Catfiz Aplikasinya Ringan dengan Berbagai Fitur Unggulan

www.catfiz.com
Hadirnya smartphone di tangan, kita terasa semakin sangat dimanja. Apalagi banyak aplikasi canggih yang hadir menemani hari-hari kita. Meskipun sedang sendirian, tapi hidup terasa dikelilingi banyak teman. Salah satunya dengan menggunakan aplikasi karya anak negeri, dari “arek-arek Suroboyo” ialah Messenger Catfiz. Sebab, aplikasi Catfiz merupakan media berkomunikasi yang dilengkapi dengan berbagai fitur.

Sekilas Catfiz memang tidak jauh berbeda dengan BBM atau Whatsapp, misalnya bisa ada fitur Gruop Messages untuk saling berbagi konten, file, video, audio, musik, atau foto, namun Catfiz jelas aplikasinya lebih ringan dipakai dibanding aplikasi yang lain. Selain itu Catfiz juga memiliki fitur andalan seperti Personal Messages, Updates, Broadcast Messages, Stickers, serta berbagai macam fitur Chat Catfiz lainnya.
Share:

Jawa Tengah, Pesona Alamnya Indah dan Situs Budayanya Megah

Candi Borobudur sebagai situs Warisan Dunia (wikimedia.org)
Pulau Jawa memang objek dan tujuan wisata yang sangat menarik dikunjungi. Bagai para pelancong, salah satunya jangan lupa ke Jawa Tengah. Sebab, di salah satu provinsi yang banyak melahirkan pahlawan dan pejuang nasional ini, menyimpan berbagai alam yang mempesona. Selain itu, Jawa Tengah yang kental dengan adat dan budaya Jawa ini juga terdapat berbagai bangunan atau situs peninggalan di zaman kerajaan.

Negeri Seribu Candi
Salah satu situs bangunan yang terkenal, bahkan sudah diakui oleh seluruh dunia ialah Candi Borobudur di Magelang, dan situs Sangiran di Sragen. Meskipun sebenarnya saya baru dua kali berkunjung ke Jawa Tengah, khususnya ke Candi Borobudur, saya menilai bangunan Candi Borobudur bukanlah bangunan yang diciptakan dengan tangan-tangan orang biasa. Sebab, sampai saat ini belum ada yang bisa menyerupai bangunan seperti itu.
Share:

Indramayu Kota Budaya dengan Berbagai Kekayaan Seni Tradisi dan Seni Pertunjukkan

Warna-warni dalam seni tradisi Ngarot di Indramayu. (koranpantura.com)
Budaya itu ibarat jantung pada tubuh, yang perlu dijaga kesehatannya. Jika tidak, tubuh akan runtuh dan tinggal rangka di mata dunia.”

Bukan kabar yang asing lagi, bahwa negeri Indonesia, memang sangat terkenal dan kental dengan berbagai macam budaya. Setiap daerah di Indonesia mempunyai budaya dengan khas masing-masing, terutama di daerah Pulau Jawa. Salah satu daerah di Pulau Jawa yang banyak menyimpan budaya ialah Kabupaten Indramayu, di tanah Pasundan Jawa Barat.

Dilihat dari sejarahnya, Indramayu berasal dari kata “Darma Ayu”, sebuah legenda yaitu Nyi Endang Darma Ayu sebagai Dewi dari Istana langit yang jatuh cinta pada Arya Wiralodra. Selain dijuluki sebagai kota Mangga, Indramayu juga memang sangat kental dengan seni tradisi dan seni pertunjukkan. Jadi memang pantas Indramayu disebut sebagai kota budaya. Ragam budaya yang ada di daerah Indramayu sebagai hasil akulturasi dua budaya, yaitu Sunda dan Jawa. Sebab, budaya di Indramayu sebagai impementasi ekspresi yang penduduknya campuran Suku Sunda dan Suku Jawa. 
Share:

#IndonesiaMakinDigital- Profesiku sebagai Jurnalis Lancar Bersama Simpati

Bersama Simpati semangat tanpa batas, semangat yang menginspirasi negeri."

Hari gini, tanpa smartphone dalam genggaman itu terasa ada yang kurang. Bayangkan sejam saja tidak memegang handphone (Hp), terasa beda. Ibarat LDR-an sama si Doi, ngangenin. Dia ada, tapi tidak bisa ngapa-ngapain karena jauh. Yaa… hanya bisa komunikasi melalui media sosial, itu pun kalau punya paket data yang murah, sinyal full, jika tidak… wah gawat.

Karena ibaratnya gini, jika punya HP canggih tapi tidak bisa ngapai-ngapain, seperti LDR-an sekian lama, pas ketemu, eeh… si Doi sudah dengan yang lain. Persis seperti itu kalau punya Hp, yang di tengah malam sedang asyik-asyiknya BBM-an baterai habis, listrik mati, dan mata nggak mau tidur, bayangkan betapa emosi dan bosannya jika itu sampai terjadi.
Share:

Baromban Karya Iyut Fitra Sarat Makna Keminangkabauan

FOTO BERSAMA- Iyut Fitra pengarang “Baromban” foto bersama Dekan FBS UNP, pemateri, wakil dekan, beserta dosen FBS UNP usai acara bedah buku, Selasa (25/10) di Teater Mursal Ensten FBS UNP. 
Jangan ucapkan apa-apa, kalau hanya berarti selamat malam” – potongan sala satu puisi karya Iyut Fitra.” 
PADANG- Puisi sarat dengan makna, sekaligus juga kaya dengan bahasa, termasuk bahasa ibu. Pernyataan itu disampaikan oleh Prof. Dr. Hasanuddin WS, M.Hum., selaku pemateri dalam seminar bedah buku kumpulan puisi “Baromban” karya Iyut Fitra, di Teater Mursal Ensten Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas NegeriPadang (UNP), Selasa (25/10) kemarin.

Dosen, Guru Besar Sastra, sekaligus selaku Ketua Pusat Kajian Humaniora (PKH) UNP ini juga mengatakan bahwa dalam puisi “Baromban” banyak sisipan kosa kata dan idiom bahasa Minangkabau. Selain itu, setiap puisi dalam buku “Baromban” karya sastrawan Iyut Fitra ini banyak mengandung nilai-nilai tradisi minang.
Share:

Kioson Jembatan Kesenjangan Digital UMKM di Era Teknologi


(www.kioson.com)
Jika ada yang lebih mudah, ngapain diperulit. Jika dunia digital memberi kemudahan, kenapa tidak dimanfaatkan. Sebab, aat ini semuanya dapat dilakuan dengan onlline.”
Tidak dipungkiri, pesatnya perkembangan dunia tekonologi sekarang, setiap orang bisa dengan mudahnya mengakses berbagai informasi. Salah satunya informasi harga jual-beli, baik barang maupun jasa. Meskipun pasar tradisional tetap hidup, namun saat ini sebagian orang lebih memilih hal-hal yang lebih praktis, gampang, dan serba instan.

Tentunya dengan adanya teknologi, semua hal bisa terasa lebih mudah, cepat, dan dekat, Maka tidak heran era tekonologi bisa memanjakan setiap orang. Caranya masuk dalam dunia kekinian, yaitu jual-beli dengan sistem online. Sehingga toko online menjadi style di dunia sosial, apalagi bagi remaja dan anak muda.
Share:

Uri-Cran Cara Efektif Atasi Anyang-Anyangan dengan Tepat dan Cepat

Kondisi ketika diserang Anyang-anyangan.

Konsumsi air putih saja tidak cukup. Mau nyaman ketika buang air kecil? Beralihlah ke Prive Uri-Cran obat herbal dengan kemasan modern. Uri-Cran cara jitu atasi Anyang-anyangan!”
Kesehatan sangat penting bagi setiap orang. Itulah sebabnya kesehatan tubuh mutlak harus dijaga oleh setiap waktu. Sebab bukan tidak mungkin, orang yang sudah menjaga kesehatan saja masih pernah diserang penyakit, apalagi bagi orang yang tidak pernah memperhatikan kesehatan sama sekali. Maka dari itu, gaya hidup sehat patut diterapkan oleh setiap pribadi.

Banyak cara untuk menjaga agar tubuh tetap sehat, segar, kuat, dan penuh gairah. Salah satunya dengan cara berolahraga secara rutin. Selain itu, pola hidup sehat ini juga perlu dengan menjaga pola makan, mengkonsumi makanan yang sehat, dan memperhatikan asupan gizi yang seimbang. Tentu, mengkonsumsi makanan pun tidak boleh berlebihan. Sebab, bisa menjadi racun yang bisa menyerang kesehatan tubuh.

Kemudian, faktor lingkungan hidup juga sangat mempengaruhi kesehatan tubuh. Sebab lingkungan hidup (tempat tinggal) sebagai wadah beraktivitas dan berinteraksi sehari-hari. Apabila lingkungan kurang bersih, tubuh akan mudah diserang penyakit, misalnya sakit kepala, batuk, pilek, demam, dan lainnya.

Tanpa disadari, ada penyakit yang sering menyerang setiap orang. Apalagi bagi orang yang tidak pernah memperhatikan kesehatan badan. Sebab, setiap detiknya di dalam tubuh setiap orang telah diintai oleh kuman, virus, dan bakteri. Salah satu penyakit yang dibawakan bakteri ini ialah bernama Anyang-anyangan.  Anyang-anyangan ini sebutan penyakit yang terindikasi infeksi saluran kemih (ginjal).

Gejala Anyang-anyangan
Meskipun Anyang-anyangan ini tergolong penyakit ringan, tapi jika terus dibiarkan akan bisa beresiko tinggi terhadap kesehatan. Maka sebelum penyakit Anyang-anyangan yang diderita semakin parah, sebaiknya setiap orang harus tahu beberapa gejala-gajala ketika terindikasi penyakit Anyang-anyangan. Meskipun penyakit Anyang-anyangan ini tidak selalu menimbulkan gejala-gejala yang lebih spesifik. Namun ada beberapa tanda-tanda mengalami Anyang-anyangan yang patut diperhatikan, seperti berikut.
  •  Terasa sakit atau perih ketika buang air kecil (kencing) atau urin.
  • Air kencing yang dikeluarkan lebih sedikit dari biasanya.
  •  Terasa nyeri pada perut bagian bawah (biasanya bagi wanita).
  •  Terasa nyeri pada bagian anus (biasanya bagi pria).
  •  Sering (selalu) ingin kencing daripada biasanya.
  •  Air kencing yang dikeluarkan terasa lebih panas dari biasanya.
  •  Air kencing berbau sangat menyengat dari biasanya.
  • Selalu merasa lelah, letih, lesu, badmood, kurang sehat atau agak meriang.
Gejala Anyang-anyangan (www.mypriveworld.com)
Penyebab Terjadinya Anyang-anyangan
Penyakit Anyang-anyangan ini disebabkan oleh masuknya kuman, virus, atau bakteri ke saluran kemih. Bakteri yang sering menyebab terjadi Anyang-anyangan ini bernama Esherichia-Coli (E-Coli), Pseudomonas, Chlamydia, dan Klebsiella. Bakteri ini berasal dari anus (dubur), dan termasuk bakteri yang sering ditemukan penyebab terjadinya Anyang-anyangan.

Bakteri ini sering menyerang saluran kemih salah satunya disebabkan jarak antara dubur dan saluran kemih sangat dekat. Selain itu, kurang bersihnya organ intim dan dubur juga menjadi penyebab cepatnya perkembangan bakteri. Sehingga memperbesar celah atau resiko masuknya bakteri. Itulah sebabnya penderita Anyang-anyangan ini akan merasa sakit ketika buang kecil.

Selain bakteri, penyebab terjadinya penyakit Anyang-anyangan pada saluran kemih, ialah dehidrasi, kehamilan, alergi, diabetes, gangguan prostat, alat KB, menopause, batu ginjal, uretra lebih pendek, struktur organ intim tidak normal, terlalu banyak duduk, terbiasa minum dalam keadaan dingin atau panas, dan kurangnya menjaga kebersihan badan, dan lingkungan. Penyakit Anyang-anyangan bila tidak cepat diobati, akan terjadi komplikasi misalnya demam tinggi, muntah, sakit pinggang, serta penyakit gagal ginjal.

Cara Mengatasi Anyang-Anyangan
Buah Uri Cran (http://www.mypriveworld.com)
Bila penyakit Anyang-anyang yang diderita masih ringan, bisa disembuhkan dengan meminum air putih lebih banyak daripada biasanya. Setelah mengkonsumsi air putih secara rutin, penyakit Anyang-anyangan ini akan hilang dengan sendirinya. Namun jika penyakit Anyang-anyangannya sudah terlanjur parah, tentu tidak cukup diatasi dengan mengkonsumsi air putih saja.

Selain itu, ada juga pengobatan kuno, dan tradisional seperti minum air putih, sekaligus mengikat jempol kaki dengan karet gelang, minum air mentah di wadah penampungan air, merendam kaki dengan air dingin atau es, membakar pecahan genting kampung lalu dikencingi, mengoles air pada kau yang diakar pada pusar. Kemudian ada juga dengan mendengar gemericik keran, minum daun kumis kucing, minum jeruk nipis dicampur gula, dan memakai resep dokter.

Namun sekarang Anyang-anyangan bisa diatasi dengan Uri-Cran. Obat ini merupakan herbal modern sebagai cara jitu untuk mengatasi Anyang-anyangan dengan cepat dan tepat. Obat yang diproduksi Combiphar ini terdiri dua jenis, yaitu Uri-Cran Kapsul dan Uri-Cran Plus Powder (bubuk). Khusus Uri-Cran Plus Powder, cara mengkonsumsinya dilarutkan dalam air putih. Pasalnya, rasa Uri-Cran Plus ini rasanya enak, manis, dan tidak bikin eneg.

Uri-Cran dikenal sebagai obat alami dan modern ini dikemas dari hasil buah Cranberry (Caccinium Oxxycoccos) yang dipercaya mampu mengatasi Anyang-anyangan. Buah Cranberry yang biasanya tumbuh di Amerika ini mengandung vitamin C. Sebenarnya buah ini termasuk buah dari tanaman semak-semak pendek, dan memiliki dengan buah Blueberry. Buah Cranberry warnanya merah tua, khasiatnya pun sudah diketahui sejak zaman nenek suku Indian kuno.
Produk Prive Uri Cran dan Prive Uri Cran Plus (www.mypriveworld.com)
Namun dengan perkembangan teknologi dan perbuhan zaman, buah Cranberry semakin dikembangkan dan dipopuler sebagai sumber vitamin. Kegunaannya bermacam-macam, yaitu untuk meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah sariawan, serta juga antioksidan. Selain itu, ekstraknya juga mulai digunakan sebagai bahan dasar produk perawatan dan kecantikan, serta kesehatan saluran kemih. Tepatnya April 2004, AFSSA yaitu sebagai sebuah lembaga pengawas obat dan makanan di Prancis mengizinkan penggunaan jus buah Cranberry sebagai antibakteri untuk kesehatan saluran kemih.

Uri-Cran sebagai obat alami dan modern ini dikemas dari hasil buah Cranberry yang dipercaya mampu mengatasi Anyang-anyangan. Buah Cranberry yang biasanya tumbuh di Amerika ini mengandung vitamin C yang cukup tinggi sebagai obat infeksi saluran kemih, serta juga bermanfaat untuk menjaga kesehatan jantung. Kandungan flavonoid antisianidin, peonidin, sianidin, quercetin dan memiliki senyawa fitokimia. Kandungan pada buah Cranberry yang kaya anti oksidan polifenol, juga ampuh mengatasi penyakit-penyakit yang berbahaya dalam tubuh, seperti kanker, dan penyakit jantung.

Buah Cranberry ini sangat efektif untuk mencegah infeksi saluran kemih. Sebab buah Cranberry ini memiliki proanthyocyanidins, yaitu antioksidan yang mampu mencegah pertumbuhan bakteri penyebab infeksi pada saluran kemih. Antioksidan ini ternyata juga memiliki sifat anti-adhesi, sehingga bakteri tidak akan menempel lagi pada saluran kemih, sehingga jauh dari resiko penyakit Anyang-anyangan.

Terkait produk, Uri-Cran ini terdiri dari 30 butir kapsul dengan komposisi 250 mg, yang dikemas dalam tiga blister. Setiap kapsulnya mengandung Vaccinium Macrocarpon (ekstrak Cranberry) 250 mg, dan Proanthyocyanifins (PAC) sebanyak 18 mg. Cara pakainya gampang, cukup ditelan bersama air putih sebanyak 1-2 kapsul per hari.

Sementara URI-Cran Plus, terdiri dari 375 mg dalam bentuk bubuk. Kemasan ini juga mengandung berbagai vitamin, seperti Vaccinium Macrocarpon (ekstrak cranberry) 375 mg, Vitamin C 60 mg, Bifidobacterium Bifidum 0,1 mg, Lactobacilius Acidophilus 0,1 mg, Frukto Oligo Sakarida 0,1 mg, dan Kalsium Laktat Glukonat 1 mg. Setiap kemasan terdiri dari 15 sachet. Sedangkan cara pakainya, juga dilarutkan dengan air dan diminum sebanyak 1-2 sachet per hari.

Kedua jenis produk Prive Uri Cran ini sangat tepat dikonsumsi untuk mengatasi penyakit Anyang-anyangan. Setelah meminum produk Prive Uri Cran ini, Anyang-anyangan akan hilang dengan cepat, sehingga penyakit yang disebabkan infeksi saluran kemih ini bisa teratasi. Uri Cran ini bisa diminum meskipun penyakit Anyang-anyang sudah hilang, agar rasa sakit buang air kecil selama ini tidak kembali lagi. Dengan meminum Uri-Cran secara rutin, akan mampu membunuh bakteri-bakteri penyebab sakit ketika buang air kecil selama ini.
 
Testimone pengguna Prive Uri-Cran (www.mypriveworld.com)
Produk Uri-Cran ini terbilang cukup murah. Sangat efektif mengatasi susah buang air kecil (Anyang-anyangan) tanpa biaya yang mahal. Maka bagi yang berminat, bisa mendatangi apotik terdekat.  Sebab Uri-Cran sudah tersedia di beberapa provinsi. Produk ini juga bisa dipesan secara online, klik di sini. Untuk lebih jelasnya, bisa menghubungi 0800-1-800088 (bebas pulsa), yang buka Senin-Jumat: 08.00-17.00, atau melalui Twitter @CombiCareCenter, BBM 51F0B55B/COMBICC, serta Whatsap 081806800088. Semoga bermanfaat, dan pembaca selalu sehat!
_____________________________________________________________________________________________
# Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Prive Uri-Cran Competition
Share:

Jangan Anggap Enteng; Cegah, Obati, dan Lawan Diabetes Sejak Dini

Cara mengatasi diabetes (www.sunlife.co.id)
Sedia payung sebelum hujan, ibarat lebih baik mencegah daripada mengobati. Bentengi diri lebih tinggi sejak dini, sebelum diri diperangi bernama mati.”
Pepatah di atas juga berlaku untuk dunia kesehatan. Sebelumnya, izinkan saya meminjam nasihat dari sebuah hadist Rasulullah Saw, dari Ibnu ‘Abbas, berbunyi “pergunakan waktu sehatmu sebelum datang masa sakitmu”. Nasihat itu mungkin bagi sebagian orang masih dianggap enteng, sehingga banyak yang mengabaikannya. Padahal kesehatan merupakan hal mutlak yang harus dijaga oleh setiap orang. Sebab tidak ada satupun yang enak dan bahagia ketika menderita sakit, sekalipun tinggal di istana mewah dan harta berlimpah.

Salah satu penyakit yang tanpa disadari sering menyerang seseorang ialah diabetes. Penyakit ini menyerang tanpa memandang usia, meskipun mayoritas yang sering menderita diabetes ialah usia 25 hingga 60 tahun. Diabetes merupakan suatu kondisi kadar gula (glukosa) dalam darah tinggi. Meskipun tidak menular, tapi penyakit ini termasuk mematikan.
Share:

Queen of Pearl Mahakarya Laut Selatan Indonesia


www.kabarbisnis.com
Lautan Indonesia, bukan hanya menjanjikan kawasan pantai yang mempesona. Tapi  kekayaan alamnya juga menyimpan ribuan jenis ikan, terumbu karang, dan biota laut  yang mencengangkan dunia. Terutama mutiaranya diakui dengan julukan Queen of Pearl di dunia.” .

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Indonesia memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang berlimpah. Salah satunya menyimpan kekayaan SDA yang melimpah dari berbagai biota laut. Negara yang terkenal dengan negara kepulauan di Asia Tenggara ini memiliki luas lautan yang hampir 70 persen dari total keseluruhan luas negara. Lebih 2.500 jenis ikan dan 500 jenis karang hidup di terumbu karang lautan Indonesia. Bahkan 14 persen terumbu karang dunia ada di lautan Indonesia.
                              
Indonesia yang terkenal sebagai negara kepulauan di Asia Tenggara ini bukan hanya terkenal dengan pesona pantai yang indah. Banyaknya terumbu karang yang dimiliki Indonesia juga menyimpan jutaan biota laut, terutama ikan. Bahkan adanya terumbu karang tersebut, lautan Indonesia juga menghasilkan mutiara terbaik, salah satunya di laut selatan, yang dikenal dengan sebutan Indonesia South Sea Pearl (ISSP).

Pasalnya mutiara ini diambil langsung dari cangkang kerang bibir perak dan bibir emas (Pinctada Maxima) yang sangat langka di dunia. Kerang ini juga merupakan terbesar di dunia, biasanya rata-rata 15 mm, dan bahkan bisa mencapai 22 mm, serta waktu yang dibutuhkan memproduksinya bisa mencapai 4-6 tahun. Warnanya putih keperakan, cream kememasan, serta juga menghasilkan mutiara silver, dan kuning. Biasanya South Sea Pearl (SSP) banyak ditemukan di laut tropis yang hangat, seperti di Samudra Hindia bagian Utara sekitar Australia, Indonesia bagian selatan, dan Filipina bagian selatan.

Meskipun menurut data ekspor SSP ini juga banyak diproduksi di beberapa negara, seperti Australia, Filipina, dan Myanmar. Namun kualitas mutiara ISSP dari kerang Pinctada Maxima asli Indonesia masih yang terbaik, dan hanya mampu menghasilkan satu mutiara dalam satu induk kerang. Harganya bisa mencapai US$25-US$100 per gram untuk diekspor. Makanya mutiara SSP ini salah satu jenis mutiara termahal di dunia, yang sangat jauh berbeda dengan mutiara air tawar Cina atau China Fresh Water Pearl (CFWP). Pasalnya CFWP dari jenis kerang Hyrriopsi ini mampu menghasilkan jumlah banyak dalam sekali produksi, makanya dipasaran lebih banyak ditemukan CFWP dibanding ISSP. Sehingga ISSP memang menjadi mutiara dan perhiasan yang sangat ekslusif.

ISPP memiliki keunikan tersendiri dibanding mutiara lainnya, selain narce alami, tebal, megah, serta kilauannya yang menakjubkan. Sehingga siapapun yang memakainya pasti akan menjadi sorotan mata oleh kilauan dan kesempurnaan cahayanya. Makanya tidak salah jika Pinctada Maxima juga disebut Queen of Pearl. Sebab itu pula Indonesia begitu lengket dengan kesan perhiasan yang megah. Oleh sebab itu pula ISSP menjadi incaran dan sangat digemari diperdagangan internasional.


Mutiara terbaik dunia dari Indonesia (Facebook Indonesian Pearl Festival 2016)
Berdasarkan informasi dari www.kbr68h.com, menyatakan populasi ISSP didominasi dari daerah perairan pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebanyak 27 jenis warna mutiara yang dihasilkan. Tiga warna yang paling diminati ialah warna emas, perak, dan perunggu. Selain itu, area titik kumpul mutiara lau Indonesia ini terdapat bagian utara perairan Arafura, dan ke arah timur melewati Selat Torres, yaitu selat yang memisahkan Australia dan Papua. Sayangnya, banyak pihak yang berpikir mutiara itu dari Australia, Tahiti, Hawai, padahal asli dari laut Indonesia (Indonesia origin).

Berdasarkan infomasi www.cnnindonesia.com pula bahwa kualitas mutiara hasil laut Indonesia sudah mulai menggema dan memasuki pasar internasional. Bahkan, seorang ahli biota dari Australia, Joseph Taylor pun mengakui Indonesia sebagai tempatnya SSP terbesar di dunia. Hanya saja orang pribumi Indonesia sendiri banyak yang tidak tahu, dan masih bangga dengan mutiara dari negara lain. Padahal sebagai warga negara Indonesia seharusnya bangga, sebab Queen of Pearl atau ratunya mutiara aslinya dari hasil laut Indonesia.

Data tahun 2013-2014 menyatakan estimasi produksi lokal SSP Indonesia berhasil menembus 5,400 kg, dan nyaris 50 persen dari total estimasi produksi global yang 12,700 kg. Sementara untuk nilai ekspor mutiara mentah negara Indonesia berhasil menyumbang US$ 65-70 juta, atau 30 persen dari nilai ekspor global yang mencapai US$ 200 juta. Setiap tahun Indonesia bisa mengekspor 4,5 hingga 5,5 ton per tahun, bahkan pernah mencapai 7 ton. Ternyata meskipun Indonesia terbesar dalam jumlah SSP, sebanyak 42 persen, nilai produknya hanya 32 persen. Pasalnya karena mutu mutiara Indonesia belum mencapai potensi terbaik. 

Akibatnya pusat trading mutiara laut masih di Jepang, hampir 80 persen dari semua mutiara laut, seperti South Sea Pearl, Akoya Pearl, dan Black Pearl. Selain itu, meskipun Indonesia penghasil mutiara terbaik, nilai perdagangannya masih di bawah Hongkong, China, Jepang, Australia, Tahiti, USA, Swiss, dan Inggris. Sementara tujuan ekspor mutiara Indonesia adalah Jepang, Hongkong, Australia, Korea Selatan, Thailand, Swiss, India, Selandia Barau, dan Perancis. Lihat empat jenis mutiaran dunia, Indonesia penghasil SSP terbesar di dunia di sini.

Maka inilah tanggungjawab kita semua, terutama pemerintah di bidang Kelautan dan Perikanan, untuk bisa berkolaborasi dengan semua pihak, terutama sektor teknologi dan industri. Selain itu memanfaatkan teknologi sangat diperlukan untuk pembudidayaan ISSP ini. Tentunya teknologi terbaru sekaligus ramah lingkungan, agar tidak merusak ekosistem biota laut, dan hasil ISSP lebih bisa lebih banyak dan bermutu. Sebab, terlalu sangat disayangkan jika tersedianya kekayaan alam yang melimpah tapi tidak dimanfaatkan atau dikelola dengan baik.

Jaga Ekosistem Laut
Luasnya lautan Indonesia, banyaknya terumbu karang, serta besarnya jumlah SSP yang dihasilkan negara Indonesia selama ini, menandakan kekayaan alam yang dimiliki oleh negara yang berdaulat ini. Sudah saatnya pemerintah menggali lebih serius potensi SSP ini, agar selalu bisa menghasilkan mutu mutiara yang terbaik. Hal ini tentu akan bisa meningkatkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan perekonomian negar, sekaligus membawa nama baik negara Indonesia dikancah internasional sebagai penghasil mutiara terbaik di dunia.

Terumbu karang sebagai tempat hidupnya biota laut, termasuk mutiara.
(www.nationalgeographic.com)
Salah satu cara yang bisa ditempuh ialah, berusaha menjaga ekosistem laut, terutama menjaga kelestarian terumbu karang. Selama ini keberadaan terumbu karang banyak yang belum dijaga dan dilestarikan dengan maksimal, sehingga hanya beberapa persen saja berpredikat sangat baik akibat banyaknya terjadi kerusakan. Sesuai data Program Rehablitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang di Indonesia (Coral Reef Rehabilitation Management Programe) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dari 87,707 km2 terumbu karang di Indonesia, hanya 6,83 persen berpredikat sangat baik (excellent).

Artinya, sangat banyak terumbu karang di lautan Indonesia yang masih perlu dijaga dan dilestarikan ekosistemnya agar tidak rusak. Soalnya kerusakan terumbu karang, akan beroengaruh besar terhadap eksosistem kekayaan laut. Sehingga biota yang ada di laut, terutama yang hidup di terumbu karang akan semakin berkurang, terutama ikan. Selain itu, kerusakan terumbu karang akan mempengaruhi keberadaan kerang sebagai biota laut yang menghasilkan butiran mutiara. Akibatnya Indonesia sebagai penghasil SSP terbesar akan semakin berkurang pula.

Keberadaan terumbu karang sangat penting demi keberlangsungan ekosistem biota laut. Terumbu karang sebagai pusat keanekaragaman hayati terkaya di dunia yang mampu menjaga struktur alami berbagai spesies yang ada di dalamnya. Kekayaan yang dimiliki terumbu karang mampu menaungi jutaan spesies ikan, serta biota laut lainnya. Tentunya kekayaan dan keindahan terumbu karang ini juga sebagai bukti kekayaan alam yang dimiliki lautan Indonesia. Tanggungjawab besar keberadaan spesies terumbu karang ini berada pada pundak masyarakat Indonesia, terutama pemerintah. Sekali lagi, sangat disayangkan rasanya kekayaan alam yang melimpah, tapi tidak dijaga, dilestarikan, dan dimanfaatkan dengan baik.

Gelar Event Berkelanjutan
Selain jaminan finansial yang sangat menjanjikan, jumlah permintaan mutiara Indonesia juga dari tahun ke tahun semakin meningkat. Tentu ini sangat berpengaruh besar dengan kesejahteraan masyarakat Indonesia, terutama penggiat mutiara. Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP-RI), tahun 2013 tercatat 23 perusahaan sebagai pelaku usaha mutiara di Indonesia, yaitu sebanyak 17 perusahaan swasta, 6 Perusahaan Modal Asing (PMA). Kemudian 21 perusahaan tersebut sudah tergabung dalam Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (ASBUMI). Selain itu, perusahaan tersebut mampu menampung puluhan ribu tenaga kerja. Lihat jumlah perusahaan mutiara di Indonesia terkini, di sini. 


Banyaknya pengusaha yang bergerak dibidang mutiara ini tentu harus punya wadah sebagai tempat berbagi dan sharing. Tujuannya, selain memperkenalkan, mempromosi, sekaligus juga menguatkan brand mutiara terbaik di Indonesia ini. Salah satunya dengan mengadakan agenda atau event khusus mengenai mutiara terbaik dari Indonesia ini. Tentunya selain kegiatannya harus menarik, kegiatannya juga harus bisa dilakukan secara berkelanjutan, sehingga kita dan masyarakat tahu perkembangan mutiara budidaya atau industri mutiara. Salah satu agenda besar yang telah dilakukan pemerintah, terutama oleh Direktorat Jenderal Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) adalah pameran yang bertajuk Indonesia Pearl Festival (IPF).
Th6 Indonesia Pearl Festival 2016 (Facebook Indonesian Pearl Festival 2016)
IPF ini dilakukan dalam rangka promosi sekaligus menguatkan branding ISSP ini ditingkat domestik dan internasional. Pameran tahunan yang bertajuk Indonesia Pearl Festival ini sudah dimulai sejak 2011 lalu, dengan tujuan meningkatkan daya saing produk dan usaha mutiara Indonesia. Tahun ini IPF sudah memasuki tahun ke-6. Sesaui informasi, "6Th Indonesia Pearl Festival 2016" ini diagendakan mulai tanggal 9-13 November 2016 mendatang, di Lippo Mall Kemang Jakarta Selatan dengan tema "The Magnificient Indonesian South Sea Pearl."

"6Th Indonesia Pearl Festival 2016" ini biasanya menyuguhkan berbagai acara yang menarik, mulai pameran mutiara terbesar, lelang mutiara, sekaligus juga sebagai ajang Fokus Grup Dsikusi (FGD) terkait semua seluk-beluk mutiara, terutama ISSP. Tentunya, yang tidak kalah hebohnya ialah pengunjung akan menyaksikan berbagai desain perhiasan dari mutiara. Pernak-pernik dan kilauan cahaya perhiasan akan menyinari ruangan "6Th Indonesia Pearl Festival 2016" ini. Nah, bagi pemburu sekaligus pembudidaya mutiara event ini sangat bagus untuk dikunjungi.

Harapannya, dengan adanya "6Th Indonesia Pearl Festival 2016" ini diharapkan membawa ide cemerlang bagi penggiat budidaya mutiara, sekaligus bagi pecinta mutiara. Tentu IPF 2016 ini juga ajang pameran sekaligus momen penting untuk mengenalkan ISSP sebagai mutiara terbaik dunia ke semua lapisan masyarakat Indonesia, juga kepada negara lain. Semoga ke depannya ISSP dari Indonesia ini tidak dipandang sebelah mata, atau diklaim sebagai brand oleh negara lain. Sebab, asal Queen of Pearl terbaik dunia merupakan asli dari Indonesia.

Perlunya Pengakuan dan Ketegasan
Kita harus akui, Indonesia yang terkenal sebagai negara kepulauan dengan hasil lautnya yang melimpah, sekaligus pemilik terumbu karang terbesar di dunia. Tapi bukan hanya sebatas itu, sebagai negara yang berdaulat dan bermartabat Indonesia harus mengakui bahwa Indonesia penghasil mutiara terbaik di dunia, terutama masyarakat Indonesia. Sebab, selama ini masyarakat (sok) kebarat-baratan, lebih memburu barang atau produk dari luar negeri. Padahal produk yang dibeli itu banyak yang dihasilkan dari Indonesia, termasuk mutiara, sebab dijual oleh orang luar negeri dengan label negara mereka.

Intinya masyarakat Indonesia terlebih dahulu mengakui, sekaligus mencintai produk (mutiara) dalam negeri. Apabila masyarakat Indonesia sendiri merasa bangga dengan adanya  produk mutiara yang dimiliki, negara lain pun akan lebih melirik dan mengakui mutiara Indonesia sebagai mutiara terbaik dunia. Tentunya pemerintah punya andil yang besar dalam hal ini, terutama industri kreatif yang menggeluti produksi mutiara. Sebab selama ini yang terjadi ialah belum adanya pengakuan dari masyarakat dan pemerintah Indonesia sendiri melalui kementerian kelautan dan perikanan.

Indonesia saat ini butuh gebrakan baru dalam menangani permasalahan ini. Soalnya banyak daerah penghasil SSP di Indonesia namun belum dimanfaatkan secara baik dan maksimal. Daerah Indonesia penghasil SSP terutama di Papua Barat (Raja Ampat), Nusa Tenggara Barat (Lombok/Sumbawa), Bali (Buleleng/Karang Asem), Nusa Tengga Timur (Labuan Bajo/Maumere/Laruntuka/Alor/Kupang), Maluku Selatan (Aru/Seram/Banda/Tual/Tanimbar), kemudian daerah Maluku Utara (Halmahera), bahkan Sulawesi (Manado/Bitung/Sulawesi Tengah/Kendari), Sumatera (Lampung), dan Jawa (Banyuwangi Madura). Lihat lokasi sentra produksi pengembangan kerang/tiram Pinctada Maxima di sini.

Nampaknya pemerintah harus bekerja keras dalam menggali potensi SSP yang sangat besar ini. Keberadaan mutiara ini selain mengharumkan nama Indonesia ditingkat internasional, juga akan mampu untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia, salah satunya melalui ekspor. Namun, pemerintah juga harus tegas agar tidak ada pihak yang merusak terumbu karang, atau biota laut yang ada di Indonesia. Selain itu ketegasan pemerintah harus berani memberi label atau branding yang permanen, sebagai bentuk pengakuan dunia internasional mutiara asli Indonesia, agar tidak diklaim oleh negara lain.

Perhiasan yang terbuat dari Queen of Pearl terbaik dari Lombok Indonesia.
(www.rumahseniindonesia.com)
Ketegasan dan pengakuan ini sangat penting dilakukan, karena akan menyakut produksi dan kualitas ekspor. Jika mutiara Indonesia tidak diakui sebagai mutiara terbaik, jumlah ekspor akan berkurang karena kurang diminati negara lain. Tetapi jika adanya Indonesia sebagai label pemilik mutiara terbaik dunia, tentu negara lain pasti akan berbalik dengan mengimpor mutiara dari Indonesia. Selain itu, kementerian dan kelautan juga harus bisa bekerjsama dengan industri kreatif lokal untuk mengolah ISSP ini.

Industri kreatif di dalam negeri ini diharapkan bisa memproduksi dan mengekspor mutiara barang jadi. Cara ini ditempuh untuk mengurangi ekspor mutiara mentah, agar sekaligus juga bisa mengurangi resiko klaim hak milik oleh negara lain. Sebab selama ini sering terjadi, karena mengekspor mutiara mentah, maka setelah menjadi barang siap pakai negara lain memberi label mutiara dari hasil laut mereka. Selain itu, jika ekspor mutiara siap pakai tentu harganya jauh lebih mahal. Suatu saat, bukan tidak mungkin ISSP bisa sebagai usaha penyumbang devisa terbesar di negara ini.

Oleh sebab itu pula, pemerintah sangat perlu untuk bekerjasama dengan semua pihak, terutama dengan masyarakat yang bergelut dibidang industri kreatif. Upaya ini terutama kementerian kelautan dan perikanan, dan kementerian pariwisata dan industri kreatif, agar bisa berkolaborasi dengan baik. Khusus untuk semua masyarakat Indonesia pecinta mutiara, terutama kaum perempuan Indonesa yang selalu terpikat dengan keindahan mutiara, jangan malu menggunakan mutiara dari negeri sendiri, tapi malulah memburu produk negara lain. Semoga ISSP tetap selalu menjadi mutiara di hati. Sebab, generasi yang cinta pada produk negerinya sendiri, itulah mutiara yang sesungguhnya. Semoga! *

_________________________________________________________________________________
# Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog  Indonesia Pearl Festival 2016.
Share:

Ayo Gemakan Budaya Menulis untuk Indonesia


Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Pramoedya Ananta Toer.

Agaknya kita perlu melihat para orang-orang "besar" di tanah air ini tempo silam. Mereka berjuang bukan hanya memiliki semangat juang dengan bambu runjing, tapi lebih dari itu, mereka juga semangat berjuang dengan tulisan. Menurut mereka mempertahankan negara tidak cukup hanya dengan modal angkat senjata, tapi juga perlunya membentuk ideologi melalui tulisan. Senjata menulis lebih mampu membunuh musuh, dan penulis pun akan terus hidup sepanjang zaman.

Sebut saja Bapak Proklamator kita, Bung Karno (Ir. Soekarno) ketika ditahan di Sukamiskin Bandung yang cukup lama. Presiden pertama Indonesia ini menulis sebuah buku fenomenal dengan judul “Di Bawah Bendera Revolusi”. Buku ini memiliki nilai perjuangan, yang mampu menginspirasi generasi muda di tanah air. Begitu pula Bung Hatta (M. Hatta), Wakil Presiden pertama kita ketika ditahan penjajah Belanda di penjara Boven Digul Irian (Papua) juga dalam waktu yang relatif lama. Ia pun menulis sebuah buku dengan judul “Mendayung Antara Dua Karang”. Buku ini pun menjadi “basic” untuk politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif.

Motivasi “Founding Fathers” ini dalam menulis yang kemudian menjadi warisan (legacy) bersejarah tersebut adalah  agar bangsa Indonesia ke depannya menjadi lebih baik. Selanjutnya, begitu juga Hamka, seorang ulama besar ketika menjadi tahanan pemerintah, juga aktif menulis buku di penjara, dan menghasilkan buku “Tafsir Al-Azhar”  yang  sangat mendalam. Selanjutnya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, ketika menjadi tahanan di Pulau Buru juga aktif menulis, dan menghasilkan novel “Bumi Manusia” yang fenomenal.

Begitulah kira-kira orang-orang "besar" zaman dahulu mempertahankan Indonesia dengan tinta. Mereka sangat kritis dan mempunyai wawasan yang luas, sehingga mampu membuat dunia “tercengang” seketika. Tulisan-tulisan mereka masih hidup sampai sekarang meskipun mereka sebagai penulis sudah hilang dari peredaran dunia nyata. Tapi bagaimana dengan kita, yang masih berdiri kokoh tapi belum menghasilkan apa-apa, dan bahkan enggan untuk memulai untuk menggores tinta pada secarik kertas. Apakah sudah hilang rasa malu? Padahal menulis adalah satu jalan mengaktualisasi diri, dengan membawa idealisme untuk masa depan tanah air ini.

Baiklah, mungkin jika diartikan menulis untuk membawa perubahan Indonesia ke lebih baik terasa terlalu lebay dan muluk-muluk. Namun setidaknya dengan menulis kita merasa bebas berekspresi. Kebebasan ekspresi kita dalam menulis itu akan membentuk pribadi kita yang lebih kokoh sesuai gender tulisan yang kita buat. Setelah menulis kita akan merasa lebih lega, bahwa kita di dunia ini ada. Selain itu, kita bisa sharing melalui tulisan, yang tentunya akan membawa manfaat bagi orang lain.

Perlu juga rasanya kita yang digadang-gadangkan sebagai generasi muda, menimbang-nimbang tentang pentingnya menulis. Jangan sampai kita hanya sibuk menghabiskan waktu oleh canggihnya teknologi, terutama dengan hadirnya smartphone atau gadget di genggaman. Tidak ada yang melarang mengikuti zaman, dan bahkan dianjurkan bisa mengikuti arus zaman kekinian. Namun tentu harus pandai-pandai memilah yang patut dan membawa manfaat. Maksudnya, setidaknya mampu memanfaatkan smartphone atau gadget untuk menduniakan budaya menulis lebih aktif, kreatif, lebih mudah dan cepat.

Minat Baca Rendah
Berdasarkan informasi dari ugm.ac.id menunjukkan minat menulis jurnal ilmiah di Indonesa masih rendah. Data itu dari Scientific American Survey (1994) menyatakan kontribusi tahunan Scientist dan Scholars Indonesia pada pengetahuan (knowledge), sains, dan teknologi hanya 0,012 persen, sangat jauh di bawah kontribusi Singapura 0,179 persen. Begitu pula survei yang dilakukan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO), pada tahun 2012 indeks minat membaca di Indonesia hanya 0,001, Padahal di negara maju indeks minat bacanya bekisar 0,45 hingga 0,62.

Indeks 0,001 itu sama dengan 1 dibanding 1000. Artinya dari 1000 orang, hanya satu orang suka membaca, sedangkan 999 orang enggan membaca. Berdasarkan hal itu berarti 255 juta jiwa penduduk Indonesia, hanya 255 ribu orang yang suka membaca. Selebihnya 252, 45 juta jiwa tidak berminat untuk membaca. Jumlah angka ini sungguh sangat memperhatinkan. Bagaimana Indonesia mencetak intelektual, dan yang bisa menghasilkan tulisan berkualitas, jika membaca saja sudah enggan. Padahal di negara maju sangat menggiatkan budaya membaca, sehingga juga mempu menulis dengan baik.

Begitu pula informasi di republika.co.id, hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebutkan budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012 menyatakan budaya literasi masyarakat Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara, dan kalah oleh Vietnam yang menempati posisi ke 20. Sementara khusus minat bisa siswa, PISA menyatakan minat baca siswa Indonesia hanya menempati urutan ke 57 dari 65 negara.

Selain itu, United Nations Development Programme (UNDP) juga menyebutkan angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,2 persen, sedangkan Malaysia mencapai 86,4 persen. Informasi terbaru pun dari www.dpr.go.id menyatakan hasil riset Universitas Connecticut Amerika Serikat 2016 menyatakan budaya literasi Indonesia masih pada angka 60 dari 61 negara yang di survei. Wajar saja rasanya jika Indonesia dinobatkan sebagai negara yang masyarakatnya dengan minat baca paling rendah di tingkat negara ASEAN.

Terbilang memalukan, sebab Indonesia salah satu negara yang memiliki penduduk paling banyak di dunia, tapi minat bacanya saja belum ada peningkatan. Rendahnya minat baca ini sangat mempengaruhi kemampuan menulis. Banyak survei yang mengatakan bahwa jika seseorang ingin bisa menulis, harus banyak membaca. Memang tanpa harus membaca pun sebenarnya juga bisa menulis, misalnya dengan menulis dari hasil pengamatan, pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Tapi paling tidak, jika kemampuan membaca tinggi kualitas tulisan yang dihasilkan pun sangat berbeda dengan orang yang tidak suka membaca, salah satunya diksi yang digunakannya.

Sesuai pernyataan Eka Kurniawan, seorang sastrawan yang ternama di Indonesia pada seminar Nasional 13 Agustus 2016 lalu, bahwa membaca itu suatu kebutuhan. Ibaratnya dalam bidang olahraga, jika ingin sehat seseorang harus berolahraga. Meskipun tanpa olahraga seseorang juga bisa sehat, tapi sehatnya orang yang berolahraga sangat jauh berbeda dengan orang yang enggan untuk berolahraga. Namun hal yang harus dipahami, olahraga tidak harus menjadi atlit. Begitu pula dengan membaca, tidak harus menjadi seorang penulis, namun setidaknya wawasan kita bertambah, dan sekaligus juga akan bisa menulis dengan suka membaca.

Analogi olahraga itu sinkron dengan kondisi sekarang. Indonesia saat ini memang sedangan membutuhkan orang-orang sehat, bugar, kuat, dan bermentalkan pejuang. Saat ini salah satu bentuk perjuangan yang harus dilakukan oleh generasi muda ialah dalam bentuk menulis. Berjuang untuk menggapai semua mimpi para pemimpin atau pejuang pendahulu kita, menjemput ketertinggalan Indonesia selama ini oleh negara lain. Para generasi harus bisa mengaktualisasi diri dengan berbagai karya dalam bentuk tulisan, baik tentang seni, sastra, budaya, kuliner, pendidikan, agama, bahkan politik. Lahirnya penulis-penulis muda di Indonesia, harapannya bisa lebih mencerdaskan generasi muda lainnya.

Permasalahannya zaman sekarang banyak kaum muda yang tidak mampu dan juga tidak mau menulis. Bukan hanya itu, para pendidik pun banyak tidak bisa menulis, terutama dosen dan guru dengan berbagai alasan klasik. Alasan yang sering didengar itu bukan hanya karena tidak mampu menulis dan punya ide, tapi mereka berdalih tidak punya waktu untuk menulis. Padahal “tidak punya waktu” itu saja sudah bisa dijadikan bahan untuk dijadikan sebuah tulisan menarik. Begitu pula mahasiswa, menulis hanya ketika ada tugas dari dosen. Ujung-ujungnya karya tulis yang pernah dihasilkan hanya sebatas Tugas Akhir (TA), skripsi, atau tesis. Mirisnya lagi, guru bahasa pun masih ada yang berkata tidak bisa menulis, dan bahkan belum punya karya tulis.

Salah besar jika sekiranya banyak opini yang menyebutkan menulis itu hal yang sulit. Padahal pada dasarnya menulis itu merupakan sesuatu hal yang mudah, karena yang dibutuhkan hanyalah “menulis, menulis, dan menulis”. Maksudnya, jika ingin bisa menulis tentu harus punya kemauan untuk menulis itu sendiri (memulai). Kegagalan seseorang tidak bisa menulis penyebabnya hanya karena tidak mau memulai menulis. Sekarang ini hampir setiap orang punya smartphone dan selalu menulis status di wall akun media sosialnya. Jika ini dimanfaatkan, status-status yang diekspos di media sosial bisa menjadi tulisan yang sangat menarik, apik, dan berkualitas, dibanding curhat bebas dan ngalay.

Berdasarkan informasi di kompas.com, Kepala Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi Nasional Republik Indonesa (JPIN-RI) menyatakan minat baca penduduk Indonesia rendah disebabkan usia 10 tahun ke atas lebih suka menonton televisi. Hal itu merujuk pada data Badan Pusat Statisti tahun 2012, dengan angka 91, 58 persen. Artinya hanya 17,58 persen penduduk yang gemar membaca buku, surat kabar, atau majalah. Tahun 2015 Perpustakaan Nasional melakukan kajian pada 12 provinsi dan 28 kabupaten yang mencakup 75 persen seluruh wilayah Indonesia. Hasil kajiannya menyatakan minat baca masyarakat hanya pada angka 25,1 atau kategori rendah. Padahal agar bisa menulis lebih baik, membaca adalah resep yang paling ampuh.

Menuntun, Bukan Menuntut
Rendahnya budaya baca sangat berpengaruh besar pada kemampuan menulis seseorang. Tentu ini menjadi catatan penting bagi kita semua, agar menggalakkan budaya baca sehingga bisa meningkatkan kemampuan menulis di kalangan masyarakat. Budaya membaca dan menulis ini harus ditanamkan pada generasi muda sejak dini. Terutama sekali ini merupakan wewenangnya kaum pendidik untuk bisa berperan aktif dalam mengajak para peserta didik (siswa/mahasiswa) untuk cinta membaca dan menulis. Bukan saatnya lagi pendidik untuk menyuruh, tapi lebih diutamakan untuk mengajak.

Para pendidik biasanya kebanyakan sibuk menulis hanya untuk mengejar financial saja. Mayoritas guru menulis hanya untuk mengantongi selembar kertas sertifikasi, sebagai syarat untuk mendapat tunjangan gaji. Begitu pula kebanyakan dosen, yang menulis hanya untuk mendapatkan dana bantuah atau hibah dari pemerintah. Anehnya guru dan dosen selalu berkoar-koar agar anak didiknya mampu, dan rajin menulis. Menyedihkan sekali rasanya jika ilmu yang begitu besar dianugerahkan Tuhan hanya sekedar untuk materi secuil. Alangkah rendahnya harga sebuah tulisan kita, padahal ilmu dan tulisan kita bahkan bisa tidak terbayarkan dengan apapun.

Hasilnya banyak para sarjana tidak mampu menulis, sekalipun keluar dari “pabrik” yang memproduksi kaum intelektual yang sejatinya mampu berkarya (menulis). Hal ini tentu karena memang dari proses pendidikan hanya didikte secara teori saja, bukan dituntun untuk mampu menulis. Akibatnya sarjana tidak pernah mempunyai karya tulis selain Tugas Akhir (TA), Skripsi, atau Tesis. Tentunya tugas pendidik, baik guru atau dosen sudah seharusnya bukan hanya menuntut anak didiknya untuk bisa menulis, tapi lebih penting menuntun dengan sama-sama menulis. Salah satunya, para pendidik harus memulai lebih dulu untuk mampu menulis, dengan menunjukkan tulisan yang seharusnya dibuat. Celakanya pendidik menuntut peserta didik untuk menulis, namun pendidik sendiri pun tidak pernah memulai untuk menulis.

Sudah saatnya kita, terutama kaum pendidikan, kaum intelektual, serta pemerintah mengajak masyarakat, terutama generasi muda untuk bergerak maju dengan sebuah gerakan “Ayo Menulis”. Tentu modal penting yang tidak dilupakan ialah juga dengan menanamkan cinta membaca pada hati generasi muda. Hal ini tentu apabila segala sesuatu dimulai dengan hati, juga akan melahirkan sesuatu yang lebih harmoni. Begitu pula halnya dengan membaca dan menulis. Jika membaca yang menghayati dengan hati pasti akan menghasilkan tulisan lebih berkualitas tinggi pula.

Caranya mudah, mulailah melakukan hal yang sederhana. Misalnya jika selama ini suka berselancar di media sosial, seperti facebook, twitter, dan media sosial yang lainnya, manfaatkan situasi tersebut sebagai langkah awal untuk gemar membaca. Contohnya dengan membaca informasi, baik berita, jurnal, artikel, dan sebagainya di media social tersebut sebagai sumber ilmu atau penambah wawasan. Kemudian, mulailah terbiasa untuk menulis sesuatu yang bermanfaat di media sosial tersebut, misalnya berbagi pengalaman, tips, cerita, dan sebagainya (tapi bukan curhatan lebay dan ngalay).

Kegemaran “berenang” di media sosial seperti itu lambat laun akan membawa dampak postif yang lebih besar, terutama dalam hal membaca dan menulis. Artinya kita harus mampu memanfaatkan teknologi untuk menambah wawasan, sekaligus juga menggali potensi menulis yang ada pada diri kita. Jangan salah menempatkan posisi di media sosial. Justru kita pandai “mengayuh” nya gemar membaca tersebut akan memberikan ide-ide yang cemerlang, meskipun hanya dari media sosial. Yakinlah lambat laun juga kita akan “haus” informasi, sehingga bisa berilah hobi membaca buku (fiksi dan non-fiksi), koran, majalah, dan sebagainya. Akhirnya juga akan berdampak pada hobi menulis ke hal yang lebih serius, misalnya menulis di website pribadi atau blog, bahkan bisa menjadi sebuah buku.

Ayo kaum pendidik, dan kaum intelektual muda, mari menggemakan budaya membaca dan menulis. Sekarang saatnya kita sama-sama menuntun generasi muda agar mau menulis, karena menuntut sudah menjadi barang basi. Tentunya pemerintah juga sangat berperan penting dalam hal ini. Tanpa dukungan pemerintah gerakan “AyoMenulis” ini bagaikan sayur tanpa garam. Hal ini tentu jika semua pihak mendukung, terutama sokongan dari pemerintah, generasi muda akan lebih bersemangat untuk menulis. Namun yang lebih penting lagi ialah semangat pada diri generasi muda itu sendiri.

Artinya generasi harus menyikapi dan merenungkan pentingnya menulis. Tentu hal ini karena bangsa yang besar juga dilihat dari karya kreatif anak-anak bangsa (menulis). Tanpa menulis, nanti generasi depan bangsa tidak akan bisa membaca sejarah bangsa Indonesia sebelumnya. Harapannya dengan banyaknya penulis muda yang lahir, semoga mampu melanjutkan cita-cita pendahulu bangsa ini. Salah satunya dengan mempunyai kesadaran pentingnya menulis untuk masa depan Indonesia yang lebih baik, sesuai motivasi dan cita-cita “Founding Fathers” bangsa ini, membangun bangsa dengan menulis. Semoga.*

# Tulisan ini dikutsertakan dalam lomba blog Indonesia Menulis
Share:

TERKINI

POPULER

Ragam

TERKINI

ARSIP

TOTAL PENGUNJUNG