshua A. Fishman
Ilmu yang mempelajari ciri dan berbagai variasi bahasa serta hubungan antara bahasawan dengan ciri variasi bahasa tersebut.
c)    G.E. Booy, J.G. Kerstens H.J. Verkuyl
Cabang linguistik yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam pemakaian bahasa dan pergaulan.
b.      Kesimpulan
Jadi sosiolinguistik merupakan suatu cabang linguistik yang mementingkan pemakaian bahasa individu dalam konteks sosialnya.
2.      Kajian Interdisipliner
Sosiolinguistik merupakan penggabungan dua disiplin ilmu, yakni sosiologi dan linguistik. Linguistik mengkaji bahasa sedangkan sosiologi mengkaji manusia dalam masyarakat. Oleh sebab itu sosiolinguistik termasuk kajian interdisipliner, karena menggunakan dua bidang ilmu yang berbeda.
Share:

TERKINI

POPULER

Ragam

TERKINI